Berita Nasional

6 Poin Ceramah Jusuf Kalla yang Paling Disorot, Kalimat soal Mati Syahid Kini Jadi Polemik

Berikut enam poin lengkap pernyataan Jusuf Kalla, termasuk bagian yang memicu polemik, disampaikan secara utuh:

Kompas.com
LAPORKAN RISMON - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla usai membuat laporan polisi di Bareskrim Polri, Rabu (8/4/2026). JK melaporkan Rismon Sianipar atas dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan pendanaan polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo.(KOMPAS.com/Fristin Intan Sulistyowati ) 

Yang kita sedihkan ialah paling banyak konflik justru di negara-negara Islam pada dewasa ini."

3. Konflik Global dan Kritik Tokoh Dunia

Pak JK juga mengatakan soal Iran yang diserang oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Karena Donald Trump dengan Benjamin Netanyahu itulah sumber orang yang ingin selalu memakai kekerasan. 

"Dua berkumpul terjadilah seperti itu. Sangat berbahaya," ujarnya.

4. Penyebab Konflik di Indonesia

Jusuf Kalla menjelaskan bahwa konflik di Indonesia sebagian besar dipicu oleh ketidakadilan yang dirasakan masyarakat terhadap pemerintah.

Ia menyatakan, "Di Indonesia, konflik yang terbanyak sebabnya karena ketidakadilan. Kenapa? Ada tindakan yang tidak adil dipandang orang yang tidak adil yakni pemerintah."

Menurutnya, sejak Indonesia merdeka, telah terjadi banyak konflik besar. Ia menyebut jumlahnya sekitar 15 konflik, yang sebagian besar menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

"Kalau kita lihat di Indonesia selama kita merdeka itu kurang lebih ada 15 konflik besar di Indonesia ini. Hampir semua konflik itu menyebabkan begitu banyak orang kehilangan nyawa."

Ia menegaskan penyebab konflik di dalam negeri pada dasarnya sama dengan di luar negeri, yakni ketidakadilan.

"Kita lihat dalam negeri dan juga luar negeri hampir sama di Indonesia. Konflik yang terbanyak sebabnya karena ketidakadilan."

Sebagai contoh, ia menyebut sejumlah konflik seperti Permesta, DI/TII, hingga konflik di Poso dan Ambon yang menurutnya berakar pada ketidakadilan, meskipun kemudian berkembang menjadi konflik agama.

"Contohnya konflik di Permesta, DI/TII, kemudian Poso Ambon itu semua tidak adil sebenarnya di samping perang agama. Banyak lagi kadang tidak adil. Ujungnya memang kadang-kadang politik, kadang-kadang agama padahal awalnya karena ketidakadilan."

Ia juga menyinggung berbagai latar belakang konflik lain, mulai dari ketidakpuasan daerah hingga persoalan kepemimpinan.

"PRRI mengatakan pemerintah tidak adil kepada daerah ya. DI/TII Jawa Barat dulu dia pejuang. Kenapa yang pimpin kita bukan orang pejuang? DI/TII di Aceh. Kenapa Soekarno tidak menepati janjinya?"

Selain itu, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa konflik juga bisa dipicu oleh faktor politik, sosial, wilayah, hingga ideologi.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved