Sumut Terkini

Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD Menghangat Lagi, Gubsu Bobby: Saya Ikut Kata Gerindra

Wacana ini mengingatkan kembali pada kondisi politik tahun 2014 saat politikus-politikus di DPR menggolkan aturan Pilkada via DPRD.

|
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Gubernur Sumut Bobby Nasution saat diwawancarai di Kantor Pemprov Sumut, Selasa (30/12/2025). Bobby mengatakan, malam tahun baru Pemprov di isi dengan doa bersama dan tidak ada pesta kembang api. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Wacana Kepala Daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menghangat. 

Wacana ini mengingatkan kembali pada kondisi politik tahun 2014 saat politikus-politikus di DPR menggolkan aturan Pilkada via DPRD.

Diketahui, terbaru Partai Gerindra menyampaikan dukungannya terhadap usulan agar pemilihan kepala daerah melalui DPRD

Menanggapi hal itu, Gubernur Sumut Bobby Nasution merespon singkat soal Pemilihan kepala daerah melalui DPRD. 

"Saya ikut kata Gerindra (soal Pilkada dipilih oleh DPRD),"jelasnya saat diwawancarai di Kantor Gubernur Sumut, Selasa (30/12/2025). 

Disinggung mengenai alasan  ia sepakat tersebut, Bobby hanya menjawab singkat dan berulang.

"Saya ikut kata Gerindra," ucapnya. 

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Sugiono menyampaikan,  kepala daerah yang dipilih oleh DPRD akan lebih efisien dari sisi anggaran.

Selain dari sisi anggaran, kepala daerah yang dipilih DPRD juga lebih efisien dalam penjaringan kandidat, mekanisme, anggaran, ongkos politik, hingga pemilihan terlaksana. 

“Gerindra ada dalam posisi mendukung upaya ataupun rencana untuk melaksanakan pemilukada ini oleh DPRD di tingkat bupati, wali kota ataupun di tingkat gubernur," ujar Sugiono dalam keterangannya, Senin (29/12/2025).

Sugiono pun mencontohkan pada 2015, ketika dana hibah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pelaksanaan pilkada menyentuh hampir Rp 7 triliun. 

Angka tersebut meningkat pada 2024, di mana dana hibah dari APBD untuk pelaksanaan pilkada meningkat menjadi lebih dari Rp 37 triliun.

Di samping itu, ia menyoroti ongkos politik calon kepala daerah yang cenderung mahal dan kerap menjadi hambatan bagi sosok yang berkompeten. 

"Biaya kampanye untuk seorang calon kepala daerah, kita terbuka saja, itu angkanya prohibitif. Mahal dan ini yang juga kita harus evaluasi," ujar Sugiono.

"Kita harus cari bagaimana supaya orang-orang yang benar-benar memiliki kemampuan mengabdi kepada masyarakatnya, mengabdi kepada bangsa dan negara itu, bisa maju tanpa harus dihalang-halangi oleh angka dan biaya kampanye yang luar biasa," sambung Menteri Luar Negeri (Menlu) itu. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved