Berita Samosir

USAI Ritual Manjou dan Mangelek Tondi, Keluarga Nuriati Sinurat Sebut Kebenaran Mulai Terbuka

Setelah jasad Nuriati ditemukan, keluarga melakukan ritual adat Batak di lokasi makam tua tersebut. 

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/Arjuna Bakkara
Makam tua di perladangan jagung yang menjadi lokasi penemuan korban pembunuhan, Nuariati Sinurat, di Desa Aek Nauli, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, masih dipasangi garis kuning polisi pada Minggu (8/3/2026) petang. 

TRIBUN-MEDAN.com - Warga Desa Aek Nauli, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, pernah digemparkan penemuan jasad perempuan muda di dalam sebuah makam tua yang terbengkalai.

Peristiwa itu terjadi pada Senin sore, 21 Juli 2025, ketika warga tengah beraktivitas di ladang.

Jasad itu belakangan diketahui bernama Nuriati Sinurat (32), yang tiga bulan sebelumnya dilaporkan hilang oleh pihak keluarga.

Sosok pertama yang menemukan jasad itu adalah Mardin Sinurat alias MS (45), yang kala itu mengaku sedang membabat batang jagung di ladangnya. 

Mardin Sinurat mengaku sedang beristirahat, lalu membuka pintu tugu tua yang berdiri di tengah kebun tersebut. Di situlah ia melihat tubuh seorang perempuan tergeletak kaku di dalamnya. Ia lantas melaporkan kepada warga serta kepala desa setempat.

Setelah delapan bulan berlalu, jejak pelaku pembunuhan Nuriati terendus oleh polisi. Ia adalah Mardin Sinurat yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan.

Baca juga: MS Jadi Tersangka Pembunuhan Nuriati Sinurat di Samosir Tahun Lalu, AKP Edward:Motif Masih Didalami 

Foto semasa hidup Nuriati Sinurat, korban pembunuhan di Samosir.
Foto semasa hidup Nuriati Sinurat, korban pembunuhan di Samosir. (TRIBUN MEDAN/Arjuna Bakkara)

Ritual Adat Manjou dan Mengelek Tondi

Setelah jasad Nuriati ditemukan, keluarga melakukan ritual adat Batak di lokasi makam tua tersebut. 

Mereka melakukan ritual "manjou dan mengelek tondi", yang artinya memanggil jiwa dan arwah korban agar kembali ke kampungnya.

Ritual ini dilakukan karena tugu makam tua itu diyakini bukan tempat peristirahatan yang semestinya bagi Nuriati. Itu adalah tugu milik orang lain, bukan keluarga besar Nuriati Sinurat.

“Mungkin setelah ritual itu dilakukan, kebenaran akhirnya mulai terbuka,” kata Silvia, sepupu Nuriati, saat diwawancara Tribunmedan.com, Minggu (8/3/2026) petang.

Pada awalnya keluarga sama sekali tidak mencurigai Mardin Sinurat.

Seiring berjalannya waktu, ayah Silvia yang merupakan adik kandung Pandar Sinurat, ayah Nuriati, mulai merasakan kejanggalan.

Ia mempertanyakan bagaimana mungkin selama tiga bulan pelaku tidak mencium bau mayat dari dalam tugu tersebut, padahal ia beraktivitas di ladang jagung di sekeliling lokasi itu.

“Seolah-olah dia yang pertama menemukan mayat itu, lalu menghubungi kepala desa dan memberi tahu keluarga. Padahal dialah pelakunya,” ujar Silvia.

Kecurigaan itu semakin kuat ketika keterangan pelaku berubah-ubah saat dimintai keterangan oleh polisi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved