TRIBUN WIKI
Mengenal Tradisi dan Filosofi Kupatan atau Lebaran Ketupat
Tradisi kupatan atau Lebaran Ketupat adalah tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, terutama di Jawa setelah 7 hari Idul Fitri.
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Ringkasan Berita:
- Lebaran Ketupat atau kupatan jatuh pada hari ini, 28 Maret 2026
- Kupatan atau Lebaran Ketupat adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, setelah 7 hari pelaksanaan Lebaran atau Idul Fitri
- Kupatan ini awalnya dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga
- Pada masanya, Sunan Kalijaga mengajak umat muslim di Jawa untuk melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawa. Setelah menjalankan puasa sunnah enam hari, mereka pun mengadakan tradisi kupatan atau Lebaran Ketupat
TRIBUN-MEDAN.COM,- Siapa nih diantara kalian yang pernah mendengar istilah kupatan atau Lebaran Ketupat?
Ya, kupatan atau Lebaran Ketupat adalah tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, terutama di Jawa.
Lebaran Ketupat atau kupatan merupakan kegiatan perayaan hari ketujuh setelah Idul Fitri.
Baca juga: Masak Lontong Medan di Berlin, Cara Muhammad Syahreza Obati Rindu Tradisi Lebaran di Kampung Halaman
Ada juga yang merayakannya di hari ke delapan.
Pada momen ini, masyarakat akan memasak ketupat dan saling bersilaturahmi serta bermaaf‑maafan.
Lalu, dari mana akar budaya ini?
Apakah tradisi ini baru ada di era kekinian?
Baca juga: Masjid Raya Petumbukan: Tradisi Bubur Lambok dan Sejarah Panjang Ramadan
Untuk melihat lebih detail akar budaya kupatan atau tradisi Lebaran Ketupat ini, kami sudah merangkumnya secara singkat untuk pembaca, agar lebih mudah dipahami.
Awal Mula Tradisi Kupatan
Tradisi kupatan diyakini berasal dari era Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga pada masa Kesultanan Demak abad ke‑16.
Baca juga: Cap Go Meh dan Tradisi Tatung: Ritual Sakral Simbol Komunikasi Budaya
Pada masa itu, Sunan Kalijaga menggabungkan dakwah Islam dengan budaya lokal Jawa.
Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah “Bakda Lebaran” (hari raya Idulfitri) dan “Bakda Kupat” (Lebaran Ketupat) sebagai bentuk dakwah simbolis.
Pada masa itu, Sunan Kalijaga dan para wali lainnya kerap mengajak masyarakat untuk kembali melaksanakan puasa sunnah selepas menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Baca juga: Tradisi Sejak 1960, Bubur India Selatan di Masjid Ghaudiyah Medan Tetap Bertahan hingga Ramadan 2026
Puasa sunnah itu adalah puasa Syawal yang dilaksanakan selama enam hari.
Oleh karena itu, ketika masyarakat selesai menjalankan puasa enam, mereka pun merayakannya dengan mentantap ketupat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kupatan-atau-Lebaran-Ketupat.jpg)