Berita Viral

DISENGGOL HRS Lagi 'Jenderal Baliho', Dudung Ingatkan Jangan Terus Bikin Provokasi: Kita Sudah Tua

Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menyindir Habib Rizieq Shihab yang mengeluarkan pernyataan provokasi

Tayang:
Kompas.com
DUDUNG DILANTIK - Eks KSAD Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman saat ditemui di Istana, Jakarta, Senin (27/4/2026). Dudung dilantik jadi Kepala Staf Presiden (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA) 

TRIBUN-MEDAN.com - Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menyindir Habib Rizieq Shihab yang mengeluarkan pernyataan provokasi di tengah usia makin tua. 

Dudung mengharapkan Habib Rizieq berubah dan sama-sama membangun negara. 

Sebuah pernyataan Rizieq terkait Dudung viral di media sosial. 

Rizieq menyinggung adanya pihak yang disebut sebagai “Jenderal Baliho” yang diduga menjadi pembisik di balik pernyataan 'Kabur ke Yaman" yang diucapkan Prabowo.

Istilah 'Jenderal Baliho' itu berawal dari kritik sebagian pihak dan kelompok oposisi terhadap kebijakan penertiban baliho tokoh agama dan politik di sejumlah daerah, termasuk yang terkait dengan ormas tertentu.

Saat itu, TNI AD di bawah kepemimpinan Dudung ikut membantu aparat dalam penertiban baliho yang dianggap melanggar aturan ruang publik.

Langkah tersebut kemudian memicu pro dan kontra.

Pihak yang tidak setuju menilai tindakan itu terlalu keras terhadap simbol atau atribut tertentu, sehingga muncul sebutan “Jenderal Baliho” sebagai bentuk sindiran politik.

Namun di sisi lain, pendukung Dudung menilai penertiban dilakukan dalam rangka penegakan aturan ketertiban umum, bukan untuk menyerang kelompok tertentu.

Seiring waktu, julukan tersebut terus digunakan dalam dinamika politik, terutama ketika Dudung menyampaikan pandangan yang dianggap tegas terhadap isu-isu keagamaan dan keamanan.

Baca juga: LIVE SCORE Hasil Indonesia vs China Siapa Menang, Siaran Piala Asia U17

Baca juga: Ahmad Dhani Kembali Berulah Setelah Instagramnya Pulih, Langsung Serang Maia Lagi Soal Laporan Palsu

Bantahan Dudung

Tuduhan HRS itu kemudian dibantah oleh Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP)  Dudung Abdurachman.

Ia menegaskan tidak pernah menjadi pembisik Presiden terkait isu “kabur ke Yaman” sebagaimana yang disampaikan Rizieq.

Dudung juga menyebut bahwa tidak ada persoalan pribadi antara dirinya dan Rizieq.

Ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan keteduhan dalam berkomunikasi dan tidak saling menuduh

Dilansir dari Tribun Video, Dudung menyinggung narasi yang dilontarkan HRS soal jenderal baliho di balik statement Presiden Prabowo Subianto.

Secara tegas, Dudung menegaskan bahwa ia tak punya persoalan pribadi dengan Habib Rizieq Shihab.

Ditemui awak media di Kantor KSP, Dudung merespons kritik HRS atas statement Prabowo ke para pengkritiknya, untuk lari ke Yaman.

Dudung mengingatkan peran ulama yang seharusnya membawa keteduhan bagi umat.

 Bukan justru merendahkan pihak lain.

"Tapi artinya bahwa menurut saya bahwa Pak Rizieq, ya, sudah tualah, sudah sama-sama tua. Ya marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi," ujar Dudung saat ditemui awak media di Kantor KSP, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Dudung menyebut, gaya penyampaikan HRS dalam menyampaikan pesan tidak pernah berubah sejak lama.

Ia pun menyinggung bahwa ulama harusnya tidak melontarkan hal-hal yang tidak baik.

"Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan, ya. Berpikir jernih, matanya tidak pernah merendahkan orang lain, mulutnya tidak menjelekkan orang lain, hatinya juga dia tidak berprasangka buruk kepada orang lain, dan tangannya juga tidak dikotori dengan hal-hal yang tidak baik," tuturnya.

Dudung yang juga mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini berpesan agar semua pihak dapat menjaga lisan dan hati demi persatuan nasional.

