Berita Internasional

Donald Trump Kirim Ribuan Pasukan Tambahan, Gencatan Senjata AS dan Iran Berakhir?

Menurut laporan Washington Post, sekitar 6.000 pasukan tambahan AS di atas kapal USS George HW Bush dan 4.200 anggota Boxer

TRIBUN MEDAN/X/U.S. Central Command
PERANG MAKIN PANAS - Ilustrasi, Kapal serbu amfibi USS Tripoli, telah tiba di kawasan Timur Tengah, pada Jumat (27/3/2026). Perang di Timur Tengah semakin panas setelah ribuan pasukan Amerika Serikat (AS), dikabarkan sudah mendekat ke wilayah Iran. 

Kapal-kapal yang sudah membayar fee ke Iran agar bisa melintas, juga menjadi sasaran razia Angkatan Laut AS. Ancaman mereka, putar haluan atau ditenggelamkan.

Di sisi lain, tekanan dunia agar AS menghentikan serangannya ke Iran direspons dengan janji untuk membebaskan Selat Hormuz, termasuk membersihkan ranjau-ranjau laut di dalamnya.

AS sempat mendesak negara-negara NATO, yang diklaim sebagai sekutunya, untuk membantu.

Hanya beberapa negara yang bersedia, utamanya membersihkan jalur air tersebut dari ranjau air.

Yang lain, bersikap dingin atau bahkan terang-terangan menolak, apalagi kalau harus ikut terjun melakukan serangan ke Iran. Alasannya, "Ini bukan perang kami!".

AS lewat sang presiden, Donald Trump, kemudian merespons dengan berkoar kalau AS mampu menangani sendiri "pembebasan dan pembersihan" Selat Hormuz.

Secara teknis, bagaimana cara Angkatan Laut AS menangkal ranjau laut mematikan?

Angkatan Laut AS, dikutip dari penjelasan WN, lazimnya menangkal ranjau laut menggunakan laser udara, kapal kelas Avenger, dan drone Mk 18 Kingfish.

Mereka juga mengerahkan alat penetralisir ranjau yang diberi nama SeaFox - senilai $100.000 (Rp 1,7 miliar) dan sonar AI.

"Militer AS dengan menggunakan alat-alat ini secara aman menghancurkan bahan peledak bawah air tanpa membahayakan penyelam manusia," kata laporan WN, dikutip, Rabu (15/4/2026).

Ranjau laut biasanya hanya membutuhkan biaya produksi yang relatif murah untuk ukuran kebutuhan perang, sekitar $ 2.000 (Rp 34 juta) per set.

Namun, ranjau ini dapat langsung melumpuhkan kapal perusak rudal berpemandu senilai $ 2 miliar.

"Untuk melindungi jalur perdagangan global, Angkatan Laut AS mengoperasikan skuadron Penanggulangan Ranjau (MCM) khusus yang dilengkapi dengan perangkat deteksi tercanggih di dunia," kata laporan itu.

Prosedur penanganan ranjau laut dimulai dari udara melalui helikopter MH-60S Seahawk.

Pesawat-pesawat ini menggunakan Sistem Deteksi Ranjau Laser Udara (ALMDS), menembakkan sinar laser berdenyut ke laut untuk dengan cepat mengidentifikasi ranjau terapung dan ranjau kontak dekat permukaan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved