Breaking News

Berita Viral

Dampak Perang Iran: Pakistan Naikkan Harga BBM 43 Persen untuk Bensin dan 55 Persen untuk Solar

Pakistan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global akibat perang yang terjadi di Timur Tengah.

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/X
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan penutupan sekolah hingga akhir bulan serta penerapan kerja jarak jauh bagi sebagian pekerja. Selain itu, pemerintah juga memangkas berbagai pengeluaran negara, termasuk memotong gaji pejabat tinggi dan larangan bepergian ke luar negeri. Langkah penghematan besar-besaran ini dilakukan mulai Senin (9/3/2026). 

TRIBUN-MEDAN.COM - Pakistan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global akibat perang yang terjadi di Timur Tengah.

Diketahui, negara Asia Selatan ini mengimpor sebagian besar minyak mentahnya dari kawasan Teluk Timur Tengah, terutama dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melalui Selat Hormuz.

Merespons kenaikan harga minyak dunia ini, Pemerintah Pakistan menaikkan harga bensin sebesar 43 persen dan harga solar 55 persen.

Menteri Energi Pakistan Ali Pervaiz Malik mengumumkan pada Kamis (2/3/2026) bahwa kenaikan tersebut membuat harga bensin menjadi 6,25 dollar AS (sekitar Rp 106.000) per galon dan solar sekitar 7 dollar AS (sekitar Rp 118.000) per galon.

"Kenaikan harga tak terhindarkan karena harga pasar internasional tak terkendali setelah perang AS-Iran," kata Ali Pervaiz Malik dilansir dari CNN. 

Bulan lalu, Pakistan menaikkan harga konsumen untuk solar dan bensin sekitar 20 persen, dengan alasan kenaikan harga minyak yang dipicu oleh perang Iran. 

Pengguna sepeda motor akan menerima subsidi sebesar 100 rupee Pakistan (sekitar Rp 6.000) per liter bahan bakar selama tiga bulan, dengan batasan maksimal 20 liter per bulan.

Menurut laporan Reuters, subsidi tersebut bertujuan untuk memberikan bantuan kepada petani kecil, pengendara sepeda motor, dan transportasi barang dan penumpang antar kota.

Sementara, Menteri Keuangan Pakistan Muhammad Aurangzeb mengatakan, pemerintah telah memberikan subsidi sebesar 129 miliar rupee Pakistan (sekitar Rp 7,8 triliun) dalam tiga minggu terakhir. 

Namun, hal itu tidak lagi mampu dilakukan oleh pemerintah karena kenaikan harga minyak internasional.

"Oleh karena sumber daya terbatas dan belum ada tanda-tanda perang ini akan berakhir, tidak mungkin untuk melanjutkan subsidi secara menyeluruh," kata Muhammad Aurangzeb.

Ekonom: APBN Hanya Mampu Tahan Kenaikan BBM dalam Hitungan Minggu

Sementara, di Indonesia, sejumlah ekonom menilai kemampuan fiskal negara hanya bisa menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam jangka pendek atau beberapa minggu ke depan di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.

Jika kebijakan menahan BBM itu dipaksakan terus, maka pemerintah mesti menambah utang atau memangkas besar-besaran bujet kementerian atau lembaga termasuk transfer ke daerah yang dampaknya bakal terasa di kemudian hari.

Sebelumnya, pemerintah menyatakan belum akan mengubah harga BBM dan mengeklaim stok BBM di Indonesia masih terkendali. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved