Berita Internasional

Dibongkar Mantan Intelijen AS, Presiden Donald Trump Ingin Curi 400 Kg Uranium Iran

Johnson menyebut operasi itu hanyalah kedok, tujuan sebenarnya AS adalah untuk mencuri 400 kg cadangan uranium milik Iran.

Kolase Tribun/kompas
AS SERANG IRAN: Kolase Presiden AS Donald Trump dan konflik Iran vs Israel. Trump mengumumkan pihaknya telah melakukan serangan terhadap 3 fasilitsa nuklir Iran 

TRIBUN-MEDAN.com - Dugaan Iran yang sempat menyebut Amerika Serikat berniat mencuri cadangan uranium milik Teheran bak terungkap, kini informasi serupa justru diungkap mantan analis badan intelijen Amerika Serikat, CIA, Larry Johnson.

Amerika Serikat belakangan ini sempat melakukan operasi penyelamatan pilot yang pesawatnya jatuh ditembak Iran.

Namun Johnson menyebut operasi itu hanyalah kedok, tujuan sebenarnya AS adalah untuk mencuri 400 kg cadangan uranium milik Iran.

"Target utama operasi militer AS itu adalah upaya untuk menyita 400 kilogram uranium yang diperkaya yang disimpan dalam silinder khusus," kata Johnson dikutip dari Khrbn, Selasa (7/4/2026).

Johnson pun tak ragu menyebut pengumuman yang dirilis Donald Trump menyesatkan.

Dia juga menekankan, ukuran pasukan yang terlibat (dilaporkan 155 pesawat) tidak sesuai dengan misi untuk menyelamatkan seorang pilot.

Johnson menunjukkan bahwa pasukan Amerika mendarat di lapangan terbang yang sepi di gurun, tetapi pasukan Iran mengepung mereka tak lama setelah operasi dimulai.

Dia menggambarkan perencanaan tersebut sebagai "kegagalan."

Dia menambahkan bahwa pasukan Iran menghancurkan dua pesawat angkut C-130 besar dan sebuah helikopter serang.

Trump Puji CIA

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump mengatakan "kecerdasan" CIA berperan penting dalam menyelamatkan pilot Amerika yang pesawatnya ditembak jatuh di wilayah Iran.

Berbicara pada konferensi pers Gedung Putih, Trump mengindikasikan kalau badan tersebut mendeteksi sesuatu yang bergerak menanjak di malam hari.

Ia menambahkan kalau CIA terus mengarahkan kamera pengawasan ke pilot tersebut selama 45 menit.

Hal ini menyiratkan kalau CIA memiliki kemampuan pengawasan rahasia, mungkin berupa drone atau satelit, untuk melacak pergerakannya.

Pernyataan itu dilontarkan Trump setelah Direktur CIA John Ratcliffe mengungkapkan bahwa badan tersebut telah melakukan "kampanye disinformasi yang sukses".

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved