Banjir dan Longsor Tapteng

Tak Ada Bantuan Baju Laki-laki, Penyintas Banjir Pria di Tapteng Terpaksa Kenakan Busana Perempuan

Hampir tiga pekan pasca diterjang banjir bandang, kehidupan para penyintas banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah belum pulih.

|
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Sejumlah penyintas banjir laki-laki di Kelurahan Hutanabolon, Sigiring-giring dan Sipange berburu kebutuhan sandang berupa pakaian, Senin (15/12/2025). Namun sayangnya mereka terpaksa mengenakan pakaian perempuan, karena tak ada ditemukan bantuan berbentuk pakaian laki-laki. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Hampir tiga pekan pasca diterjang banjir bandang, kehidupan para penyintas banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, belum pulih hingga hari ini,  Senin (15/12/2025). 

Masih banyak warga yang dilaporkan hilang, dan masih banyak warga mengungsi serta bertahan di tengah keterbatasan fasilitas yang disediakan.

Selain mengalami krisis  pangan, para penyintas banjir mengalami krisis sandang. Banyaknya bantuan yang masuk, tetapi tidak dibagi secara merata. 

Misalnya, penyintas banjir Kelurahan Hutanabolon, Sipange dan Sigiring-giring. Mereka bukan hanya berebut sembako, tetapi juga berebut baju.  

Hal itu dikarenakan, rumah mereka sudah tersapu banjir dan longsor. hanya sisa pakaian di badan.

Pantauan Tribun Medan, Senin (15/12/2025) para penyintas banjir selalu mengerubungi tempat-tempat relawan yang sedang membagikan bahan pangan dan sandang. 

Namun, saat sandang diturunkan, para penyintas banjir laki-laki selalu berusaha mencari pakaian khusus laki-laki. Namun, sayangnya tak ada satupun pakaian laki-laki yang mereka temukan.

Sambil menghibur diri, mereka pun mencoba pakaian wanita. Bahkan tak jarang mereka membuat lelucon seperti fashion show di tengah bencana yang melanda mereka.

Pakaian gamis-gamis  beserta jilbab mereka pasangkan ke badan mereka. Mereka terpaksa melakukan itu, karena sudah berhari-hari tak berganti pakaian. 

Misalnya, penyintas banjir  dari Kelurahan Sigiring-giring, Juniari Gea.  Ia terpaksa mengenakan pakaian perempuan, sebab seluruh bajunya sudah hanyut terbawa sungai. 

"Ya gimana  mau dibilang, enggak ada  kedapatan bantuan pakaian untuk laki-laki sama sekali. Terpaksalah pakai ini (pakaian perempuan), dari pada tidak berpakaian," ucapnya.

Apalagi, kata  Juniari, setiap bantuan  yang berbentuk sandang, semua  penyintas banjir mulai menyerbu.   

Dikatakannya, karena, rumah warga di Kelurahan Sigiring-giring,  Hutanabolon merata habis di sapu banjir atau tertimbun longsor. Atau bisa dikatakan Kelurahan ini hilang. 

"Jadi rata-rata orang sini merebut pakaian mereka sama anak-anaknya makanya ga dapat kita.  Rumah kami habis dibawa longsor dah banjir," tuturnya.

Diceritakannya, selama bencana, ia juga sempat enggak makan-makan selama beberapa hari.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved