Banjir dan Longsor di Sumatera

Lebaran di Tenda Pengungsian, Hati Irma Perih Dengar Ratapan Sang Anak, 'Mak Sampai Kapan di Sini?'

Saat umat muslim merayakan Idul Fitri bersama keluarga di rumah, suasana berbeda terasa di Kampung Benuaraja, Aceh Tamiang

|
Editor: Juang Naibaho
IST
LEBARAN DI TENDA - Irmahayani bersama anaknya berada di dalam tenda pengungsian di Kampung Benuaraja, Aceh Tamiang yang kondisinya sudah sangat tidak layak. (Serambinews.com/RAHMAD WIGUNA) 

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Prabowo Subianto menyatakan penanganan banjir di Aceh Tamiang hampir 100 persen selesai dan tidak ada lagi warga yang mengungsi di tenda. 

Pernyataan ini memicu kontroversi karena warga dan relawan di lapangan melaporkan masih banyak pengungsi bertahan di tenda.

Jeritan pilu para korban banjir itu pun beredar di media sosial (medsos).

Salah satunya disuarakan Waracantika, warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang. 

Ia menegaskan, kondisi di lapangan masih jauh dari klaim Prabowo. Hingga kini masih banyak warga yang bertahan di tenda pengungsian karena belum tersedianya hunian sementara yang layak.

“Kami masih menggunakan tenda pak, hunian sementara belum ada di Desa Sekumur, hanya ada 5 persen saja, itu pun belum ada atap sama sekali,” ujar Waracantika melalui media sosialnya, dikutip Selasa (24/3/2026).

Ia juga meminta pemerintah untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak bencana. Bukan cuma terima laporan.

“Bapak dengarkan keluhan masyarakat ini, bapak lihat sendiri bagaimana menderitanya kami, kedinginan dan kepanasan di sini,” ujarnya.

Irma Menangis Dengar ratapan Sang Anak

Di saat sebagian besar umat muslim merayakan hangatnya Idul Fitri 1447 Hijriah bersama keluarga di rumah, suasana berbeda justru terasa di Kampung Benuaraja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.

Di tepi jalan raya yang berdebu, sebuah tenda sederhana menjadi saksi bisu lebaran yang jauh dari kata layak.

Di dalam tenda itu, Irmahayani (41) merayakan hari ketiga Idul Fitri bersama suami dan dua anaknya, Nazwa Humaira (8) dan Mikhaila Mauliza (1).

Tidak ada hidangan istimewa, tidak ada tamu, bahkan untuk sekadar merasa nyaman pun sulit.

“Lebaran kali ini ya, rasa semangat itu kayak hilang. Mau dibilang gak semangat pun gak boleh, karena kita umat Islam. Tapi dengan keadaan begini, kami masih di tenda, rasanya kayak nggak layak kali,” kata Irmahayani dengan suara pelan, menahan emosi.

Banjir yang melanda November 2026 lalu memaksa keluarganya kehilangan tempat tinggal.

Sejak itu, mereka bertahan di tenda darurat yang berdiri hanya sekitar satu meter dari badan jalan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved