Berita Nasional

Pengakuan Eks Anggota UNIFIL Serma Purn Muhtar Efendi, Risiko Selalu Dipantau Israel

Serma (Purn) Muhtar Efendi, menceritakan pengalamannya selama bertugas di Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian. 

TRIBUN MEDAN/(Istimewa/UNIFIL)
PRAJURIT TNI GUGUR - Pasukan pemeliharaan perdamaian PBB yang ditugaskan di Lebanon (UNIFIL) menggelar upacara bagi almarhum Praka Farizal Romadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan di Bandara Internasional Rafik Hariri pada Kamis (2/4/2026). Ketiga prajurit TNI tersebut gugur dalam tugas di Lebanon selatan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon menggambarkan betapa berisikonya penugasan tersebut.

Terkait hal itu, seorang eks anggota UNIFIL buka suara.

Dilansir dari Tribunnews, tiga anggota TNI yang bertugas sebagai anggota United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meninggal dunia dalam misi perdamaian dunia di Lebanon.

Jenazah ketiga anggota TNI itu telah tiba di tanah air pada Sabtu (4/4/2026) malam.

Lalu bagaimana sebenarnya kondisi di media tempur, mengapa pasukan perdamaian PBB masalah sering diserang di Lebanon?

PRABOWO BERI HORMAT - Presiden Prabowo Subianto memberikan penghormatan kepada jenazah personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam UNIFIL setibanya di VIP Room Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). Jenazah Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) M. Nur Ichwan, dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadon disambut melalui upacara militer dan persemayaman sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum diterbangkan ke daerah asal masing-masing. (Tribunnews/Jeprima)
PRABOWO BERI HORMAT - Presiden Prabowo Subianto memberikan penghormatan kepada jenazah personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam UNIFIL setibanya di VIP Room Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). Jenazah Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) M. Nur Ichwan, dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadon disambut melalui upacara militer dan persemayaman sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum diterbangkan ke daerah asal masing-masing. (Tribunnews/Jeprima) (Tribunnews.com)

Eks Anggota UNIFIL 2010-2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi, menceritakan pengalamannya selama bertugas di Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian. 

Ia menyebut Israel merupakan pihak yang sering tidak mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006 dan menyulut perang dengan Lebanon.

Menurut informasi dari laman PBB, Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 bertujuan mengakhiri permusuhan antara Hizbullah dan Israel.

Dewan Keamanan menyerukan gencatan senjata permanen yang didasarkan pada pembentukan zona penyangga.

Muhtar menceritakan drone-drone dari Israel selalu masuk ke wilayah Lebanon yang digunakan untuk memantau warga Lebanon.

Pasukan PBB juga tak lepas dari pantauan pasukan Israel.

"Sudah barang tentu drone ini diterbangkan oleh Israel. Selain untuk memantau kegiatan daripada masyarakat Lebanon, juga memplotting dan memapping posisi-posisi atau titik-titik koordinat daripada pasukan-pasukan PBB yang sedang bertugas di Lebanon," ungkap Serma (Purn) Muhtar Efendi dikutip dari Kompas.TV, Senin (6/4/2026). 

Muhtar mengatakan tugas pasukan penjaga perdamaian di Lebanon memang memiliki risiko tinggi.

"Penugasan di Lebanon itu memang sangat mengandung risiko yang tinggi walau katakanlah kita sudah dibekali dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) atau rules of engagement (aturan keterlibatan) yang jelas dan nyata," tuturnya. 

Ia mengatakan risiko itu tidak bisa dihindari karena pasukan UNIFIL berada di tengah-tengah dua wilayah yang sedang berkonflik yaitu Israel dengan Lebanon

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved