Berita Medan
Banjir Kiriman Rendam Jalan Bunga Terompet 10 Jam, Warga: Hujan Sedikit Air Setinggi Pinggang
Air kiriman itu menggenangi jalanan hingga sepinggang orang dewasa dan butuh waktu sekitar kurang lebih 10 jam untuk surut.
Penulis: Haikal Faried Hermawan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Warga di sekitar Jalan Bunga Terompet, Kota Medan, kembali mengeluhkan banjir yang kerap merendam pemukiman mereka.
Bukan karena hujan deras melainkan banjir kiriman dari kawasan Jalan Setiabudi dan sejumlah perumahan baru yang membuang air hujan ke wilayah tersebut.
Akibat minimnya saluran drainase, air kiriman itu menggenangi jalanan hingga sepinggang orang dewasa dan butuh waktu sekitar kurang lebih 10 jam untuk surut.
Seorang warga bernama Marpaung (60) menceritakan bahwa banjir yang melanda kawasan tersebut bukan dikarenakan dari curah hujan melainkan limpahan air dari kawasan lain.
"Banjir di sini datangnya dari beberapa tempat. Jadi air jatuhnya ke sini semua. Datangnya dari Jalan Setiabudi, dan sebagian dari perumahan dekat sini juga. Terus ada juga ini perumahan baru, buangan airnya ke mari juga," ujar Marpaung saat ditemui Tribun Medan, Selasa (7/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa sebelum perumahan baru dibangun, air kiriman tersebut sebenarnya mengalir ke parit.
Namun setelah pembangunan, aliran air naik ke lahan kosong di sekitar pemukiman warga.
"Katanya sebelum ada dibangun perumahan, air itu terbuang ke Jalan Bunga Terompet. Tapi setelah dibangun perumahan itu, akhirnya belakangnya air itu terbuang ke lahan kosong ini," ucapnya.
Marpaung mengungkapkan bahwa banjir di kawasan tersebut sudah terjadi sejak belasan tahun lalu, untuk saat ini kondisinya semakin parah.
"Kalau sudah hujan agak lama atau sedikit hujan, berhenti, baru banjir di sini. Nah, bukan langsung di situ hujan langsung banjir. Karena dia banjir kiriman," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa di titik-titik tertentu, ketinggian air bisa mencapai sepinggang orang dewasa.
Bahkan di belakang rumahnya, air masuk ke dalam rumah hingga sebatas betis.
Lambatnya surut juga menjadi masalah. Menurut Marpaung, air bisa menggenang hingga kurang lebih 10 jam baru benar-benar surut.
Salah satu penyebabnya adalah parit yang dangkal dan tersumbat oleh sampah, termasuk batang jagung sisa yang dibakar pemilik lahan.
"Karena banyak batang-batang jagung yang sudah ditebang itu, dibakar, tapi yang terbakar daunnya aja. Cuma batang itu juga terbakar. Terbawalah ini sepanjang parit ini. Jadi parit kita ini sekarang udah agak sumpek gitu. Jalan Bunga Terompet paritnya dangkal semua," jelasnya.
| Cekcok di Lapangan Bola Medan Krio Berujung Perkelahian, Kasus Diselesaikan Secara Kekeluargaan |
|
|---|
| Beasiswa TELADAN Cohort 2027 Resmi Dibuka, Tanoto Foundation Cari Calon Pemimpin Masa Depan |
|
|---|
| Setujui Ranperda APBD 2025, PKS Beri Catatan Tajam Soal PAD hingga Perumda Tak Produktif |
|
|---|
| Ibu Remaja yang Tewaskan Warga saat Tawuran di Medan sebut Anaknya Disiksa Polisi |
|
|---|
| Harga Ayam di Medan Rp28.000 per Kilogram, Mulai Stabil Sejak MBG Libur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/BANJIR-Seorang-warga-bernama-Marpaung-60.jpg)