Sketsa
Siapa Bisa Jauhkan Presiden dari Mikropon?
"Alamak, masuk akal juga, ya," sahut Riki Rikardo. "Udah banyak kali memang blunder-blundernya. Sekali pidato bisa bikin dua-tiga kali blunder.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
"Tapi sebetulnya gak salah-salah kali jugak, lah, yang dibilangnya itu," ujar Ucok Morning setelah tawanya reda.
"Gak salah kali cemana maksud, Ketua?" sergah Idam Marley.
"Iya, memang gak ada ngaruh dolar kalok di desa."
"Ah, udah lari jugak ketua ini keknya. Ngaruh jugak, lah, Ketua. Ngaruh kali pun. Kan di desa-desa ada jual beli jugak. Ada perputaran duit. Yang bertani, yang berkebun berladang, kan, harus belik bibit, belik pupuk. Kalok dolar naik, harga pupuk sama bibit ikut naik, kan? Belum lagi transportasi. Kereta, mobil, pikap, traktor, semua pakek minyak. Cemana pulak ceritanya gak ada pengaruh?"
Ucok Morning mengangkat kedua tangannya. "Sabar, sabar, Dam. Atur napas kau dulu. Tiba-tiba putus bisa gawat kita. Sepengetahuan awak ini, ya, di desa itu, maksudnya orang-orang desa, gak perlu pakek duit kalok mau dapat barang. Mereka tukaran. Beras tukar jagung, jagung tukar ubi, ubi tukar ayam, ayam tukar beras, gitu terus. Kalok pun ada alat bayarnya, memang gak pakek duit kertas. Mereka pakek tempurung kelapa. Trus, yang bersawah, berladang berkebon, bibitnya ya diproduksi sendiri. Pupuknya pupuk kandang. Transportasi? Mana pulak perlu minyak. Ke mana-mana orang tu naek kerbo, atau kuda, atau gajah. Kadang-kadang naik elang."
"Alamak!"
"Kalau halu jangan, lah, kelewatan kali, Ketuaku," kata Riki Rikardo menimpali.
Ucok Morning tertawa. "Siapa pulak yang halu, Ki. Aku tengok sendiri dengan mata kepalaku."
"Di mana?" tanya Idam Marley, Leman Dogol, dan Riki Rikardo nyaris bersamaan.
"Di tivi. Film Angling Darma."
Jontra Polta tergelak. "Taik, lah, Ketua! Udah nggak enak memang dari tadi perasaanku. Ujung-ujungnya pasti tak beres!"
"Kelen pulaknya serius kali. Pakek mo banding-bandingkan pulak sama Habibie. Ya, memang jauh kali, lah. Habibie, ingat kelen, pas krisis moneter taon 98, apa aja yang dia bikin? Ada proyek kebanggaannya, bikin pesawat, dia stop itu. Nah Bapak ini, udah tahu dolar melejit, suku bunga turun, proyek-proyeknya yang gak beguna, EmBeGe, koperasi-koperasian, jalan terus. Malah mo mintak dibikinkan mobil kaca pulak. Gak sekalian sama sepatunya biar kayak Cinderella."
"Tapi memang harus serius dibahas ini, Cok," seru Ocik Nensi. "Apa-apa mahal sekarang. Gula mahal. Kopi mahal. Susu kental manis ikut-ikutan naik. Mo awak naikkan harga lari pulak kelen ke kede sebelah."
Leman Dogol, sembari merambas-rambas senar gitar, menyeletuk. "Kalok ini Ocik tenang saja. Kami gak bakal geser ke sebelah. Di sana gak bisa ngutang."
"Tapi bay de we, aku kok ya justru lebih resah sama Bapak itu," lanjut Leman. "Sama pidato-pidatonya. Jangan-jangan, ada hubungannya antara pidato dia sama dolar ini. Tiap kali dia selesai pidato, naik juga barang itu."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SKETSA-Siapa-Bisa-Jauhkan-Presiden-dari-Mikropon-_.jpg)