Banjir dan Longsor di Sumut

Terpisah dari Istri, Lansia 60 Tahun Nekat Terjang Banjir dari Sibolga Menuju Pandan Pakai Tali

Armadansyah Harahap (60) warga Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah tak menyangka banjir bandang dan longsor .

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/ANISA RAHMADANI
KORBAN BANJIR - Arman, (60) saat berfoto bersama cucu dan istrinya di rumah anaknya yang berada di Medan. Arman satu diantara warga yang selamat dari bencana banjir bandang di Tapteng. 

Dengan harapan-harapan istrinya telah pulang ke rumah, Arman pun memutuskann tetap menerobos banjir sepanjang 5 KM. 

"Kondisi sudah magrib, dann hari sudah mulai gelap. Saya tetap nekat menerobos banjir mulai  jalan dari SPBU TanahPonggol sampai Tugu Ikan Kelurahan Sibuluan Kecamatan Pandan. Disitulah ada pihak BPBD sepertinya yang memberikan tali untuk jadi pegangan kami agar tidak terbawa arus," ucapnya.

Dikatakannya, dari Jalan Tanah Ponggol menuju Tugu Ikan Kelurahan Sibuluan Kecamatan Pandan itu ada jembatan besar yang juga sudah terendam.

"Karena itu kami melewati arus sungai karena ditengah-tengah itu ada  jembatan jaraknya 10 meterlah disitulah kami berpegangan. Ada lima orang kami berjalan menggunakan tali. Karena arus banjir cukup deras saat itu," jelasnya.  

Dikatakannya, dirinya sudah hampir menyerah melewati sungai dengan tali. Selain karena gak bisa berenang, kakinya sudah tidak kuat menahan arus banjir.

"Alhamdulillah semua orang yang pakai  tali bersama saya ikut membantu dan memberi semangat, mereka teriak ayo angku (kakek) pasti selamat kita, ada keluarga menunggu). Teringatlah saya dengan istri dan anak-anak saya akhirnya saya pegang kuat tali itu mereka-mereka yang menyeimbagkan tali agar kami semua selamat lewati arus banjir,"ucapnya sambil mengatakan anak-anaknya semua berada di Kota Medan karena bekerja. 

Akhirnya selamat, kata Arman, tapi lewat dari tugu ikan Sibuluan sampai di Jalan  Simpang DPR  Pandan air tetap tinggi sekitar 50-70 cm. Hanya saja arusnya tidak deras. 

"Selamat semua sudah khawatir kepada saya. Sementara pikiran saya saat itu, kalau tidak selamat mau menitipkan kain solat ke istri saya agar mayat saya mudah dicari. Karena ada dua kain yang sma warnanya.  Alhamdulillah selamat, saat itu tujuan saya untuk bertemu istri, adik dan berkomunikasi dengan cucu semakin kuat jadi saya tetap lewati jalan banjir itu dengan kondisi gelap gulita karena mati lampu,"Katanya 

Perjalanannya dari Sibolga menuju rumahnya di Kecamatan Pandan pun akhirnya terlewati setelah berjalan kaki melawan air banjir selama 3 jam dan 5 km.

"Sampai rumah, ternyata istri saya pun sudah hendak pergi menunggu saya kembali ke Masjid di Sibolga sana kalau tidak sampai pukul 00.00 WIB. Tapi alhamdulillah selamat. Namun memang istri saya sempat tenggelam melewati jalan tanah ponggol itu," jelasnya.

Kini, Arman beserta istri sedang bertahan di rumahnya di Jalan Masjid, Kecamatan Pandan Kabupaten Tapteng  dengan kondisi sembako yang tinggal menipis di rumahnya dan berharap pemberian sembako terbagi secara merata untuk seluruh korban banjir dan longsor.

Diketahui, banjir bandang  dan longsor terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah sejak Selasa, (26/11/2025) lalu. Berdasarkan data BPBD Sumut banjir ini menyebabkan 86 warga meninggal Dan 84 orang masih dinyatakan hilang.  Dan data ini diprediksi akan terus bertambah.

Hingga saat ini, sejumlah kecamatan di Kabupaten Tapteng masih ada yang terisolir dann bantuan bencana masih terus berdatangan hingga hari ini. Sementara untuk akses jalan juga sudah bisa dilalui dari arah Singkil. Namun dari arah Tarutung-Sibolga masih belum bisa dilalui.

(Cr5/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved