Banjir dan Longsor di Sumatera
Tumpukan Kayu dan Lumpur Tebal Menjadi Hambatan Utama Korban Bencana Sulit Mendapatkan Bantuan
Kayu-kayu tersebut memenuhi area pemukiman hingga fasilitas pendidikan, seperti yang terjadi di Pondok Pesantren Darul Mukhlishin
TRIBUN-MEDAN.COM - Banjir bandang yang turut melanda Kabupaten Aceh Tamiang telah meninggalkan dampak besar bagi ribuan warga, terutama di Desa Menang Gini yang hingga kini, Senin (8/12/2025), masih terisolasi akibat tumpukan kayu gelondongan yang menutup akses jalan utama.
Sepekan setelah bencana, tujuh kecamatan masih sulit dijangkau, termasuk Kejuruan Muda, Sekerak, Rantau, Bendahara, Tamiang Hulu, Seruway, dan Karang Baru.
Jalur darat tertutup material banjir, memaksa warga berjalan belasan kilometer melalui hutan dan perbukitan demi mendapatkan kebutuhan dasar. Distribusi bantuan hanya bisa dilakukan melalui udara, sungai, dan berjalan kaki.
Keterbatasan bahan bakar minyak menjadi kendala utama, dengan hanya satu SPBU yang beroperasi jauh dari pusat kota.
Bantuan tahap pertama telah disalurkan, namun masih perlu diperkuat agar menjangkau seluruh pengungsi.
Salah satu desa yang paling terdampak adalah Desa Menang Gini, di mana tumpukan kayu-kayu gelondongan menutup akses jalan dan membuat wilayah tersebut benar-benar terisolasi.
Kondisi ini menyebabkan bantuan bagi korban banjir Sumatera sulit dijangkau, sementara kebutuhan warga semakin mendesak setelah lebih dari sepekan bencana terjadi.
Tumpukan material banjir berupa kayu gelondongan dan lumpur tebal menjadi hambatan utama.
Kayu-kayu tersebut memenuhi area pemukiman hingga fasilitas pendidikan, seperti yang terjadi di Pondok Pesantren Darul Mukhlishin di Desa Tanjung Karang, Karang Baru.
Akibatnya, warga terpaksa berjalan belasan kilometer hanya untuk mendapatkan makanan dan minuman.
Jalur darat yang tertutup membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain menembus hutan atau menyusuri wilayah perbukitan demi bertahan hidup.
Juru Bicara Pemkab Aceh Tamiang, Agusliyana Devita, menjelaskan bahwa terdapat tujuh kecamatan yang hingga kini masih sulit diakses. “Umumnya desa yang sulit dijangkau berada di bagian hulu dan sebagian hilir,” ujar Agusliyana.
Dengan kondisi akses darat yang tertutup, distribusi bantuan hanya dapat dilakukan melalui tiga cara: udara, sungai, dan berjalan kaki. “Yang jalan kaki digotong bantuannya, karena tidak bisa masuk kendaraan roda dua,” jelas Agusliyana.
Bantuan tahap pertama telah disalurkan melalui metode tersebut. Namun, proses distribusi tetap terkendala keterbatasan bahan bakar minyak (BBM).
Para camat juga melaporkan bahwa hanya satu SPBU yang masih beroperasi, yaitu SPBU Seumadam, itupun berada jauh dari pusat kota. “Harapannya SPBU segera aktif untuk memudahkan mobilisasi logistik dan transportasi evakuasi,” tambahnya.
| Hashim Sebut Presiden Prabowo Buka Ruang Pengajuan Keberatan bagi 28 Perusahaan yang Izinnya Dicabut |
|
|---|
| Bos Danantara Rosan Pastikan Perminas Kelola Tambang Emas Martabe, Perusahaan Lain Segera Dibahas |
|
|---|
| USAI Izin PT Agincourt Resources Dicabut, Mensesneg Sebut Tambang Emas Martabe Akan Dikelola Mind ID |
|
|---|
| SKEMA TERBARU Bantuan Korban Banjir Sumatera, Lauk Pauk Rp 15.000/Orang/Hari dan Perabotan Rp 3 Juta |
|
|---|
| Saham United Tractors dan Astra Anjlok Imbas Izin Tambang Emas Martabe PT Agincourt Dicabut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/TUMPUKAN-KAYU-di-aceh-tamiang.jpg)