Debat MenHAM Pigai dan Guru Besar UGM Diminta Dibatalkan, Rocky Gerung: HAM Sifatnya Universal

Rocky menegaskan bahwa secara prinsipil, HAM tidak perlu diperdebatkan dalam format menang-kalah karena sifatnya sudah universal.

Kompas.com
Menteri HAM, Natalius Pigai usai rapat bersama Komisi XIII DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2026).(KOMPAS.com/Rahel Narda) 

Ringkasan Berita:- Menurutnya, perdebatan terbuka tersebut berisiko lebih menonjolkan sensasi ketimbang substansi. Ia pun menyarankan agar rencana debat tersebut dibatalkan.
Ia khawatir format debat terbuka, terutama di televisi, justru memunculkan persepsi seolah-olah hak asasi manusia ditentukan oleh siapa yang menang dalam adu argumen.
Rocky menegaskan bahwa secara prinsipil, HAM tidak perlu diperdebatkan dalam format menang-kalah karena sifatnya sudah universal.

 

TRIBUN-MEDAN.com - Pengamat politik Rocky Gerung turut merespon terkait rencana debat ilmiah terbuka antara Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dan Guru Besar Hukum Tata Negara UGM Zainal Arifin Mochtar.

Menurut Rocky Gerung, debat terbuka itu tidak terjadi lantaran sebagai langkah yang tidak tepat.

Rocky bahkan menyebut rencana adu argumen tersebut sebagai peristiwa yang absurd.

“Ini debat yang paling absurd. Kalau Uceng debat sama Menteri Pertahanan, itu masuk akal. Kalau Pigai debat sama Menteri Dalam Negeri, itu masuk akal. Ini dua orang yang betul-betul datang dari bus kota yang sama, bus HAM yang sama. Itu mau debat,” kata Rocky dalam kanal YouTube pribadinya, Sabtu (28/2/2026).

Menurutnya, perdebatan terbuka tersebut berisiko lebih menonjolkan sensasi ketimbang substansi. Ia pun menyarankan agar rencana debat tersebut dibatalkan.

Baca juga: Mulai Muncul Aksi Demo Menu MBG, Warga Pati Ddatangi SPPG Tlogowungu 1, Massa PMII ke DPRD Bulukumba

“Saya ingin ini dihindari, dihalangi saja, dibatalkan. Sensasinya akan lebih tinggi dari sekadar substansi,” ujarnya.

Rocky menilai baik Pigai maupun Zainal sama-sama memahami isu hak asasi manusia secara mendalam.

Ia menyebut Zainal menguasai aspek substansi hingga filosofi HAM, sementara Pigai terlibat langsung dalam perumusan regulasi yang berkaitan dengan penghormatan hak asasi.

“Profesor Uceng pasti mengerti substansi bahkan filosofi dari hak asasi manusia. Tapi Pigai terlibat dalam pembuatan regulasi untuk merawat penghormatan kepada hak asasi manusia,” ucapnya.

Baca juga: Misteri Kematian Siswi SMP di NTT, Ternyata Dihabisi Kakak Kelas

Ia khawatir format debat terbuka, terutama di televisi, justru memunculkan persepsi seolah-olah hak asasi manusia ditentukan oleh siapa yang menang dalam adu argumen.

“Seolah-olah kalau Pigai yang menang, HAM itu ditentukan oleh Pigai. Kalau Uceng yang menang, HAM itu ditentukan oleh Uceng. Itu artinya akan ada pembelahan lagi tentang isu itu,” tuturnya.

Rocky menegaskan bahwa secara prinsipil, HAM tidak perlu diperdebatkan dalam format menang-kalah karena sifatnya sudah universal.

“HAM itu sudah final. Dia sifatnya universal. Dia datang dari nature manusia untuk saling merawat kemerdekaan,” katanya.

Ia juga mengingatkan kemungkinan adanya pihak ketiga yang memanfaatkan kegaduhan publik dari debat tersebut.

Baca juga: Ketua BEM UGM Minta Prabowo Bertaubat Politik, Tiyo: Saya Orang Pertama yang Akan Mendukungnya

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved