Berita Viral

Curhat Guru Pemotong Rambut Siswi pada Gubernur Dedi Mulyadi, Psikologis Lagi Tak Baik & Minta Maaf

Ai Nursaida curhat kepada Gubernur Dedi Mulyadi, setelah viralnya kasus pemotongan rambut sejumlah siswi berhijab.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/Istimewa
RAMBUT SISWI DIPOTONG - Kolase tangkapan layar sejumlah siswi SMKN 2 Garut harus rela dipotong rambut secara paksa oleh guru BK. 

Ai mengatakan, selama ini ia belum pernah bertindak represif saat ada razia kosmetik. 

"Setiap ada rajia kosmetik, saya belum pernah merajia mereka. Saya belum pernah menghapus makeupnya, tapi saya dituduh seolah membiarkan mereka," katanya. 

Di sisi lain, para siswi mengaku sakit hati setelah rambut panjang mereka dipotong pendek. 

Salah satu siswi menyebut potongan rambut itu membuatnya merasa seperti laki-laki. 

"Kayak laki-laki. Sakit hati, trauma," katanya. 

Para siswi juga mengaku berdandan karena ingin tampil lebih rapi dan percaya diri. 

Mereka menyebut riasan yang digunakan tidak tebal. "Biar cantik. Sunscreen, bedak, gak (tebal). Kalau tebal mah pakai," katanya.

Para siswi kemudian berjanji tidak akan berdandan berlebihan selama tetap bisa bersekolah secara gratis. 

"Boleh, mau. Make up tipis tapi gratis," katanya. 

Baca juga: Uang Sewa Rp 14 Jutaan Per Bulan, Mobil Dinas Bupati Deliserdang Model Listrik Bergaya Off Road

Dedi Mulyadi meminta persoalan tersebut dilihat secara proporsional. 

Menurut Dedi, siswi jurusan broadcast bisa saja lebih memperhatikan penampilan karena bidang tersebut dekat dengan dunia seni, hiburan, dan perfilman. 

"Atuh menor gak apa-apa kan jadi bintang film. Saya orang yang selalu bela guru, tetapi saya juga ingin proporsional. kadang penilaian kita terhadap penampailan sering kali salah. Kedua, jurusannya broadcast berarti urusannya dengan dunia hiburan perfilman, apakah mungkin karakter itu dipangaeruhi oleh kejuruan," kata Dedi Mulyadi. 

Dedi juga meminta para siswi tidak menyimpan sakit hati kepada guru BK mereka. 

"Jangan ngomong trauma, biasa ajalah. Aku digaplok gak pernah trauma sama guru. Udahlah biasa aja, Kamu udah bisa senyum. gak boleh sakit hati," kata KDM. 

Dedi menilai, tindakan guru perlu dilihat dari niat awalnya, terutama jika dilakukan untuk membina siswa. 

"Menurut saya ibu gak salah, kalau niat ibu dalam hati tujuannya memperbaiki, karena sayang bukan karena rasa benci dan ketidaksukaan. Eksepresi ibu memukul menjadi pukulan yang indah ketika saya sudah besar," katanya. 

Meski demikian, Ai telah mengakui bahwa tindakannya memotong rambut siswi merupakan kesalahan besar. (*/tribunmedan.com)

Artikel ini sudah tayang di Tribunbogor.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved