Banjir dan Longsor di Sumut

Ayah Meninggal Tertimbun Longsor di Desa Nagatimbul, Rita Panggabean: Udah Habis Air Mataku

Sebuah tragedi memilukan dirasakan Rita Panggabean (22), seorang warga Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Taput.

|
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Maurits Pardosi
KORBAN LONGSOR - Rita Panggabean (22), warga Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis bercerita kepada tribun-medan pada Rabu (3/12/2025) saat melintas di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput. 

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Sebuah tragedi memilukan dirasakan Rita Panggabean (22), seorang warga Desa Nagatimbul, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Taput. Ayahnya tertimpa timbunan longsor saat ingin membantu warga yang terdampak bencana di Desa Mompang.

Selama ini, ayahnya bersama seorang saudaranya yang mengalami tunarungu. Sementara ia sedang kuliah di Akper Tarutung dan tinggal di asrama.

Kabar meninggalnya ayahnya diketahui pada Jumat (28/11/2025) atau 4 hari setelah kejadian pada Selasa (25/11/2025).

Karena listrik padam dan jaringan internet tidak ada, informasi meninggalnya ayahnya tidak ia dapatkan cepat. Ia mendapatkan informasi tersebut saat seorang tetangga di kampungnya datang ke Tarutung. Lalu, bertemu dengan bibi Rita di Tarutung dan menyampaikan informasi tersebut.

"Ayah meninggal saat kejadian pada Selasa, tanggal 25 November. Itu kami tahu setelah hari Jumat. Itupun kami tahu setelah ada tetangga dari kampung yang jalan kaki ke Tarutung untuk menemui keluarganya," terang

"Hal itu disampaikan kepada bibi saya yang tinggal di Tarutung. Aku sedang berada di Asrama Akper saat itu karena sedang kuliah. Lalu, bibi menyampaikan pesan melalui HP bahwa ayah tertimbun material longsoran namun belum ditemukan," sambungnya.

Setelah diketahui ayahnya meninggal dunia dan belum ditemukan, ia bersama saudara ayahnya pulang ke kampung pada hari Minggu (30/11/2025).

Mereka mesti menyusuri hutan serta timbunan longsor selama 2,5 jam. Mereka hanya bisa menempuh perjalan menggunakan sepeda motor dari Tarutung ke Desa Parsingkaman. Dari Parsingkaman, mereka mesti jalan kaki.

"Hari Minggu, kami putuskan datang ke kampung; aku, bibi, bapak tua dan abang. Kami datang dari Tarutung ke Desa parsingkaman ini naik sepeda motor lalu kami jalan kaki ke  Aek Raisan sekitar 2,5 jam," terangnya.

Mereka juga membawa sembako untuk kebutuhan keluarga di kampung tersebut. Pasalnya mereka mendapatkan informasi bahwa sembako di kampungnya sudah menipis.

"Saat itu, kita membawa sembako karena kami tahu juga bahwa di sana bahan pangan sudah menipis. Kami hanya bisa melihat kuburan ayah. Tak melihat wajahnya lagi setelah ditemukan dan kemudian dimakamkan," tuturnya.

Ia hanya bisa melihat ayahnya sudah dimakamkan. Saat penemuan, wajahnya tak bisa lagi dikenali kecuali kondisi fisiknya.

"Senin (1/12/2025), kami kembali ke Tarutung karena anak bibi saya tidak ada yang menjaga. Kami juga bawa obat-obatan untuk kebutuhan nenek yang tengah sakit di kampung pada Rabu ini," terangnya.

Setelah kembali, mereka kembali lagi ke Desa Nagatimbul pada Rabu (3/12/2025). Namun saat kembali ke Tarutung pada sore hari mereka mesti jalan kaki menyusuri hutan. Mereka habiskan waktu sekitar 2,5 jam hingga tiba di Desa Parsingkaman.

"Pada Rabu sore ini kami kembali lagi ke Tarutung bersama bibi dan saudara saya. Kami sudah berikan obat-obatan nenek. Selama perjalanan, kami hanya bisa menumpangi kendaraan yang tengah lewat," lanjutnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved