Banjir dan Longsor di Sumut
Cerita Leli Papah Suami Sakit dan Gendong Cucu saat Banjir Tapsel, Kini Rumah Rata dengan Tanah
Suasana duka masih menyelimuti warga Desa Hutagodang dan Aek Ngadol Kecamatan Garoga pasca banjir bandang hingga hari ini.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Suasana duka masih menyelimuti warga Desa Hutagodang dan Aek Ngadol Kecamatan Garoga pasca banjir bandang hingga hari ini.
Pantauan Tribun Medan, Rabu (3/12/2025) Pencarian orang hilang masih berlangsung hingga hari ini. Anjing pelacak juga sudah diturunkan untuk pencarian orang hilang.
Selain itu, terlihat ada warga yang merenung di depan rumahnya yang sudah tertimpa kayu dan lumpur tanah. Ada juga yang berupaya membersihkan rumah yang rusak, ada yang menangis dan ada juga warga yang berkunjung untuk melihat desa tersebut.
Jalan di desa itu masih berlumpur tanah dan becek. Sebagian jalan terlihat licin. Tapi rumah-rumah yang rusak itu dikelilingi kayu-kayu besar. Bahkan masih ada mobil rusak yang terparkir di area tersebut.
Sawah-sawah hijau yang tadinya akan panen dalam waktu dekat habis yang tersisa hanyalah tanah lumpur di seluruh sawah tersebut.
Jalan Garoga yang menghubungkan Kabupaten Tapanuli Tengah pun terputus. Saat ini warga yang melintas menggunakan jembatan yang diambil dari kayu-kayu yang turun bersamaan dengan banjir bandang.
Seluruh rumah yang berada di sana, juga sudah rata dengan tanah. Hanya ada sebagian rumah yang berdiri dengan kerusakan cukup parah bahkan pasar yang menjadi pusat pencarian warga juga rata dengan tanah.
Seorang lansia yang tinggal di Hutagodang Leli Batubara mengatakan, kejadian banjir bandang terjadi begitu saja.
"Rumah saya hanyut dalam sekejap. Tinggal pakaian yang dipakai. Banjirnya udah se atap rumah. Cuman tinggal baju di badan," ucapnya.
Selain itu, kata Leli pada saat banjir tiba, ia pun memapah sang suami yang sedang sakit dan menggendong cucunya.
"Sementara anak perempuan saya ditandu karena airnya yang cukup tinggi. Sudah 40 tahun saya tinggal tidak pernah banjir bandang di sini. Baru kali ini terjadi rumah saya hanyut," jelasnya.
Setelah rumah hanyut, Leli juga harus berpindah-pindah dari posko satu ke posko lainnya.
"Saya sudah 4 malam di Posko Puskesmas Batang Toru. Awalnya posko pertama saya di Batu Hula selama 3 malam di sana. Tapi karena bapak sakit (suami) jadi dipindahkan ke puskesmas. Sekarang bapak dirawat pakai oksigen di sini," katanya.
Disinggung apa harapannya untuk pemerintah, ia tak berkata banyak hanya menghela napasnya.
"Na tapikirkan lai (tidak terpikirkan lagi) yang penting sehat dulu bapak," ucapnya.
(Cr5/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Derita Warga Garoga Puasa Sahur Makan Mi Instan |
|
|---|
| Kunjungi Tapteng, Titiek Soeharto dan Kapolri Bawa Bantuan 16 Truk: Semoga Bisa Bermanfaat |
|
|---|
| 33 Korban Banjir dan Longsor Tapanuli Tengah Masih Belum Ditemukan, Begini Kata Basarnas |
|
|---|
| Kepastian Akan Ada Tersangka Banjir Bandang Garoga, Kejagung Terus Dalami Keterlibatan PT TBS |
|
|---|
| Dana Bansos dari Kemensos Tak Kunjung Cair, Warga Hutanabolon Tapteng Masih Tunggu Janji Pemerintah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Leli-korban-banjir-bandang-di-Kampung-Garoga-Tapsel_1.jpg)