TRIBUN WIKI

Mengenal Tradisi dan Filosofi Kupatan atau Lebaran Ketupat

Tradisi kupatan atau Lebaran Ketupat adalah tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, terutama di Jawa setelah 7 hari Idul Fitri.

Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
SURYA/HABIBUR ROHMAN
KULIT KETUPAT - Jelang "Lebaran Ketupat" yang berlangsung sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri 2026 (1447 H) pedagang di kawasan Pasar Keputran mulai menawarkan daun kelapa (janur) dan ketupat siap isi, Kamis (26/3/2026). Berbagai variasi ketupat ini ditawarkan secara paket (satu ikat) yang berisi sepuluh dengan harga 15 ribu rupiah dan bisa dipesan sesuai dengan kebutuhan. (SURYA/HABIBUR ROHMAN) 

Ringkasan Berita:
  • Lebaran Ketupat atau kupatan jatuh pada hari ini, 28 Maret 2026
  • Kupatan atau Lebaran Ketupat adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, setelah 7 hari pelaksanaan Lebaran atau Idul Fitri
  • Kupatan ini awalnya dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga
  • Pada masanya, Sunan Kalijaga mengajak umat muslim di Jawa untuk melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawa. Setelah menjalankan puasa sunnah enam hari, mereka pun mengadakan tradisi kupatan atau Lebaran Ketupat

 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Siapa nih diantara kalian yang pernah mendengar istilah kupatan atau Lebaran Ketupat?

Ya, kupatan atau Lebaran Ketupat adalah tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, terutama di Jawa.

Lebaran Ketupat atau kupatan merupakan kegiatan perayaan hari ketujuh setelah Idul Fitri.

Baca juga: Masak Lontong Medan di Berlin, Cara Muhammad Syahreza Obati Rindu Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

KETUPAT- Saat Idul Adha atau Idul Fitri, ketupat menjadi sajian utama untuk keluarga di rumah. Ketupat bisa disantap bersama kuah gulai, kari, ataupun bumbu kacang.
KETUPAT- Saat Idul Adha atau Idul Fitri, ketupat menjadi sajian utama untuk keluarga di rumah. Ketupat bisa disantap bersama kuah gulai, kari, ataupun bumbu kacang. (Pinterest/Naufal Comel)

Ada juga yang merayakannya di hari ke delapan.

Pada momen ini, masyarakat akan memasak ketupat dan saling bersilaturahmi serta bermaaf‑maafan.

Lalu, dari mana akar budaya ini?

Apakah tradisi ini baru ada di era kekinian?

Baca juga: Masjid Raya Petumbukan: Tradisi Bubur Lambok dan Sejarah Panjang Ramadan

Untuk melihat lebih detail akar budaya kupatan atau tradisi Lebaran Ketupat ini, kami sudah merangkumnya secara singkat untuk pembaca, agar lebih mudah dipahami.

Awal Mula Tradisi Kupatan

Tradisi kupatan diyakini berasal dari era Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga pada masa Kesultanan Demak abad ke‑16.

Baca juga: Cap Go Meh dan Tradisi Tatung: Ritual Sakral Simbol Komunikasi Budaya

Pada masa itu, Sunan Kalijaga menggabungkan dakwah Islam dengan budaya lokal Jawa.

Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah “Bakda Lebaran” (hari raya Idulfitri) dan “Bakda Kupat” (Lebaran Ketupat) sebagai bentuk dakwah simbolis.

Pada masa itu, Sunan Kalijaga dan para wali lainnya kerap mengajak masyarakat untuk kembali melaksanakan puasa sunnah selepas menjalankan ibadah puasa Ramadan.

KETUPAT LEBARAN- Saat Idul Fitri, hal yang tak boleh ketinggalan adalah ketupat lebaran. Menu yang satu ini menjadi santapan wajib saat momen kumpul keluarga.
KETUPAT LEBARAN- Saat Idul Fitri, hal yang tak boleh ketinggalan adalah ketupat lebaran. Menu yang satu ini menjadi santapan wajib saat momen kumpul keluarga. (Pinterest/Naufal Comel)

Baca juga: Tradisi Sejak 1960, Bubur India Selatan di Masjid Ghaudiyah Medan Tetap Bertahan hingga Ramadan 2026

Puasa sunnah itu adalah puasa Syawal yang dilaksanakan selama enam hari.

Oleh karena itu, ketika masyarakat selesai menjalankan puasa enam, mereka pun merayakannya dengan mentantap ketupat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved