Breaking News

Berita Nasional

6 Poin Ceramah Jusuf Kalla yang Paling Disorot, Kalimat soal Mati Syahid Kini Jadi Polemik

Berikut enam poin lengkap pernyataan Jusuf Kalla, termasuk bagian yang memicu polemik, disampaikan secara utuh:

Kompas.com
LAPORKAN RISMON - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla usai membuat laporan polisi di Bareskrim Polri, Rabu (8/4/2026). JK melaporkan Rismon Sianipar atas dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan pendanaan polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo.(KOMPAS.com/Fristin Intan Sulistyowati ) 

TRIBUN-MEDAN.com - Ceramah Wakil Presiden RI 2004–2009 dan 2014–2019, Jusuf Kalla yang bertajuk 'Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar' di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi sorotan.

Ceramah Jusuf Kalla tersebut menjadi sorotan setelah potongan videonya viral di media sosial.

Dalam narasi yang beredar di medsos, Jusuf Kalla dituduh menistakan ajaran Kekristenan.

Polemik ceramah Jusuf Kalla ini muncul terutama dari bagian ceramahnya yang membahas konflik Poso dan Ambon serta penggunaan istilah 'mati syahid' oleh pihak-pihak yang bertikai.

Berikut enam poin lengkap pernyataan Jusuf Kalla, termasuk bagian yang memicu polemik, disampaikan secara utuh:

1. Tentang Pendamaian

"Saya diminta berbicara tentang pendamaian. Ada hadist Rasulullah yang intinya begini. Rasul bertemu dengan para sahabatnya dan Rasulullah bertanya:

'Apakah ada di antara Anda mengetahui apa amal yang lebih baik daripada salat dan puasa?'

Sahabat berjawab, 'Tidak tahu Rasulullah.'

Rasulullah berkata, "Tindakan atau upaya yang amalnya lebih tinggi daripada salat dan puasa adalah orang yang mendamaikan orang yang berselisih.

Jadi mendamaikan orang dalam hal ini (berselisih) tentu mempunyai amal yang tinggi.

Karena itu kenapa Rasulullah artinya perdamaian itu hal yang sangat penting,

Itulah pandangan tentang pedamaian dari Rasulullah," ujar Jusuf Kalla, mengutip YouTube Masjid Kampus UGM.

2. Hubungan Perdamaian dan Konflik

Pak JK mengatakan konflik adalah akhir daripada perdamaian.

Jadi, lanjut Pak JK kalau bicara perdamaian tentu harus berbicara sebabnya yaitu upaya untuk menghentikan konflik.

"Karena itu kita perlu mengetahui kenapa orang berkonflik, kenapa satu negara banyak konflik, kenapa dunia sekarang ya sekarang dunia penuh konflik.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved