Banjir dan Longsor Tapteng

Meski Getir Rumah Hancur Disapu Banjir, Susiani Masih Berkali-kali Ucap Syukur Keluarganya Selamat

Kondisi memprihatinkan masih terlihat jelas di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, setelah 19 hari dilanda banjir bandang.

Penulis: Fredy Santoso | Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso
KORBAN BANJIR - Susiani, warga Lorong 4, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang kehilangan rumah akibat banjir bandang saat diwawancarai, Sabtu (13/12/2025). Meski terasa getir, ia berkali-kali tetap ucap syukur karena semua keluarganya selamat. 

TRIBUN-MEDAN.com - Kondisi memprihatinkan masih terlihat jelas di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, setelah 19 hari dilanda banjir bandang.

Wilayah ini masih jauh dari kata pulih. Air bersih dan listrik masih sangat terbatas bagi warga.

Amatan Tribunmedan.com, Sabtu (13/12/2025), jalanan di kawasan Tukka masih berlumpur. 

Hal ini diakibatkan bekas-bekas lumpur yang sebelumnya menutup badan jalan diletakkan ke bagian sisi kanan dan kiri jalan. 

Saat hujan maka lumpur yang berada di kedua sisi kembali ke jalanan.

BANJIR TAPTENG - Kondisi sungai di Kecamatan Tukka, yang terpenuhi lumpur dan membuat aliran air meluap ke pemukiman masyarakat, Sabtu (13/12/2025). Penyumbatan aliran sungai dikhawatirkan membuat banjir susulan.
BANJIR TAPTENG - Kondisi sungai di Kecamatan Tukka, yang terpenuhi lumpur dan membuat aliran air meluap ke pemukiman masyarakat, Sabtu (13/12/2025). Sejumlah warga terpaksa mencuci pakai air berlumpur. (TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso)

Banjir juga masih terlihat di sejumlah badan jalan, tepatnya beberapa ratus meter menuju Kelurahan Hutanabolon. 

Air masih mengalir deras. Sepeda motor tak bisa melintas. Mobil pun hanya tipe tertentu yang bisa melintas.

Di sepanjang jalan, terlihat sejumlah warga mencuci pakaian dengan air keruh berwarna kecokelatan.

Selain itu, ada juga warga yang mencuci perkakas makan menggunakan air bercampur lumpur.

Di Kelurahan Hutanabolon, yang termasuk kawasan ujung dari Kecamatan Tukka, listrik masih padam. 

Kondisi ini kian memprihatinkan karena terlihat hanya ada 2 alat berat yang bekerja.

Satu alat berat mengangkut kayu-kayu gelondongan yang menyumbat sungai di jembatan Kampung Martua.

Sedangkan alat berat lainnya difungsikan untuk membuka akses jalan dari Lorong 4, Kelurahan Hutanabolon, ke desa di atasnya yang juga dipenuhi kayu gelondongan.

Banjir berpotensi terjadi lagi jika hujan mengguyyur kawasan ini. Pasalnya, aliran sungai dari Kelurahan Hutanabolon hingga ke jembatan Kampung Martua masih tertutup lumpur. 

Berdasarkan data dari situs infobencana Tapteng, di Kecamatan Tukka terdapat 31 korban meninggal dunia dan 26 orang belum ditemukan atau hilang.

Ucap Syukur meski Terasa Getir

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved