Soft Launching Geofest 2026, Isu Pariwisata Berkelanjutan Jadi Perhatian
festival dilaksanakan di tiga geopark, masing-masing Raja Ampat UGGp (pre-event), Toba Caldera UGGp (main event), dan Lenggong Perak UGGp
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Geo Festival (Geofest) 2026 diluncurkan untuk menandai dimulainya segala kegiatan festival yang dilaksanakan di tiga geopark, masing-masing Raja Ampat UGGp (pre-event), Toba Caldera UGGp (main event), dan Lenggong Perak UGGp (post event).
Soft launching dilaksanakan di Mini Theatre Museum Daerah Sumatera Utara, Kamis (23/4/2026), dengan menghadirkan sejumlah pakar, pejabat pemerintah, stakeholders, dan media.
Juga hadir para mitra strategis untuk mengikat kesepahaman dan rencana kolaborasi kegiatan di masa mendatang melalui penandatanganan MoU.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumut, Yuda P Setiawan, yang diwakili Sekretaris Disbudpar, Ibnu Akbar, memberikan kata sambutan sekaligus membuka secara resmi acara launching dengan pemukulan gong.
Dalam sambutannya, Kadis menekankan pentingnya perubahan arah pengelolaan kawasan Kaldera Toba dari sekadar destinasi danau menjadi tujuan wisata berbasis geopark.
Baca juga: Status Green Card Geopark Tak Cukup, Rapidin dan BPIP Galang Relawan Pancasila Jaga Danau Toba
"Dalam hal ini, maka isu-isu pariwisata berkelanjutan, konservasi, dan edukasi, menjadi perhatian pokok kita. Semua pihak perlu memahami bahwa pekerjaan ini memerlukan keterlibatan yang luas, terutama masyarakat kawasan. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya lagi sekadar dipandang sebagai usaha mendatangkan kunjungan sebanyak-banyaknya, tapi juga mencakup usaha-usaha di bidang konservasi budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat," kata Yudha.
Kegiatan soft launching ini diboboti dengan sesi focus group discussion (FGD) dengan menghadirkan dua narasumber kunci, yaitu M Armand Effendy Pohan (Perencana Ahli Utama Bapperida Provinsi Sumut), dan Budi Sinulingga (Dewan Pakar BP TC-UGGp).
Keduanya memberikan pandangan tentang dua isu utama, yaitu menguatkan integrasi pengelolaan geopark melalui regulasi, serta vitalisasi kelembagaan dengan cara re-organisasi atau perubahan nomenklatur yang disesuaikan dengan misi dan tujuan geopark.
Sekitar 50-an peserta yang diundang secara terseleksi pada acara ini mengikuti isu-isu geopark terkini dengan berbagai tantangannya.
Hadir juga memberikan pandangan dan tanggapan secara daring, penasihat Jaringan Geopark Indonesia (JGI), Farid Mohamad, dan pengurus Lenggong Geopark Perak, Malaysia, Encik Azzam.
Main event Geofest 2026 akan dilaksanakan di Toba Caldera pada tanggal 1-5 Juli 2026, dengan rangkaian acara meliputi aksi konservasi, geo-tour, geo-product exhibition, seminar internasional, pertunjukan budaya, dan diskusi Jaringan Geopark Indonesia.
Diperkirakan, sekitar 200 peserta yang terdiri dari para ahli geologi, manajemen dari berbagai geopark internasional, aktivis lingkungan, aktivis sosial, dan unsur pemerintahan, akan mengikuti program ini dalam rangka menemukan solusi dan cara-cara pengelolaan yang lebih terintegrasi secara internasional dalam memelihara dan memanfaatkan kekayaan geopark dunia untuk kesejahteraan manusia.
| Bangun Paradigma Konservasi melalui OTG, BPTCUGGp Jalankan Tiga Misi Utama Jaga 16 Geosite |
|
|---|
| Geolog UNESCO Terkesan Batuan Vulkanik Toba di Paropo, Pemkab Siapkan Penataan Geopark |
|
|---|
| Polres Samosir Temukan Bukti Penebangan Liar di Hutan Lindung KTH Dosroha, Berbeda Klaim Hoaks BPSSU |
|
|---|
| Dirut BP-ODT, Jimmy B Panjaitan: Saatnya Penguatan SDM untuk Mendukung Geopark |
|
|---|
| Hutan Samosir Dibabat, KPH 13 Bungkam Geopark Terancam, Polres Dengar Kegelisahan Tokoh Lingkungan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Geo-Fest.jpg)