Ia meminta seluruh elemen bangsa bersatu di tengah situasi global yang sedang sulit.

"Makanya jaga mata, jaga hati, dan jaga mulut. Ya inilah maksud saya, kita sama-sama anak bangsa yang situasi ini juga tidak baik masalah ekonomi, masalah politik, masalah hukum," tambah Dudung.

Dudung juga mengimbau agar masyarakat tidak terpengaruh oleh isu-isu yang dapat memecah belah bangsa.

Ia meyakini rakyat Indonesia sudah cukup dewasa dalam menangkal hoaks.

Diketahui, Habib Rizieq Shihab sebelumnya menyoroti pernyataan Presiden Prabowo yang meminta pengkritiknya kabur ke Yaman.

HRS menyebut, kritik Prabowo soal 'Kabur ke Yaman' itu adalah bisikan dari Jenderal Baliho.

Rizieq mengatakan Jenderal baliho itu kini menjadi Penasihat Khusus Presiden bidang Pertahanan di Kabinet Merah Putih.

Jabatan tersebut diemban oleh Dudung sebelum kemudian menjadi Kepala Staf Kepresidenan

Pernyataan Prabowo

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut soal “pergi ke Yaman” menjadi sorotan publik dan memicu berbagai tafsir di ruang politik nasional.

Ucapan tersebut awalnya disampaikan dalam konteks menanggapi kritik dari sejumlah pihak terhadap pemerintah.

Dalam pidatonya di Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II, Cilacap, Jateng, Rabu (29/4), ia kembali menyinggung narasi 'Indonesia Gelap' dan 'kabur aja dulu' yang sempat ramai beberapa waktu lalu.

Dalam pernyataannya, Prabowo menyinggung agar pihak yang terus-menerus melontarkan kritik keras dapat “pergi ke Yaman”.

"Ada yang mau kabur. Ada yang mau kabur, kabur aja, kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan," kata Prabowo.

Prabowo berpendapat orang seperti itu merupakan orang yang tidak objektif melihat realita.

Ia menilai mereka telah meminggirkan fakta soal masa depan Indonesia yang menurutnya cerah ke depannya.

"Mau kabur kemana? Hei orang-orang pintar bukalah, bukalah berita, lihat lah. Kita ditempatkan sebagai negara paling aman di dunia sekarang, kabur aja deh, ya kabur aja biar kita enggak gaduh," ucapnya.

Munculkan Reaksi

Pernyataan itu kemudian cepat menyebar di media sosial dan menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat.

Sebagian pihak menilai ucapan tersebut sebagai sindiran politik yang bersifat spontan.

Namun ada juga yang menilai pernyataan itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik.

Isu tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan di kalangan politisi dan tokoh masyarakat.

Sejumlah pihak meminta agar pernyataan tersebut tidak dipotong dari konteks pembicaraan secara utuh.

Mereka menilai penting untuk memahami latar belakang pernyataan sebelum menarik kesimpulan.

Di sisi lain, kritik terhadap pemerintah disebut sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang perlu dihargai.

Pernyataan Prabowo itu juga dikaitkan dengan respons terhadap narasi politik yang berkembang di media sosial.

Beberapa tokoh menilai ucapan tersebut merupakan bentuk ekspresi dalam merespons kritik yang dianggap berlebihan.

Namun, ada pula yang mengingatkan agar komunikasi publik pejabat negara tetap memperhatikan sensitivitas masyarakat.

Politisi PDIP Guntur Romli buka suara melalui video di Instagramnya pada Kamis (30/4/2026).

Ia mengatakan pidato Prabowo merupakan retorika berbahaya dan menunjukkan sikap antikritik yang dibalut sentimen merendahkan negara sahabat.

Guntur Romli mengingatkan pidato Prabowo bisa membahayakan dari segi diplomatik dan bermasalah secara etika.

"Ada masalah apa Pak Prabowo dengan Yaman? Ini negara Sahabat loh Pak. Gak pernah ada masalah dengan kita. Ada ribuan pelajar Indonesia di Yaman saat ini. Jangan merendahkan," ujar Guntur Romli.

Polemik ini menunjukkan bahwa setiap pernyataan politik dapat dengan cepat menjadi isu nasional.

Hingga kini, perdebatan terkait ucapan tersebut masih menjadi perhatian publik di berbagai platform informasi.

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di wartakota.com 

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved