Berita Viral

BAHLIL Lahadalia Dijuluki Pangeran Hormuz Karena Tak Naikkan Harga BBM Saat Harga Minyak Dunia Mahal

Netizen memberi julukan pangeran Hormuz ke Bahlil Lahadalia. Pemeberian julukan ini setelah Menteri ESDM ini tidak melakukan kenaikan harga BBM. 

Tangkapan layar TV Parlemen DPR RI
MARAH - Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (3/7/2025). Bahlil murka marahi dirjen hingga Dirut PLN 

TRIBUN-MEDAN.com - Netizen memberi julukan pangeran Hormuz ke Bahlil Lahadalia. Pemeberian julukan ini setelah Menteri ESDM ini tidak melakukan kenaikan harga BBM. 

Padahal sejumlah negara sudah membuat kebijakan kenaikan harga BBM akibat dampak perang Iran vs Israel. 

Kebijakan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan stabilitas harga BBM terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjadi sorotan publik setelah pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM per 1 April 2026.

Harga Pertalite dipertahankan di level Rp10.000 per liter, sementara jenis BBM lainnya juga tidak mengalami penyesuaian.

Keputusan tersebut menuai respons positif dari masyarakat. Di media sosial, nama Bahlil ramai diperbincangkan dan bahkan dijuluki “Pangeran Hormuz”, merujuk pada Selat Hormuz jalur vital distribusi minyak dunia  sebagai simbol peran strategis dalam menjaga stabilitas energi di tengah ketidakpastian global.

Baca juga: PSMS Gagal Promosi, Pemain Disebut Inkonsisten Sejak Awal

Baca juga: NASIB Karier Kajari Karo Danke Rajagukguk Ditarik ke Kejagung Untuk Evaluasi Atas Kasus Amsal Sitepu

Stabilitas harga BBM ini tidak lepas dari upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan ketahanan energi nasional.

Di tengah tekanan harga minyak mentah global yang cenderung naik akibat dinamika geopolitik, pemerintah memilih menahan harga domestik guna menghindari dampak lanjutan terhadap inflasi dan biaya hidup.

Selain itu, pemerintah juga menilai cadangan energi nasional masih berada dalam kondisi aman.

Hal ini memberikan ruang bagi negara untuk meredam gejolak eksternal tanpa harus segera melakukan penyesuaian harga di dalam negeri. 

Langkah tersebut sekaligus menjadi strategi untuk menjaga stabilitas sosial, termasuk mencegah antrean panjang di SPBU serta potensi penimbunan BBM oleh masyarakat.

Pengamat energi menilai kebijakan ini menunjukkan adanya pendekatan yang lebih adaptif dalam pengelolaan sektor energi.

Pemerintah dinilai tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi makro, tetapi juga dampak sosial yang bisa timbul apabila harga BBM dinaikkan secara mendadak.

Di sisi lain, sejumlah kalangan mengingatkan bahwa kebijakan penahanan harga BBM tetap memerlukan pengelolaan fiskal yang hati-hati.

Subsidi energi berpotensi meningkat jika harga minyak dunia terus mengalami kenaikan dalam jangka panjang.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved