Berita Viral

Merasa Capek Nyetir Mobil Sendiri, Pegawai Gubernur Kaltim Anggarkan Kursi Pijat Rp 125 Juta

Rudy Masud kembali menuai sorotan karena anggaran kursi pijat di rumah jabatan yang fantastis yakni Rp 125 juta.

|
Tribunkaltim.com
KEMBALIKAN MOBIL - Ilustrasi Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud terlihat mengemudikan sendiri kendaraan yang membawa rombongan Menteri Kehutanan menuju lokasi kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Sabtu (28/2/2026) sore. Gubernur Kaltim batalkan mobil dinas Rp8,5 miliar dan minta dana dikembalikan ke kas daerah. (TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO) 
Ringkasan Berita:- Rudy Masud kembali menuai sorotan karena anggaran kursi pijat di rumah jabatan yang fantastis yakni Rp 125 juta.
Ia mengatakan bahwa kursi tersebut dibutuhkan karena pegawai merasa kasihan melihat dirinya
Akibat penggelembungan belanja daerah, Rudy bahkan sampai didemo mahasiswa dan elemen masyarakat pada Senin (21/4/2026).

 

TRIBUN-MEDAN.com - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Masud merasa dirinya kasihan menyetir mobil sendirian, sehingga membuat anggaran kursi pijat pakai uang negara sebesar RP 125 juta.

Sebelumnya Rudy Masus sudah panen kritikan soal rumah dinas Rp 25 miliar dan mobil dinas Rp 8,5 miliar.

Rudy Masud bahkan kena semprot Presiden Prabowo Subianto soal membeli mobil dinas seharga Rp 8,5 miliar.

Kini lagi didemo, muncul video yang menarasikan Gubernur Rudy Masud butuh kursi pijat.

Baca juga: Sampai Trauma Berat, Santri Korban Pelecehan SAM Takut Jumpa Ustaz, Mau Pindah Agama

Gubernur Rudy Masud mengaku membutuhkan kursi pijat setelah letih mengemudi mobil sendiri.

Hal ini jelas membuat Rudy Masud kembali menuai sorotan karena anggaran kursi pijat di rumah jabatan yang fantastis yakni Rp 125 juta.

Jumlah tersebut dianggap cukup besar untuk sebuah kursi pijat.

Terlebih Pemerintah Pusat tengah menggaungkan efisiensi anggaran.

Banyak pos anggaran yang diefisienkan dialihkan ke program prioritas.

Bukannya melakukan pembangunan daerah, Rudy justru mengalokasikan anggaran daerah untuk membeli kursi pijat harga fantastis.

Ia mengatakan bahwa kursi tersebut dibutuhkan karena pegawai merasa kasihan melihat dirinya.

Baca juga: Sosok Irwan Arya, Eks Ketua DPRD Morowali Laporkan Rismon Sianipar Penipuan Buku Gibran End Game

"Kasihan lihat gubernurnya, jalannya bawa mobil sendiri, ya kan. Perjalanannya ribuan kilo," kata Rudy.

Rudy mengaku membutuhkan waktu tempuh yang begitu panjang setiap kali bekerja.

"Kami kalau jalan matahari belum terbit, kami jalan. Matahari sudah terbenam kami belum sampai. Bawa sendiri lagi mobilnya," katanya.

Lalu meski sudah memiliki istri, Syarifah Suraidah, Rudy justru mengaku selalu sendiri di rumah.

"Saya cuma sendiri di rumah," katanya.

Akibat penggelembungan belanja daerah, Rudy bahkan sampai didemo mahasiswa dan elemen masyarakat pada Senin (21/4/2026).

Rudy Masud mengaku sudah memberi tawaran perwakilan massa untuk beraudiensi di gedung pemerintahan.

Baca juga: Terungkap Modus Pemerasan, Bupati Pakai Surat Sakti Ancam Copot Pejabat tak Patuh

Menurutnya ia membuka akses dialog selama 24 jam di kantor atau rumah jabatan.

"Saya sudah menawarkan, tapi teman-teman itu perwakilan tidak mau. Saya tidak bisa bicara asal bunyi, harus speak by data. Dialog lebih efektif jika dalam suasana kondusif," katanya.

Terkait keputusannya tidak menemui massa, Rudy menegaskan, bahwa keputusan tersebut didasari oleh faktor keamanan dan prosedur audiensi yang tidak terpenuhi. 

Ia menjelaskan, bahwa tujuan utama aksi tersebut sebenarnya diarahkan ke DPRD Kalimantan Timur, bukan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov). 

“H-1 disampaikan bahwa teman-teman itu tujuan utamanya adalah ke DPRD. Namun, pergeseran arah aksi ke kantor gubernur terjadi setelah sebagian tuntutan dinilai tidak terpenuhi,” ujarnya. 

Rudy menekankan bahwa dirinya tidak pernah menolak untuk berdialog. 

Namun, ia keberatan jika komunikasi dilakukan di tengah kerumunan massa yang situasinya mulai memanas dan tidak kondusif. 

“Saya sudah menyampaikan dengan Pak Kapolda bahwa kita siap untuk berdialog, tapi tidak untuk di kerumunan massa. Satu adalah karena keamanan, dua adalah berkaitan dengan protokolnya,” kata Rudy.

Ia menambahkan, situasi lapangan pada sore hari menjelang magrib sudah tidak kondusif, ditambah adanya insiden pelemparan botol dan batu ke arah aparat keamanan. 

Rudy menilai sangat berisiko jika ia memaksakan diri keluar ke tengah massa dalam kondisi seperti itu.

"Bapak-Ibu bisa membayangkan, kalau saya di tengah-tengah situ, terus dilempar begitu, bagaimana?" imbuhnya.

4 Kontroversi Gubernur Kaltim Rudy Masud: Mulai Gaya Fesyen Istri hingga Renovasi Rumdis Rp25 Miliar

Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Masud kembali disorot oleh publik.

Ia diketahui menganggarkan Rp25 miliar rupiah untuk renovasi rumah dinas (rumdis) di tengah-tengah efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat.

Sebelum masalah renovasi rumdis, Rudy Masud sempat menjadi bahan perbincangan warganet terkait pengadaan mobil dinas senilai Rp8,5 miliar.

Meski pada akhirnya mobil tersebut tidak jadi dibeli dan Gubernur Kaltim meminta maaf karena telah membuat kegaduhan.

Di tarik lebih jauh, Rudy Masud tidak lepas dari kontroversi selama menjabat. Apa saja?

Berikut informasi lengkapnya dirangkum Tribunnews.com, Rabu (8/4/2026):

1. Mobil Dinas Harga Fantastis

Pada akhir Februari 2025 lalu, Rudy Masud disorot karena ingin membeli mobil dinas seharga Rp8,5 miliar.

Rudy Masud dalam kesempatannya menjelaskan alasan di balik pemilihan mobil mewah sebagai mobil dinasnya.

Ia menegaskan tidak ingin memakai mobil Toyota Kijang.

Semua tidak lepas dari posisi Kalimantan Timur yang strategis dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN)

Bahkan, Rudy Masud memandang provinsi yang dipimpinnya mewakili wajah serta miniatur Indonesia.

"Ingat, Kalimantan Timur ini etalase Indonesia. Jangan saya disuruh pakai kijang dek," tegasnya, dikutip dari TribunKaltim.co.

Rudy Masud melanjutkan, dirinya juga tidak ingin masyarakat Kaltim dipandang miskin.

Sehingga dengan adanya mobil dinas mewah tidak langsung dapat menjaga harkat dan martabat.

"Jangan direndahkan masyarakat Kaltim ini seolah-olah miskin banget gitu loh," tambahnya.

Kasus pengadaan mobil dinas ini kemudian menjadi isu nasional.

Kreator konten sekaligus pendiri Malaka Project, Ferry Irwandi memberikan kritikan dan sindirannya kepada Rudy Masud.

Ferry menilai, pengadaan mobil mewah tersebut berlebihan.

Menurut pria kelahiran 16 Desember 1991 itu, uang Rp8,5 miliar bisa digunakan keperluan lebih penting lainnya.

Seperti pembangunan puskesmas hingga pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Uang 8,5 miliar untuk beli mobil dinas kalau buat jalan jalan bisa dapat itu 3-5 km, bisa dapat puskesmas tipe D, bisa dapat cold storage 30-50 ton, dana bergulir ke ratusan UMKM, bangun sentra produksi.”

“Kalau 200 UMKM masing-masing naik omzet 3 juta/bulan, berarti 600 juta/bulan, berarti 7,2 miliar setahun tambahan aktivitas ekonomi," tulis Ferry, dikutip dari akun Threads pribadinya, Jumat (27/2/2026).

Ferry kemudian menyarankan agar Rudy Masud memakai Hilux dengan harga mulai dari Rp283,7 juta hingga Rp764,9 juta.

Mobil keluaran Toyota dikenal bandel melibas jalan rusak.

"Kalau kebutuhannya emang offroad ya hilux aja cukup ya pak," tandas Ferry.

Selain Ferry, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut memberikan sorotan.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyatakan bahwa pihaknya memantau perbincangan publik terkait pengadaan kendaraan mewah untuk orang nomor satu di Pemprov Kaltim tersebut.

"Itu memang cukup ramai di media sosial dan kami juga mengikuti isu pemberitaannya. Dalam konteks belanja daerah, tentu harus dilakukan perencanaan yang matang, sesuai dengan kebutuhan, dan juga yang terpenting adalah proses pengadaannya," ujar Budi kepada Tribunnews.com beberapa waktu lalu.

Pada akhirnya, melalui akun Instagram pribadinya, Rudy Masud juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas polemik yang sempat terjadi.

"Kami ingin menyampaikan bahwa Pemprov Kaltim memutuskan untuk membatalkan mobil dinas gubernur yang sebelumnya direncanakan," kata Rudy Masud.

"Kami menegaskan keputusan ini insyaAllah tidak mengganggu kinerja pemerintahan, tugas-tugas pelayanan publik tetap berjalan optimal dan fokus kami tetap pada kesejahteraan masyarakat," katanya.

"Di bulan yang penuh maghfirah, teriring permohonan maaf kami kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kaltim, kami mengucapkan terimakasih atas masukan masyarakat, kritik yang membangun, insya Allah akan menjadi energi bagi kami dalam mewujudkan Kaltim sukses, menuju generasi emas, mohon doa restu," tandasnya.

2. Gaya Fesyen Istri

Belum juga kontroversi mobil dinas reda, Rudy Masud kembali mencuri perhatian publik.

Kali ini warganet beramai-ramai menyoroti gaya fesyen sang istri, Sarifah Suraidah.

Publik menilai perempuan kelahiran 1 Januari 1981 itu memiliki gaya penampilan yang nyentrik.

Sebagian menyebut gayanya seperti “Noni Belanda” dan menilai busananya kurang sesuai dengan situasi blusukan.

Namun, tidak sedikit pula yang menilai penampilannya tetap elegan dan menjadi bagian dari gaya personalnya.

Sarifah Suraidah pada akhirnya buka suara.

Ia menanggapi keviralan ini melalui sebuah unggahan di Instagram story-nya.

"Baju dan gayanya kok berlebihan??" tulis Sarifah menjawab komentar netizen.


Tak mau ambil pusing, istri Gubernur Kaltim ini pilih melakukan apa yang dia inginkan.

"Hidup cuma sekali, hidup gak bisa diputar lagi. Lakukan apa yang mau dilakukan,” tulis Sarifah, dikutip Tribunnews.com.

Terlebih ia hidup bukan untuk menyenangkan banyak orang.

Ia pun memilih untuk menjadi diri sendiri.

“Kita gak hidup buat untuk menyenangkan, jadilah diri sendiri,” lanjutnya.

3. Gaji Tenaga Ahli

Pada awal Maret 2026, Rudy Masud disorot karena menganggarkan miliaran rupiah untuk membayar Tim Ahli Strategis Percepatan Pembangunan periode 2025–2030.

Total anggaran yang dimasukkan ke Rincian Anggaran Belanja Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) 2026 mencapai Rp10,5 miliar.

Anggaran sebanyak itu terdiri dari gaji per bulan hingga perjalanan dinas.

Sementara jumlah tim ahli mencapai puluhan orang.

Rinciannya dewan penasihat berjumlah 8 orang dan koordinator bidang atau divisi lainnya yang berjumlah 35 orang.

Sekda Kaltim, Sri Wahyuni membenarkan terkait keberadaan tim ahli tersebut.

Ia menegaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri.

Di sisi lain, pengadaan tim ahli juga dilakukan oleh wilayah lain.

Termasuk DKI Jakarta yang anggarannya melebihi Kaltim.

“Lampiran peraturan itu sudah dikonsultasikan dengan Kemendagri. Karena ini tenaga ahli dan kita mengacu juga pada beberapa daerah," kata Sri.

“Karena ini tenaga ahli, tentu kita membutuhkan orang-orang yang memang memiliki keahlian dan pengalaman di bidangnya,” tegasnya, dikutip dari Kompas.com.

4. Renovasi Rumah Dinas

Di bulan April 2026, Rudy Masud tidak luput dari kontroversi.

Kali ini, publik menyorot anggaran renovasi rumah dinas yang mencapai Rp25 miliar.

Rudy Masud dalam kesempatannya memastikan perbaikan sudah sesuai dengan aturan.

Menurutnya anggaran sebesar itu disesuaikan dengan kebutuhan.

"Tentu banyak hal yang harus dibenahi semuanya dan sebagainya," ungkapnya, dikutip dari TribunKaltim.co.

"Intinya semuanya transparan, akuntabel, semuanya bisa dipertanggungjawabkan pastinya," tandasnya.

(Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved