Banjir Bandang Batangtoru

Awal Mula Berpindahnya Sungai Garoga, 'Tsunami Kayu' Hilangkan Desa Perbatasan Tapsel

Kayu-kayu gelondongan dalam jumlah besar terus berdatangan. Seperti 'tsunami kayu'--jumlahnya hampir ribuan.

TRIBUN MEDAN/Azis Husein Hasibuan
SUNGAI BARU - Penampakan munculnya sungai baru Garoga pascabanjir bandang, Kamis (4/12/2025). Sungai baru ini dijadikan warga sebagai tempat menyeberang dari Desa Garoga ke Desa Anggoli. 

TRIBUN-MEDAN.com - Berpindahnya arus Sungai Garoga, Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel), dianggap sebagian warga menjadi salah satu sebab banjir bandang menghantam rumah mereka.

Kondisi sungai sebelum banjir bandang terjadi terdapat dua aliran. Warga menyebutnya Sungai Garoga 1 dan Sungai Garoga 2.

Desa Garoga berada di tengah-tengah kedua sungai. Warga di sana seperti tinggal di sebuah pulau. Letak desa berada lebih rendah dengan jalan raya.

Pada Senin, 24 November 2025 sekitar pukul 23.30 WIB, Sungai Garoga sebenarnya sudah memberikan tanda-tanda akan meluap. Debit air mulai naik masuk hingga ke jalan.

Selanjutnya dini hari pukul 03.00 WIB Sungai Garoga semakin meluap, masuk ke rumah-rumah warga. Namun yang anehnya, air sungai surut pada 08.00 WIB. 

Atas situasi ini Kepala Desa Garoga Risman Rambe didatangi Kepala Puskesmas Batangtoru Elida Batubara.

Saat itu, mereka menyikapi kondisi ini dengan membuat beberapa persiapan tanggap banjir. Termasuk mendirikan dapur umum.

Risman memutuskan untuk belanja keperluan dapur umur ke desa tetangga, Anggoli. Sepulangnya dari sana, mobil tak bisa lewat. Air meluap lagi. Itu terjadi pukul 11.00 WIB.

Luapan air Sungai Garoga sudah sedada orang dewasa. Ia segera memerintahkan warga untuk segera dievakuasi.

'Tsunami Kayu'

KAYU GELONDONGAN - Penampakan kayu Gelondongan di Sungai Garoga 2 pacabanjir bandang, Kamis (4/12/2025). Kayu ini gelondongan ini menutup arus sungai di jembatan hingga membuatnya berpindah ke arah pemukiman warga.
KAYU GELONDONGAN - Penampakan kayu Gelondongan di Sungai Garoga 2 pacabanjir bandang, Kamis (4/12/2025). Kayu ini gelondongan ini menutup arus sungai di jembatan hingga membuatnya berpindah ke arah pemukiman warga. (TRIBUN MEDAN/Azis Husein Hasibuan)

Pada momen inilah banjir bandang terbesar datang dari hulu sungai. Banjir membawa kayu gelondongan.

Air banjir awalnya masih lancar melintasi kedua jembatan di Sungai Garoga.

Tapi itu hanya sebentar saja. Kayu-kayu gelondongan dalam jumlah besar terus berdatangan. Seperti 'tsunami kayu'--jumlahnya hampir ribuan.

Inilah yang membuat luap air di jembatan di Sungai 2 Garoga tak bisa mengalir lagi. Kayu tersangkut. Jembatan jebol.

'Tsunami kayu' ini kemudian mencari arus baru hingga melebar ke sisi kanan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved