Berita Viral
Curhat Guru Pemotong Rambut Siswi pada Gubernur Dedi Mulyadi, Psikologis Lagi Tak Baik & Minta Maaf
Ai Nursaida curhat kepada Gubernur Dedi Mulyadi, setelah viralnya kasus pemotongan rambut sejumlah siswi berhijab.
TRIBUN-MEDAN.com - Guru bimbingan konseling (BK) SMK Negeri 2 Garut, Ai Nursaida, curhat kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, setelah viralnya kasus pemotongan rambut sejumlah siswi berhijab.
Ai Nursaida mengakui kondisi psikologisnya sedang tidak baik saat memotong rambut sejumlah siswi.
Ia pun tak menampik tindakannya memotong rambut para siswi merupakan kesalahan besar.
"Saya psikologisnya lagi gak baik, digunting tapi gak semua, masih bisa diikat rambut. Iya pada akhirnya saya sadar dan menyadari saya salah besar," katanya.
Ai menjelaskan, razia itu berawal dari keresahannya terhadap penampilan sebagian siswa di sekolah.
Menurut dia, ada sejumlah aduan soal siswi yang memakai kosmetik berlebihan hingga rambut berwarna.
"Yang meresahkan kami baru-bari ini tentang penampilan siswa, berkerudung dalam hal kosmetik berlebihan," kata Ai ke Dedi Mulyadi.
Baca juga: Ratapan Anwarudin Rekam Video Detik-detik Anak-Menantu-Cucu Naik Bus ALS, Jadi Kenangan Selamanya
Ai mengatakan, para siswi yang rambutnya dipotong sebenarnya tidak memiliki persoalan dalam perilaku maupun akademik.
Ia menyebut keenam siswi tersebut rajin sekolah dan berperilaku baik.
"Keenam anak ini baik-baik aja secara perilaku baik. Akademis gak ada masalah, rajin sekolah," katanya.
Ai juga mengakui bahwa persoalan penampilan seharusnya masih bisa diarahkan dengan teguran.
"Mungkin orang tuanya cukup uang, kan gak ada masalah. Penampilan menor, wajar, kan tinggal diingatkan," katanya.
Mengaku sering mendapat tekanan Ai menyebut, dirinya kerap merasa disalahkan ketika ada siswi bimbingannya yang dianggap melanggar aturan penampilan sekolah.
Menurut dia, tekanan itu muncul dari banyak aduan yang menumpuk.
"Keresahan di masyarakat, anak-anak laki-laki biasanya. Bu kenapa kalau laki-laki panjang sedikit dirazia, kalau yang perempuan rambut merah dibiarin. Ya akumulasi dari sana dari sini terus yang disalahkan biasanya anak-anak saya, itu anak bimbingan saya, saya kan sakit hati," katanya.
Ai mengatakan, selama ini ia belum pernah bertindak represif saat ada razia kosmetik.
"Setiap ada rajia kosmetik, saya belum pernah merajia mereka. Saya belum pernah menghapus makeupnya, tapi saya dituduh seolah membiarkan mereka," katanya.
Di sisi lain, para siswi mengaku sakit hati setelah rambut panjang mereka dipotong pendek.
Salah satu siswi menyebut potongan rambut itu membuatnya merasa seperti laki-laki.
"Kayak laki-laki. Sakit hati, trauma," katanya.
Para siswi juga mengaku berdandan karena ingin tampil lebih rapi dan percaya diri.
Mereka menyebut riasan yang digunakan tidak tebal. "Biar cantik. Sunscreen, bedak, gak (tebal). Kalau tebal mah pakai," katanya.
Para siswi kemudian berjanji tidak akan berdandan berlebihan selama tetap bisa bersekolah secara gratis.
"Boleh, mau. Make up tipis tapi gratis," katanya.
Baca juga: Uang Sewa Rp 14 Jutaan Per Bulan, Mobil Dinas Bupati Deliserdang Model Listrik Bergaya Off Road
Dedi Mulyadi meminta persoalan tersebut dilihat secara proporsional.
Menurut Dedi, siswi jurusan broadcast bisa saja lebih memperhatikan penampilan karena bidang tersebut dekat dengan dunia seni, hiburan, dan perfilman.
"Atuh menor gak apa-apa kan jadi bintang film. Saya orang yang selalu bela guru, tetapi saya juga ingin proporsional. kadang penilaian kita terhadap penampailan sering kali salah. Kedua, jurusannya broadcast berarti urusannya dengan dunia hiburan perfilman, apakah mungkin karakter itu dipangaeruhi oleh kejuruan," kata Dedi Mulyadi.
Dedi juga meminta para siswi tidak menyimpan sakit hati kepada guru BK mereka.
"Jangan ngomong trauma, biasa ajalah. Aku digaplok gak pernah trauma sama guru. Udahlah biasa aja, Kamu udah bisa senyum. gak boleh sakit hati," kata KDM.
Dedi menilai, tindakan guru perlu dilihat dari niat awalnya, terutama jika dilakukan untuk membina siswa.
"Menurut saya ibu gak salah, kalau niat ibu dalam hati tujuannya memperbaiki, karena sayang bukan karena rasa benci dan ketidaksukaan. Eksepresi ibu memukul menjadi pukulan yang indah ketika saya sudah besar," katanya.
Meski demikian, Ai telah mengakui bahwa tindakannya memotong rambut siswi merupakan kesalahan besar. (*/tribunmedan.com)
Artikel ini sudah tayang di Tribunbogor.com
guru potong rambut siswi
Guru BK Gunting Rambut Siswi
guru potong rambut siswi berhijab
Dedy Mulyadi
Ai Nursaida
| SAID DIDU Bikin Kontroversi: Tuding Pendukung Jokowi Inginkan Pemakzulan Prabowo |
|
|---|
| PRABOWO Belanja Jet Tempur Tanpa Awak Buatan Turki Disorot Malaysia: Beralih ke Teknologi Siluman |
|
|---|
| SELAMAT dari Kecelakaan Bus yang Terbakar, Kernet ALS Trauma, Pilih Berhenti Lalu Nikahi Kekasih |
|
|---|
| Keterangan Saksi Ahli Psikolog dari TNI, Sebut 4 Penyiram Air Keras Masih Layak Jadi Prajurit |
|
|---|
| PENYEBAB Menantu Bunuh Mertua di Mojokerto, Pelaku Ketahuan Aniaya Istri, Merasa tak Dihargai Korban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/guru-viral-gunting-rambut-tribunmedan1.jpg)