Anggota TNI Tewas Dianiaya Senior

Tangis Histeris Ibu Pratu Farkhan: Dia Nelepon Saya Sebelum Meninggal

Marsinah tidak menyangka bahwa anaknya telah meninggal dunia dalam tugas yang bukan lain diduga ditangan seniornya sendiri.

|
Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Alif Al Qadri Harahap
Ibu Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Marsinah Wati Silalahi terkulai memeluk bingkai foto anaknya di rumah duka, Dusun IV, Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan, Jumat (2/1/2026). Setelah dikabarkan meninggal dunia dalam tugas di perbatasan Indonesia - Papua Nugini. 

TRIBUN-MEDAN.COM, KISARAN- Tangis Marsinah, ibu Pratu Farkhan, anggota TNI yang meninggal dunia saat bertugas di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini pecah saat menceritakan tentang sang anak.

Sang ibu tampak tak kuasa menahan duka, tubuhnya sedikit terkulai dengan kepala mendongak ke atas, mulut terbuka lebar seolah meluapkan ratapan yang tertahan. 

Air mata dan jeritan kesedihan menyatu dalam ekspresi wajahnya yang menggambarkan kehilangan paling dalam seorang ibu terhadap anaknya.

Dengan kedua tangan, ia mendekap erat bingkai foto Pratu Farkhan, potret sang anak mengenakan seragam loreng TNI seolah tak ingin melepaskan kenangan terakhir. 

Pelukan pada foto itu menjadi simbol ikatan batin yang terputus secara tragis, sekaligus penyangga di tengah ambruknya perasaan. 

Setiap tarikan napasnya tampak berat, menggambarkan amarah, pilu, dan ketidakpercayaan atas kepergian sang anak.

"Dia menelpon saya sebelum meninggal itu, dibilangnya Tuah sakit mak, kayanya tipes atau malaria. Tapi tuah baik-baik aja disini Mak," ujar Ibu Pratu Farkhan, Marsinah Wati Silalahi, Jumat (2/1/2026).

"Tapi anakku tetap aja di pukul dianiaya sama kopral itu. Tak percaya orang itu, anakku sakit," katanya sambil tubuh terkulai tak berdaya.

Marsinah tidak menyangka bahwa anaknya telah meninggal dunia dalam tugas yang bukan lain diduga ditangan seniornya sendiri.

Ayah Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Zakaria Marpaung menunjukan foto anaknya sebelum meninggal dunia di perbatasan Indonesia - Papua Nugini, Jumat (2/1/2025).
Ayah Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Zakaria Marpaung menunjukan foto anaknya sebelum meninggal dunia di perbatasan Indonesia - Papua Nugini, Jumat (2/1/2025). (TRIBUN MEDAN/Alif Al Qadri Harahap)

Prajurit penjaga perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini terpaksa gugur dibawah tangan diduga seniornya yang berpangkat Kopral saat sedang bertugas.

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, dikabarkan meninggal dunia pada Rabu (31/12/2025) yang diduga dibawah tangan seniornya yang berpangkat kopral saat sedang bertugas diperbatasan Indonesia - Papua Nugini.

Ayah Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Zakaria Marpaung mengaku mendapatkan kabar dari keponakannya yang juga bertugas di satuan TNI.

Baca juga: Duka Ayah Pratu Farkhan Syauqi Marpaung: Anak Saya Gugur Bukan Oleh Musuh, Tapi Sesama TNI

Baca juga: Rakor di Aceh, Pemerintah Pusat Puji Kesigapan Bobby Nasution Tangani Bencana

Baca juga: Sumatera Utara Juara Dua Kasus Pembunuhan dan Narkoba se-Indonesia

Kabur tersebut membuat jantung Zakaria nyaris terhenti karena mendengar nyawa anaknya meninggal bukan diujung senjata kelompok sparatis, melainkan di bawah tangan seniornya sendiri.

"Aku bicara hari ini, bukan hanya untuk anakku Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, tapi untuk anak-anak semua yang berada di level terendah di TNI atau tamtama," ujar ayah Korban, Zakaria Marpaung, Jumat (2/1/2025).

Katanya, tantama hingga saat ini masih menjadi bahan Bullyan bagi para seniornya sehingga tidak menutup kemungkinan hingga menjerumus ke kekerasan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved