Ramadan 2026

Masak Lontong Medan di Berlin, Cara Muhammad Syahreza Obati Rindu Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Reza saat ini sedang menjalani studi di Berliner Hochschule für Technik, salah satu perguruan tinggi di Berlin.

Penulis: Istiqomah Kaloko | Editor: Ayu Prasandi
IST
PUASA DI NEGERI ORANG: Muhammad Syahreza, Mahasiswa asal Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara yang sedang menempuh pendidikan di Berliner Hochschule für Technik, Berlin. 

TRIBUN-MEDAN.com- Bagi banyak perantau, Ramadan dan Lebaran sering kali menjadi momen yang paling menghadirkan rasa rindu pada kampung halaman.

Perbedaan budaya, suasana, hingga jarak dengan keluarga tak jarang membuat momen ibadah terasa berbeda.

Hal itulah yang dirasakan Muhammad Syahreza, mahasiswa asal Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, yang kini menempuh studi arsitektur di Berlin, Jerman.

Sudah tujuh tahun Reza tinggal di Jerman. Selama itu pula ia menjalani Ramadan jauh dari keluarga dan suasana khas bulan suci di Indonesia. Ramadan tahun ini pun menjadi Ramadan ketujuh yang ia jalani di negeri orang.

Reza saat ini sedang menjalani studi di Berliner Hochschule für Technik, salah satu perguruan tinggi di Berlin.

Ketertarikan Reza untuk melanjutkan pendidikan ke Jerman sebenarnya sudah muncul sejak ia masih duduk di bangku SMA.

Namun, keterbatasan bahasa membuat rencana itu sempat tertunda. Ia kemudian memutuskan kuliah terlebih dahulu di Indonesia setelah diterima melalui jalur undangan di Universitas Sumatera Utara dengan jurusan arsitektur.

Sayangnya, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Mahasiswa yang kini menempuh semester tujuh tersebut diketahui mengalami buta warna parsial sehingga tidak dapat melanjutkan studi di jurusan arsitektur di kampus tersebut. Ia kemudian dipindahkan ke jurusan teknik sipil.

“Karena merasa belum puas dengan kuliah waktu itu dan jurusan yang sebenarnya ingin saya ambil belum tercapai, saya mulai mencari tahu apakah di Jerman seseorang dengan buta warna parsial masih bisa kuliah arsitektur. Ternyata memungkinkan,” ujarnya.

Berbekal informasi tersebut, Reza akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikan ke Jerman dan kembali menekuni jurusan arsitektur.

Selama tujuh tahun tinggal di Jerman, Reza mengaku tidak mengalami hambatan berarti dalam menjalankan ibadah puasa. Meski demikian, suasana Ramadan tentu terasa berbeda dibandingkan di Indonesia.

Menurutnya, perbedaan paling terasa adalah karena umat Muslim merupakan minoritas di Jerman. Mayoritas masyarakat disana tidak menjalankan Ramadan sehingga nuansa khas bulan puasa tidak begitu terasa di kehidupan sehari-hari.

“Kalau di Indonesia kan menjelang sore biasanya orang mencari takjil atau berbuka bersama teman-teman lalu tarawih di masjid. Di sini suasananya berbeda karena banyak yang tetap bekerja atau kuliah seperti biasa,” kata Reza.

Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga suasana Ramadan dengan berkumpul bersama teman-teman sesama mahasiswa Indonesia maupun komunitas Muslim lainnya di Berlin. Biasanya mereka mengadakan buka puasa bersama seminggu sekali atau dua minggu sekali.

Selain itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin juga kerap mengadakan kegiatan Ramadan seperti buka puasa bersama dan salat tarawih berjamaah. Kegiatan tersebut menjadi salah satu momen yang mempererat hubungan sesama diaspora Indonesia di kota tersebut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved