Berita Nasional

Alasan Prabowo di Balik Indonesia Rangkul Amerika : Jaga Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Prabowo memaparkan pandangannya mengenai kondisi dunia yang sedang tidak menentu, mulai dari antisipasi dampak ketegangan di Iran

IST
Presiden Prabowo Subianto berbicara di hadapan para pengusaha Amerika Serikat (AS) dalam acara Business Summit yang digelar di US Chamber of Commerce, Washington DC, Rabu (18/2/2026) waktu setempat.(Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden) 

TRIBUN-MEDAN.com - Akhirnya terungkap di balik alasan Indonesia merangkul Amerika Serikat. 

Kini Presiden Prabowo Subianto membuka tabir di balik keputusan besar yang belakangan memicu polemik 'mengapa Indonesia memilih bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dan menyepakati perjanjian tarif dengan Amerika Serikat?'.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid, mengungkapkan bahwa Presiden ingin meluruskan prasangka publik yang menganggap kerja sama ini tidak menguntungkan Tanah Air.

Strategi di Tengah Gejolak Global

Prabowo memaparkan pandangannya mengenai kondisi dunia yang sedang tidak menentu, mulai dari antisipasi dampak ketegangan di Iran hingga potensi krisis pangan dan energi yang mengintai.

"Bagaimana kondisi global, kenapa Indonesia masuk BoP, bagaimana antisipasi dampak perang Iran. Jangan sampai perang Iran berdampak terhadap krisis yang ada di sini, baik itu krisis pangan maupun krisis energi. Kemudian menjelaskan kenapa Indonesia tanda tangan terhadap ART, Agreement Reciprocal Trade dengan Amerika," jelas Nusron mengutip poin-poin diskusi Presiden.

Menjaga Napas Produk Lokal di Pasar Dunia

Salah satu inti dari kesepakatan ini adalah keberlangsungan ekonomi. Melalui Agreement Reciprocal Trade (ART), Indonesia berhasil menekan tarif ekspor ke Amerika Serikat secara signifikan. Jika sebelumnya produk Indonesia dihantam tarif 32 persen, kini angka tersebut menciut menjadi hanya 19 persen, bahkan mencapai 0 persen untuk komoditas tertentu.

Nusron menegaskan bahwa tanpa langkah ini, barang-barang buatan anak bangsa akan sulit bersaing di pasar Negeri Paman Sam karena harganya yang melonjak tinggi akibat pajak.

"Kalau kita kena tarif tinggi 32 persen, berarti produk-produk Indonesia di Amerika lebih mahal 32 persen. Karena itu supaya produk-produk Indonesia kompetitif di Amerika, itulah menjadi latar belakang kenapa Indonesia menerima ART," ungkap Nusron.

Menggeser Arah Impor demi Keuntungan Nasional

Keputusan ini juga membawa perubahan pada peta impor Indonesia. Namun, Nusron menekankan bahwa komoditas yang diimpor dari AS, seperti BBM dan kedelai, bukanlah hal baru bagi pasar domestik. Pemerintah hanya melakukan "pergeseran sumber" untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih baik.

Jika sebelumnya Indonesia mengambil BBM dari Gabon atau Nigeria, serta kedelai dari Brasil dan Argentina, kini pasokan tersebut dialihkan dari Amerika Serikat. Strategi ini diambil untuk memenuhi syarat pengurangan tarif ekspor Indonesia ke AS.

"Semua sudah dijelaskan sama Pak Presiden, yang intinya kebijakan itu adalah win-win solution," pungkas Nusron.

Melalui penjelasan ini, Presiden Prabowo menekankan bahwa setiap langkah diplomasi yang diambil termasuk di tengah konflik Timur Tengah yang memanas selalu berlandaskan pada kepentingan nasional dan persatuan bangsa.

Ide Prabowo Jadi Mediator Konflik AS-Iran Dikecam 

Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada kurun 2004-2010 meyakini ide Prabowo menjadi penengah AS dan Iran tidak akan terjadi.

"Kalau Presiden Prabowo merencanakan untuk terbang ke Teheran untuk melakukan mediasi, tidak mungkin Presiden Trump atau Menteri Luar Negeri Marco Rubio sebagai pihak yang menyerang Iran akan bersedia berkunjung ke Teheran."

"Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi. Kita harus jujur mengenai hal ini," tegasnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved