Berita Viral

MISI Berbeda AS dan Israel dalam Perang di Iran hingga Membuat Trump Kecewa terhadap PM Netanyahu

Amerika Serikat dan Israel ternyata memiliki misi berbeda. Hal itu setelah terjadinya perang yang sudah memasuki pekan kedua.

Editor: AbdiTumanggor
REUTERS
PM Israel Benyamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump 

TRIBUN-MEDAN.COM - Dalam penyerangan di Iran, Amerika Serikat dan Israel ternyata memiliki misi berbeda. Hal itu setelah terjadinya perang yang sudah memasuki pekan kedua.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Washington baru mengambil tindakan setelah mengetahui bahwa Israel tengah bersiap untuk menyerang. Hal ini mengindikasikan bahwa peran AS lebih bersifat reaktif daripada bagian dari rencana besar yang disusun sebelumnya.

Dia menekankan bahwa prioritas utama Washington adalah melemahkan kekuatan tempur Iran, bukan menggulingkan kekuasaan. "Tujuan dari kampanye militer ini difokuskan untuk menangani kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militer terhadap kami, pangkalan kami, pasukan kami, serta sekutu dan mitra kami di kawasan maupun di luarnya," jelasnya. 

Dia merinci bahwa target utama serangan AS mencakup kekuatan rudal Iran yang berkembang pesat, fasilitas produksi senjata, serta elemen-elemen dari angkatan laut Iran. Menurutnya, sasaran-sasaran tersebut adalah tujuan yang terukur, masuk akal, dan dapat dicapai.

Terkait mengenai bagaimana kematian pemimpin tertinggi Iran selaras dengan tujuan militer AS, ia kembali menegaskan batasannya. "Saya berbicara tentang tujuan kampanye militer Amerika," katanya seraya mengulangi bahwa serangan terhadap kepemimpinan tersebut sepenuhnya adalah tindakan Israel.

Hingga saat ini, fokus kampanye militer AS tetap diklaim hanya untuk mendegradasi kemampuan proyeksi kekuatan Iran, bukan secara eksplisit bertujuan untuk melakukan perubahan rezim di Teheran. Berbeda dengan Israel, ingin melakukan perubahan rezim terhadap Taheran.

Presiden Trump Peringatkan Israel Hentikan Serang Kilang-kilang Energi di Taheran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak meminta Israel untuk segera menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi di Iran.

Peringatan ini disampaikan setelah Israel memperluas target militernya hingga menghantam sejumlah depot minyak Taheran, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.

Atas permintaan Donald Trump tersebut, sejumlah pejabat AS dan seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan Washington telah menjalin komunikasi dengan Israel.

Dalam pembicaraan itu, AS menyatakan bahwa mereka tidak senang dengan serangan terhadap fasilitas energi Iran baru-baru ini. 

Washington juga menginstruksikan Israel agar tidak mengulangi tindakan serupa di masa depan, kecuali jika telah mendapatkan persetujuan langsung dari pemerintah AS.

Langkah Israel yang menyasar infrastruktur energi ini pun memicu kritik dari sekutu Presiden AS Donald Trump, termasuk Senator Lindsey Graham yang selama ini dikenal sebagai pendukung kuat perang tersebut.

Laporan mengenai desakan AS agar Israel menghentikan serangan ke fasilitas minyak Iran ini sebelumnya juga telah diberitakan oleh Axios.

Diberitakan Axios, serangan Israel terhadap 30 pangkalan minyak Iran sejak Sabtu (7/3/2026) disebut memberikan kekecewaan pada AS. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved