Sketsa
Orang Miskin Naik Kelas, Sehat Pertanda Mampu
Setelah menyerukan kata ‘modar aku’ berkali-kali, sentakan-sentakan rambasan pada senar mengakhiri lagu, dan Ucok Morning mengempas napas.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Sketsa
Orang Miskin Naik Kelas, Sehat Pertanda Mampu
UCOK Morning bernyanyi bergitar-gitar dan Riki Rikardo membersamainya dengan ketuk-ketukan di meja. Lagu ketiga mereka pada konser yang tak direncanakan: Ambulance Zigzag dari Iwan Fals.
Suster menyarankan bayar ongkos pengobatan.../ai sungguh sayang korban tak bawa uang
Lantas, lagu masuk ke momentumnya yang paling krusial. Puncak dari segenap ketegangan yang dimulai sejak ambulans menderu memasuki pelataran rumah sakit yang putih berkilau itu.
Suster cantik ngotot lalu melotot/dan berkata, silakan bapak tunggu di muka
Setelah menyerukan kata ‘modar aku’ berkali-kali, sentakan-sentakan rambasan pada senar mengakhiri lagu, dan Ucok Morning mengempas napas.
“Kurasa dari sini, lah, muncul istilah orang miskin dilarang sakit itu, ya,” katanya.
“Ah, dulu-dulu, nya, itu, Ketuaku,” celetuk Leman Dogol yang sedang main dam batu dengan Jek Buntal, Lek Tuman dan Tok Awang. Leman berdiri bersandar pada tiang kedai. Telinganya diikat karet.
“Dulu-dulu? Sekarang?”
“Tetap!” ucap Jek Buntal menimpali. Tawanya kemudian menyembur. Keras sekali.
“Malahan lebih parah sebenarnya, Ketua,” sahut Riki Rikardo pula. Riki ikut tertawa.
“Parah?”
“Sekarang istilahnya pun udah berubah jugak.”
“Berubah cemana, Ki?”
“Kalok dulu orang miskin dilarang sakit. Sekarang lebih paten lagi. Sehat berarti gak miskin.”
“Bah! Cemana? Gak paham aku.”
“Sehat pertanda mampu, Ketua.”
Ucok Morning meletakkan gitar di meja. “Makin gak paham aku. Sumpah! Cemana pulak kali-kalinya itu?”
Riki Rikardo tertawa lagi. “Ah, keknya gak ada baca-baca berita Ketua akhir-akhir ini, ya? Gak apdet kali!”
“Memang! Udah makin malas aku baca berita. Gombal isinya. Mending aku nonton drama cina.”
“Itu, kan, gombal jugak, Ketua.”
“Tahu aku. Mana, lah, pulak ada Si I O nyamar jadi tukang ayam. Mana pulak ada orang dikejar-kejar depkolektor, kepeleset, kejebur ke kolam, bukannya mati malah terkirim ke zaman kerajaan, trus jadi koki kesayangan raja kerna masak kentang mekdi. Tipu-tipu, nya, semua itu.”
“Trus, kok, Ketua tonton jugak?”
“Beda tipu-tipunya. Nggak sampek jadi palak awak. Kalok nonton berita di tivi, di yutup, ato baca berita di onlen, nggak pun sebenarnya kenak tipu tetap aja awak palak. Emosi jiwa! Salah-salah bisa tebanting awak pulak henpon ini.”
“Alamak! Jangan sampek dibanting-banting gitu, lah, Ketua,” sergah Leman seraya membanting dam batu balak tiga ke meja. “Mentang-mentang belakangan ni agak sering caer, trus, lah, maen banting-banting. Kartu aja dibanting ketua, jangan henpon.”
Ganti Ucok Morning yang tertawa. “Bukan gitu, Man. Ecek-ecek aja sebenarnya itu,” ujarnya di sela-sela tawa. “Cumak, ya, memang, jujur aja kalok nonton berita, baca berita, lebih banyak palaknya awak dari senangnya. Apalagi kalok udah soal-soal perobatan. Aduh, ancur! Cak, lah, kelen pikir. Tak usah pala pakek-pakek logika. Sampek ada orang yang mati, gak dapat perawatan cumak gara-gara administrasi. Apa gak ikut pitam kita, kan?”
“Pas, lah, tu, Ketua,” ujar Riki Rikardo. “Geleng-geleng kepala kita kadang. Parahnya sampek di luar nalar. Termasuk yang kubilang tadi, lah.”
“Eh, iya, cemana itu? Belum jadi kau jawab.”
“Ada anggota dewan, Ketua, bilang kalok U Ha Ce gak dipake setaon, bantuannya dicabut. Jadi nonaktif gitu, lah.”
“U Ha Ce apa? Kek merek ban kereta.”
“Ah, itu, I Er Se. Bukan ban, lah, Ketua. Bikin gelak aja ketua ni, lah. U Ha Ce, kalok mo lebih pasnya, Yu Eic Si. Bahasa Inggris kepanjangannya, tak hapal aku. Pokoknya tentang kesehatan, lah. Program Be Pe Je Es.”
“Oh, Be Pe Je Es. Bilang, lah, dari tadi. Jadi kenapa pulak dicabut?”
“Karena kalok gak dipakek setaon warga dianggap mampu. Gak mo lagi pakek program itu. Udah bisa bayar sendiri.”
“Bah! Betulan tu? Nanti hoak, Ki?”
“Mana pulak hoak. Ada beritanya, kok. Ada video-videonya jugak. Banyak di sosmed.”
“Asli, Ketua!” sambung Leman Dogol. “Udah nengok jugak aku.”
Lek Tuman yang sejak tadi serius membanting-banting dam batu akhirnya ikut menyela. “Kenapa Ketua curiga itu hoak? Gak percaya rupanya ketua?”
“Bukan gak percaya, Pak Kep. Aneh aja kurasa. Maksudnya gini. Kalok memang gak dipakek setaon artinya setaon itu gak sakit. Sepanjang 365 hari gak sakit. Gampang kali sebenarnya, kan? Artinya setaon tu sehat, 365 hari sehat. Bukan kerna sudah mampu. Trus kek mana kalok tiba-tiba di hari ke-366 sakit? Hari ke-367 sakit? Harus urus lagi? Harus daftar-daftar lagi? Apa, lah, pikiran orang tu. Kadang kepintaran jatuhnya jadi bengak.”
“Teringatnya udah berlaku itu?” giliran Tok Awang pula yang menyahut. Hempasan balak lima di meja membuat Tok Awang berada di ambang kemenangan untuk kali kesekian.
“Kalok yang UHaCe ini belum tahu awak, Tok,” jawab Riki Rikardo. “Baru sebatas cakap-cakap anggota dewan tu. Tapi kalok yang Pe Be I keknya udah.”
Ucok Morning menepuk jidat. “Alah, apa pulak lagi Pe Be I ini, Ki? Bulutangkis?”
“Itu Pe Be Es I!”
“Jadi?”
“Penerima Bantuan Iuran, Ketua. Kalok ini agak hapal aku kepanjangannya. Be Pe Je Es jugak. Untuk warga gak mampu.”
“Oalah! Warga miskin. Trus? Apanya yang udah berlaku?”
“Mirip-mirip sikit kayak U Ha Ce tadi, Ketua. Gak bisa lagi digunakan. Istilah kata, kepesertaannya dinonaktifkan.”
“Alasannya? Gak dipakek setaon jugak?”
“Nah! Ini agak-agak simpang siur. Ada yang bilang kek gitu. Ada jugak yang bilang laen alasannya. Menterinya, ehm…, menteri sosial, lupa pulak aku namanya siapa, bilang kalok sekarang orang tu sedang perbaiki data. Jadi nanti orang yang gak memang betul-betul miskin gak akan dapat lagi.”
“Ada rupanya orang yang purak-purak miskin?”
Dari balik steling, Ocik Nensi yang sedang memasak Ifu Mi Kuah nyemek-nyemek melontar celetukan.
“Cemananya, Ketua, ni. Pakek betanya pulak. Banyaklah! Di kede ni pun banyak orangnya. Purak-purak miskin supaya bisa berutang dan tak bayar-bayar.”
Lontaran kalimat Ocik Nensi membuat suasana hening sejenak, sampai pecah oleh suara Tok Awang. “Masalahnya bukan miskin betulan ato purak-purak miskin. Tapi siapa sekarang yang masih bisa dibilang miskin dan mana yang nggak lagi miskin.”
“Oh, iya, iya. Betul itu,” sebut Riki Rikardo. “Sudah naik kelas memang sekarang.”
“Apanya yang naik kelas, Ki?” tanya Jek Buntal dan Leman Dogol hampir bersamaan.
“Orang miskinnya?” sambung Ucok Morning pula.
“Kalok tak silap, data Be Pe Es, Badan Pusat Statistik, sekarang orang yang dibilang miskin tu yang pengeluarannya di bawah enam ratus ribuan perbulan. Iya, kan, Pak Kep?”
Lek Tuman mengangguk. “Persisnya enam ratus empat puluh lima ribuan per-bulan. Yah, sekitar tiga jutaan, lah, kalok hitungannya rumah tangga, anak tiga.”
Ocik Nensi menyeletuk lagi. “Makjang! Yakin segitu, Pak Kep? Gak kesikitan itu? Si Leman sekali duduk bukak rum di karaoke pun tak cukup sama dia segitu. Sampek tiga El Si dipangku-pangkunya.”
“Ah, mana ada, Cik!”
“Kaya raya berarti kau, Man! Gak bisa lagi kau berobat gratis.”
“Mana ada!” (t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Sketsa-Orang-Miskin-Naik-Kelas-Sehat-Pertanda-Mampu_sketsa_.jpg)