Berita Viral

AKSI Unjuk Rasa No King Meluas di Amerika Serikat, Sejumlah Demonstran Ditangkap

Polisi menyebut benda yang dilempar termasuk botol dan material keras lainnya. Setelah perintah pembubaran dikeluarkan

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/X
Aksi unjuk rasa No Kings di sejumlah wilayah di Amerika Serikat makin memanas. Sejumlah media melaporkan, Minggu (29/3/2026), di Los Angeles aparat penegak hukum menggunakan gas air mata setelah sekelompok demonstran melempar benda ke arah gedung federal. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Aksi unjuk rasa “No Kings” di sejumlah wilayah di Amerika Serikat makin memanas. Sejumlah media melaporkan, Minggu (29/3/2026), di Los Angeles aparat penegak hukum menggunakan gas air mata setelah sekelompok demonstran melempar benda ke arah gedung federal.

Polisi menyebut benda yang dilempar termasuk botol dan material keras lainnya. Setelah perintah pembubaran dikeluarkan, sejumlah demonstran tetap bertahan di lokasi. 

Aparat kemudian melakukan penangkapan terhadap peserta yang menolak meninggalkan area tersebut. Meski terjadi ketegangan, suasana kota relatif terkendali. 

Insiden lain terjadi di Las Vegas, di mana tujuh orang ditangkap saat aksi berlangsung di depan gedung pengadilan federal. Fox5 Vegas melaporkan, sekitar 1.400 orang berkumpul dalam demonstrasi tersebut.

Ketegangan dengan Pendukung Trump

Di Florida, aksi “No Kings” juga diwarnai ketegangan antara demonstran dan pendukung Presiden Donald Trump. Sejumlah laporan menyebutkan terjadi adu mulut antara kedua kelompok. Pendukung Trump terlihat membawa atribut seperti topi dan bendera, sementara demonstran menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Meski sempat memanas, situasi tidak berkembang menjadi bentrokan fisik besar dan tetap dapat dikendalikan oleh aparat keamanan.

Di balik sejumlah insiden, banyak aksi berlangsung dengan suasana kreatif dan damai. Di Los Angeles, demonstrasi diwarnai musik salsa, kostum unik, hingga kehadiran balon raksasa “Baby Trump” yang menjadi simbol kritik terhadap presiden. Para demonstran membawa berbagai pesan, mulai dari anti-perang, penolakan terhadap kebijakan imigrasi, hingga dukungan terhadap hak-hak sipil dan komunitas LGBTQ+.

Seorang demonstran menyebut aksi tersebut sebagai cara menyampaikan pesan secara damai dan positif. Penyelenggara menegaskan bahwa sebagian besar aksi “No Kings” berlangsung damai meskipun ada beberapa insiden di lapangan. Mereka menyebut tujuan utama gerakan ini adalah memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara demokratis dan aman. Selain itu, aksi ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik serta mendorong partisipasi dalam proses politik, termasuk pemilihan umum. 

Aksi “No Kings” yang terus berlanjut menunjukkan meningkatnya partisipasi publik dalam menyuarakan kritik terhadap pemerintah. Dengan jumlah peserta yang besar dan jangkauan yang luas, gerakan ini dinilai sebagai salah satu mobilisasi sipil terbesar dalam beberapa waktu terakhir di Amerika Serikat.

Ribuan demonstran masih berkumpul untuk menentang kebijakan Presiden Donald Trump.

Mereka melampiaskan kemarahan atas gaya pemerintahan Trump yang dinilai otoriter, kebijakan imigrasi garis kerasnya, dan perang dengan Iran. 

DEMO NO KING DI AMERIKA
Aksi unjuk rasa No Kings di sejumlah wilayah di Amerika Serikat makin memanas. Sejumlah media melaporkan, Minggu (29/3/2026), di Los Angeles aparat penegak hukum menggunakan gas air mata setelah sekelompok demonstran melempar benda ke arah gedung federal.

Dilansir AFP, Aksi demonstrasi berlangsung Sabtu (29/3/2026) waktu setempat atau Minggu (29/3/2026) Waktu Indonesia.

Penyelenggara mengatakan setidaknya 8 juta orang berkumpul di lebih dari 3.300 acara di seluruh 50 negara bagian dari kota-kota besar hingga kota-kota kecil. Ini adalah kali ketiga dalam kurang dari setahun warga Amerika turun ke jalan sebagai bagian dari gerakan akar rumput yang disebut 'No Kings', saluran oposisi yang paling vokal dan visual terhadap Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.

Di New York, kota terpadat di Amerika, puluhan ribu demonstran berkumpul, termasuk aktor peraih Oscar Robert De Niro, seorang kritikus Trump yang sering menyebut presiden Trump ancaman eksistensial bagi kebebasan dan keamanan kita. "Tidak ada negara yang dapat memerintah tanpa persetujuan rakyat," kata veteran militer berusia 36 tahun, Marc McCaughey, kepada AFP di Atlanta, tempat ribuan orang turun ke jalan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved