Berita Nasional

6 Poin Ceramah Jusuf Kalla yang Paling Disorot, Kalimat soal Mati Syahid Kini Jadi Polemik

Berikut enam poin lengkap pernyataan Jusuf Kalla, termasuk bagian yang memicu polemik, disampaikan secara utuh:

Kompas.com
LAPORKAN RISMON - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla usai membuat laporan polisi di Bareskrim Polri, Rabu (8/4/2026). JK melaporkan Rismon Sianipar atas dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan pendanaan polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo.(KOMPAS.com/Fristin Intan Sulistyowati ) 

Ia menyatakan, "Indonesia negara harus ikut serta dalam perdamaian dunia. Itu Undang-Undang Dasar."

Menurutnya, Indonesia harus aktif mengambil peran tersebut.

"Jadi kita harus ikut serta dalam perdamaian itu. Dan kita melaksanakan itu."

Ia kemudian menyinggung peran Soekarno dalam menggagas perdamaian dunia melalui Konferensi Asia Afrika.

"Pertama punya ide untuk perdamaian dunia ini dalam bentuk politik kemerdekaan ialah Bung Karno dengan mengadakan konferensi Asia Afrika yang bulan depan dirayakan 70 tahun karena tahun 5 Konferensi Asia Afrika mendeklarasikan kemerdekaan keadilan."

Ia menjelaskan bahwa konsep kemerdekaan yang diusung adalah kemerdekaan yang adil dan damai.

"Kemerdekaan yang adil itu artinya yang damai untuk seluruh Asia Afrika ini."

Jusuf Kalla juga membandingkan jumlah negara peserta dahulu dan sekarang.

"Bung Karno waktu Asia Afrika yang ikut baru 29 negara. Sekarang Asia Afrika negaranya lebih 60-65 kalau tidak salah. Hampir setelah itu banyak sebagian besar negara merdeka."

Namun, ia menilai konflik tetap muncul akibat warisan kebijakan kolonial.

"Sekali saya ingin ulangi perdamaian adalah akhir suatu konflik dan konflik akhir dalam suatu kedamaian," ujarnya lagi.

Penjelasan Juru Bicara Jusuf Kalla

Juru bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, memberikan penjelasan terkait polemik pernyataan JK dalam ceramah di Masjid UGM pada 5 Maret 2026 tersebut.

Dalam keterangannya kepada Tribunnews, Husain menegaskan bahwa isi ceramah JK merupakan pembelajaran tentang cara mendamaikan pihak yang bertikai, bukan pandangan pribadi terkait isu agama.

Ia menjelaskan bahwa Pak JK dalam ceramahnya hanya menggambarkan realitas yang terjadi saat konflik Poso dan Ambon berlangsung.

"Pak JK mengungkapkan pendapat orang-orang yang bertikai pada saat kerusuhan Poso dan Ambon. Atau realitas sosiologis saat terjadi konflik. Bukan pendapat pribadi Pak JK," jelas Husain.

Menurutnya, pada masa konflik tersebut, kedua pihak yang bertikai sama-sama menggunakan narasi agama untuk membenarkan tindakan kekerasan.

"Realitasnya saat itu, kedua pihak yang berkonflik (Islam dan Kristen) menggunakan jargon agama untuk saling membunuh.

Pemahaman mereka atau mereka beranggapan, baik yang Islam maupun yang Kristen jika membunuh lawan atau terbunuh akan masuk surga," katanya.

Husain menambahkan, kondisi inilah yang membuat konflik Poso dan Ambon menjadi sulit dihentikan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

"Karena itu konflik Poso dan Ambon disebut konflik bernuansa SARA. Yang sulit dihentikan. Memakan korban jiwa ribuan orang. 2.000 orang tewas di Poso, sedangkan di Ambon mencapai 5.000 orang tewas," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa dalam ceramahnya, JK justru menekankan pentingnya meluruskan pemahaman yang keliru tersebut.

"Untuk mengatasinya, kata Pak JK saat ceramah di UGM, pemahaman kelompok yang bertikai ini harus diluruskan. Karena keduanya telah melakukan kekeliruan menyimpang dari ajaran agama," ujarnya.

Dalam upaya tersebut, JK menyampaikan pesan tegas kepada pihak-pihak yang bertikai.

"Maka Pak JK mengatakan Anda semua akan masuk neraka jika saling membunuh, bukan masuk surga. Karena tidak ada agama yang mengajarkan untuk bertindak demikian," kata Husain.

Ia kembali menegaskan bahwa apa yang disampaikan JK merupakan gambaran kondisi sosial saat konflik berlangsung, bukan pernyataan pribadi yang dimaksudkan untuk menyinggung pihak tertentu.

"Jadi apa yang disampaikan Pak JK bukan pendapat pribadi tetapi realitas sosial saat itu yang berkembang di antara mereka yang saling berkonflik," tegasnya.

Menurut Husain, ceramah JK tersebut juga berisi pelajaran penting dari pengalaman menyelesaikan konflik.

"Pak JK menyampaikan lesson learned, mengisahkan pendekatan yang ia lakukan ketika hendak mendamaikan pihak yang bertikai di Poso maupun di Ambon, dengan terlebih dahulu mengubah paradigma yang memotivasi mereka saat berkonflik," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved