Berita Internasional

Donald Trump Kirim Ribuan Pasukan Tambahan, Gencatan Senjata AS dan Iran Berakhir?

Menurut laporan Washington Post, sekitar 6.000 pasukan tambahan AS di atas kapal USS George HW Bush dan 4.200 anggota Boxer

TRIBUN MEDAN/X/U.S. Central Command
PERANG MAKIN PANAS - Ilustrasi, Kapal serbu amfibi USS Tripoli, telah tiba di kawasan Timur Tengah, pada Jumat (27/3/2026). Perang di Timur Tengah semakin panas setelah ribuan pasukan Amerika Serikat (AS), dikabarkan sudah mendekat ke wilayah Iran. 

"Blokade diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan daerah pesisir atau pelabuhan di Iran," kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan di media sosial.

Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa juga mengatakan kalau 24 jam pertama blokade telah berhasil.

Namun, analis militer memperkirakan kalau kapal perang dan jet AS "menjadi sasaran empuk dalam jangkauan drone dan rudal Iran."

Hari ini, Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, mengatakan bahwa perang di Iran "sangat dekat" dengan berakhir.

Namun, ia kemudian mengubah pernyataannya dan mengatakan bahwa AS selalu dapat berbalik dan melanjutkan operasinya jika diperlukan.

"Jika saya menarik diri sekarang, mereka akan membutuhkan waktu 20 tahun untuk membangun kembali negara mereka, dan kita belum selesai," kata Trump.

"Kita lihat saja apa yang terjadi. Saya pikir mereka sangat ingin membuat kesepakatan," katanya.

Ranjau Laut di Selat Hormuz

Satu di antara jalur utama perdagangan dunia, Selat Hormuz kini berubah menjadi medan pertempuran Iran melawan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam beberapa bulan belakangan.

Selat yang dilintasi hampir semua kapal-kapal negara Arab penghasil minyak tersebut kini menjadi 'senjata' oleh Iran untuk merespons serangan AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026.

Iran memblokade jalur air tersebut, utamanya bagi mereka yang mereka nilai sebagai bagian dari entitas dan sekutu AS-Israel.

Iran kemudian menjejali jalur laut itu dengan ranjau-ranjau air.

Tidak diketahui pasti jumlahnya, namun diyakini sangat banyak sampai-sampai Iran mampu menyusun 'jalur alternatif' yang dekat dengan daratan mereka agar kontrol terhadap kapal-kapal yang hendak melintas, lebih terjaga ketat.

Iran kemudian memberlakukan tarif melintas, dilaporkan 2 juta dolar AS bagi kapal-kapal yang mau melewati jalur ini.

AS, yang serangan udaranya terbukti belum bisa melemahkan kekuatan militer Teheran, lalu menggunakan selat ini, juga sebagai senjata.

Mereka memberlakukan blokade laut di jalur tersebut bagi kapal dari dan menuju Iran.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved