Banjir dan Longsor di Sumut

Curhat Marni Panggabean, Korban Bencana Alam di Taput yang Sangat Butuh Susu untuk Anak Kembarnya

Seorang korban banjir di Tapanuli Utara mengutarakan dirinya memiliki anak kembar yang sangat membutuhkan susu. 

|
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
KORBAN BANJIR - Seorang ibu bernama Marni Panggabean luapkan kegetiran hatinya sepulang mengambil bantuan sembako dari Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu (6/12/2025). Ia adalah warga Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapteng. 

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Saat kembali dari Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, wartawan Tribun Medan bertemu seorang ibu yang baru saja pulang dari Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput untuk menjemput bantuan sembako. 

Saat mengambil video suasana warga sekitar pada hari ini, Sabtu (6/12/2025), ia sontak mendekat ke kamera dan mengatakan dirinya memiliki anak kembar yang sangat membutuhkan susu. 

"Aku memiliki dua anak kembar, sangat membutuhkan susu," tutur Marni Panggabean sembari berlalu.

Tak banyak kata yang disampaikannya, ia benar-benar sangat butuh uluran tangan di tengah bencana yang sedang mereka alami. 

"Aku dapat beras. Sampai kutinggalkan anak bayiku kembar," tuturnya.

Ia terlihat menjinjing sejumlah sembako berbungkus plastik. Sepotong kayu yang berada di tangan kanannya menopang tubuhnya saat melalui jalanan berlumpur dan masih tertimbun material longsor.

Ia terlihat capek karena perjalanan panjang.

Kakinya dipenuhi lumpur dan ia mesti melepas sandal jepitnya karena takut terjatuh saat melintas di hutan yang jalannya menanjak dan menurun.

Hutan yang mereka lalui dipenuhi pohon karet atau yang sering mereka sebut hapea.

Tak hanya itu, semak belukar juga mereka lalui. Rumput jenis pakis dan memilki batang yang kecil dan tajam bisa saja menembus kaki karena mereka memilih tanpa alas kaki saat melintas. 

Ia berjalan bersama rombongan pencari bantuan sembako dari berbagai dusun yang ada di Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapteng. Mereka mesti habiskan waktu sekitar 3 hingga 4 jam dari tempatnya masing-masing. 

Sepanjang jalan, terlihat seratusan kaum ibu, bapak, bahkan anak-anak berbaris sambil membawa bantuan sembako yang baru saja didapatkan dari Desa Parsingkaman.

Hal sama juga disampaikan seorang remaja Andre Andika Simamora (17), warga Mompang, Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapteng.

Ia datang ke Parsingkaman bukan semata-mata untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya, namun untuk memenuhi kebutuhan pangan warga sekitar.

Di Mompang, Desa Nagatimbul, ada sekitar 30 orang pengungsi yang tinggal pada sebuah aula.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved