Sumut Terkini

TRAGIS, Balita 3 Tahun di Tapanuli Selatan Tewas Usai Dianiaya Ayah Tiri

Kejadian tragis ini terjadi di Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), pada Jumat (5/9/2025) sekitar pukul 12.00 WIB.

ISTIMEWA
Jenazah korban dibawa ke RSUD Sipirok untuk dilakukan visum. Minggu (7/9/2025). 

TRIBUN-MEDAN.com,TAPANULI SELATAN- MAG bocah laki-laki berusia 3 tahun meninggal dunia diduga akibat dianiaya ayah tirinya, berinisal SBP. 

Kejadian tragis ini terjadi di Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), pada Jumat (5/9/2025) sekitar pukul 12.00 WIB.

Berdasarkan keterangan resmi dari Kasi Humas Polres Tapsel, Ipda Amalisa Nofriyanti Siregar, pada Sabtu (6/9/2025) malam, peristiwa berawal ketika SBP sedang duduk di depan rumah. 

Korban, MAG, bersama kakaknya bermain di sekitar halaman rumah.

Baca juga: 194 Pejudo Berlaga di Kejuaraan Judo Terbuka Sumut, Target Cetak Atlet Berbakat

Saat itu, ibu kandung korban, SMS, keluar rumah untuk mengisi daya ponsel di kampung sebelah karena rumah mereka tidak dialiri listrik.

Pada saat hendak pergi, MAG ingin ikut bersama ibunya namun tidak diizinkan. Sehingga korban mengejar ibunya sambil menangis ke samping rumah.

Pelaku SBP kemudian menahan MAG agar tidak mengikuti ibunya.

Setelah SMS pergi dari pandangan, SBP diduga melampiaskan amarahnya kepada anak tirinya itu.

“Terduga pelaku diduga saat itu mengangkat dan membanting korban ke tanah sebanyak satu kali. Saat korban masih menangis, terduga pelaku kembali menampar kepala korban dengan tangan kanan, lalu mendorongnya hingga terjatuh,” kata Ipda Amalisa dalam rilis persnya.

Kekerasan tersebut tidak hanya berhenti di situ, SBP kembali mengangkat dan membanting korban berkali-kali disertai tamparan di bagian kepala.

Usai melakukan penganiayaan, SBP justru tiduran di tempat duduk yang terbuat dari kayu sambil melihat korban yang tergeletak menangis kesakitan.

Tak berselang lama, korban pun mengalami kejang-kejang.

Melihat kondisi itu, SBP lalu menggendong korban, membersihkan pakaiannya yang kotor, dan membawanya ke sebuah pesantren yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah. 

Sesampainya di pesantren, SBP menitipkan korban kepada seseorang yang tidak ia kenal.

Dimana, korban masih dalam kondisi kejang-kejang. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved