Berita Nasional

Saat Pemerintah Klaim Ekonomi Masih Kuat, Pengamat: Rupiah Bisa Terjun Bebas Rp 20 Ribu Per Dollar

Jika kondisi eksternal terus memburuk, rupiah berpotensi melemah hingga mendekati Rp 20.000 per dollar AS

Tribunnews/Jeprima
UANG BARU- Uang pecahan Rp 100 ribu baru saat disusun oleh petugas Kantor Cabang BSI KC Mayestik, Jakarta, Kamis (28/12/2023 

TRIBUN-MEDAN.com - Nilai tukar rupiah dinilai masih menyimpan kerentanan di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda.

Jika kondisi eksternal terus memburuk, rupiah berpotensi melemah hingga mendekati Rp 20.000 per dollar AS dalam waktu relatif singkat.

Pandangan tersebut disampaikan Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, yang menilai narasi mengenai kuatnya ekonomi Indonesia perlu dicermati lebih dalam.

Menurut dia, selama ini publik kerap mendengar bahwa ekonomi Indonesia cukup tangguh karena didukung cadangan devisa yang besar serta struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang.

“Indonesia terlena atau tepatnya, diterlena oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar dollar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” ujar Anthony dalam keterangan pers, Senin (23/3/2026), dilansir dari Kompas.com.

Ia menilai gambaran tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya.

“Masalahnya pernyataan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta. Fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, dan nilai tukar sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh,” paparnya.

Anthony menilai struktur ekonomi Indonesia masih cukup rentan terhadap guncangan eksternal, terutama yang dipicu dinamika geopolitik global.

Konflik yang melibatkan Iran, misalnya, dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi dunia sehingga memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk nilai tukar.

Ia juga menyoroti cadangan devisa yang selama ini dianggap sebagai bantalan utama stabilitas rupiah.

Menurutnya, besarnya cadangan devisa tidak selalu mencerminkan kekuatan ekonomi riil.

“Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Dengan kata lain, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi,” tukasnya.

Dalam praktiknya, stabilitas rupiah dinilai sangat bergantung pada aliran dana eksternal.

Ketika arus modal masuk melambat atau bahkan keluar, tekanan terhadap nilai tukar dapat meningkat signifikan.

Dalam satu dekade terakhir, pola tersebut disebut kerap terjadi. Pada periode 2014-2015, cadangan devisa turun sekitar 9,44 miliar dollar AS, sementara rupiah melemah sekitar 20 persen dari Rp 12.185 menjadi Rp 14.650 per dollar AS.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved