Berita Viral

Jejak Sejarah Hari Ini Bertepatan Perang Iran, Burst of Joy: Kisah Nyata di Balik Foto Legendaris

Pada 17 Maret 1973, dunia menyaksikan sebuah momen yang kemudian menjadi ikon berakhirnya keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam.

|
Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/nationalgegraphic
Foto yang berjudul Burst of Joy. Dari kiri ke kanan, Letnan Kolonel Robert L. Stirm, Lorrie Stirm, Bo Stirm (Robert L. Stirm Jr.), Cindy Stirm, Loretta Stirm, dan Roger Stirm. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Pada 17 Maret 1973, dunia menyaksikan sebuah momen yang kemudian menjadi ikon berakhirnya keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam.

Di landasan pacu Travis Air Force Base, California, fotografer Associated Press, Slava “Sal” Veder, menangkap gambar yang diberi judul Burst of Joy.

Foto itu memperlihatkan Lt. Col. Robert L. Stirm, seorang pilot Angkatan Udara yang baru saja dibebaskan dari kamp tawanan Vietnam Utara, disambut oleh keluarganya.

Sorotan utama foto tersebut adalah Lorrie Stirm, putri sulung Robert yang kala itu berusia 15 tahun. 

Dengan tangan terentang dan senyum penuh euforia, ia berlari mendahului ibu serta tiga saudaranya untuk memeluk sang ayah.

Bagi jutaan orang, foto itu adalah simbol kesembuhan, harapan baru, dan akhir dari perang yang menelan sekitar 58.000 nyawa tentara Amerika.

Namun, di balik bingkai yang tampak sempurna itu, tersimpan kenyataan pahit yang membuat Robert menolak memajang foto tersebut di rumahnya.

Pilot AS Robert
Foto yang berjudul Burst of Joy. Dari kiri ke kanan, Letnan Kolonel Robert L. Stirm, Lorrie Stirm, Bo Stirm (Robert L. Stirm Jr.), Cindy Stirm, Loretta Stirm, dan Roger Stirm.

Sepucuk Surat "Dear John" sebelum Kepulangannya

Robert Stirm adalah pilot jet tempur F-105 Thunderbird yang ditembak jatuh di atas Hanoi pada 27 Oktober 1967.

Ia menghabiskan 1.966 hari sebagai tawanan perang, termasuk di penjara berjulukan Hanoi Hilton, tempat ia mengalami isolasi, kelaparan, dan penyiksaan.

Tiga hari sebelum kepulangannya, seorang pendeta militer menyerahkan sepucuk surat dari istrinya, Loretta.

Surat itu adalah sebuah “Dear John letter”—istilah untuk surat perpisahan yang dikirim kepada tentara di medan perang.

Loretta menulis bahwa ia tidak lagi bisa bertahan dalam pernikahan mereka.

Selama Robert menderita di kamp tawanan, Loretta telah menjalin hubungan dengan pria lain.

Tak hanya itu, Loretta menuntut hak finansial besar: rumah, mobil, sebagian besar gaji Robert selama ia ditawan, serta 40 persen dari uang pensiun masa depannya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved