Banjir dan Longsor di Sumut

Kisah Pendeta di Tapteng, Lari ke Bukit Bersama 70 Warga saat Banjir Bandang, 4 Hari Minum Air Hujan

Hujan berkepanjangan membuat banjir bandang disertai longsor di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah.

Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Fredy Santoso
KORBAN LONGSOR - Suziana (43) pendeta Gereja Pentakosta di Indonesia (GPDI) bercerita soal ia dan 70 orang lainnya menyelamatkan diri ke perbukitan saat banjir dan longsor melanda kampung mereka, Sabtu (13/12/2025). Selama 4 hari di bukit dan hutan, mereka minum air hujan, serta makan buah-buahan. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Hujan berkepanjangan membuat banjir bandang disertai longsor di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara pada Selasa 25 November lalu.

Dalam kepanikan, puluhan warga Desa berlari berhamburan menyelamatkan diri ke lokasi lebih aman.

Sekitar 70 orang lebih, naik ke hutan, pegunungan dekat kampung mereka agar selamat.

Dalam keadaan kuyup kedinginan, mereka berlindung dibawah pepohonan hutan.

Kehujanan, kedinginan, dan kelaparan mereka rasakan selama 4 hari demi bertahan hidup dari bencana longsor dan banjir.

Tanpa nasi, ataupun lauk pauk, mereka cuma minum air hujan dan memakan buah-buahan yang ada di atas gunung untuk ganjal perut yang lapar.

Mau turun mencari bantuan pun tak bisa karena sekitar bukit tempat mereka berlindung sudah longsor semua.

Ditambah, akses jalan menuju ke Kelurahan Sipange benar-benar terisolasi.

Dalam gelap tanpa penerangan apapun, bayi, anak muda dan orang tua berkumpul jadi satu demi selamat dari maut.

Seperti itulah yang dirasakan Suziana (43) pendeta Gereja Pentakosta di Indonesia (GPDI) Jalan Sipange Gotti, Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah bersama 70 orang lainnya pada Selasa 25 November lalu.

"Di sana kami bertahan hidup ada sekitar satu pondok itu 70 orang banyak dan di situ ada bayi, manula selama 4 hari,"kata Suziana, Sabtu (13/12/2025).

Suziana menceritakan, pada Selasa 25 November lalu, hujan deras sedang melanda kampung mereka.

Saat itu, seluruh anak-anak sudah berangkat ke sekolah masing-masing.

Rupanya, tiba-tiba banjir bandang datang disertai lumpur dan kayu menghantam pemukiman mereka.

Ia pun panik, langsung menyelamatkan diri, naik ke perbukitan bersama 70 orang lainnya tanpa membawa barang berharga apapun.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved