Banjir dan Longsor di Sumut

Curhat Marni Panggabean, Korban Bencana Alam di Taput yang Sangat Butuh Susu untuk Anak Kembarnya

Seorang korban banjir di Tapanuli Utara mengutarakan dirinya memiliki anak kembar yang sangat membutuhkan susu. 

|
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
KORBAN BANJIR - Seorang ibu bernama Marni Panggabean luapkan kegetiran hatinya sepulang mengambil bantuan sembako dari Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu (6/12/2025). Ia adalah warga Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapteng. 

Mereka saat ini sedang berjaga-jaga akan terjadinya bencana susulan. Melewati sejumlah titik longsor, mereka juga harus mengambil jalan alternatif menyusuri hutan. 

"Ini rencanaya mau ambil sembako ke Desa Parsingkaman. Kita sedang berjaga-jaga, karena stok yang saat ini di aula sudah mulai menipis. Ada sebanyak 30 orang yang tinggal di sana," sambungnya.

Setiap hari, mereka berjalan dari kampungnya menuju Desa Parsingkaman. Hingga saat ini, belasan titik longsor dari Desa Parsingkaman menuju perbatasan Tapteng belum tersentuh alat berat.

Berbagai cara dilakukan para warga sekitar agar bisa melintasi timbunan longsor yang disertai pohon tumbang.

"Kita akan bawa sembako ini ke aula, tempat para pengungsi. Kita datang dari Mompang, Kecamatan Sitahuis," sambungnya.

"Kita mengambil sembako menggunakan jalan kaki. Dan tempat penyaluran bantuan menggunakan helikopter itu masih jauh dari tempat kita," sambungnya.

Semua warga bergotong-royong agar bisa bertahan hidup selama desa mereka terisolasi akibat bencana alam yang telah terjadi dua pekan lalu.

(cr3/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved