Sketsa

Petani Pak Presiden vs Petani Slank

“Seddep kali memang Pak Prabowo ini, ah! Terbaek! Bang Jon harus tau ni. Marulam jugak,” seru Leman Dogol. Ia bertepuk tangan, lalu tertawa keras.

|
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
Illustrasion Generated by AI - Petani Pak Prabowo vs Petani Slank. 

Sketsa

Petani Pak Presiden vs Petani Slank

 

Seddep kali memang Pak Prabowo ini, ah! Terbaek! Bang Jon harus tau ni. Marulam jugak,” seru Leman Dogol. Ia bertepuk tangan, lalu tertawa keras.

Lek Tuman yang baru menuntaskan seruputan pertama kopi pancung pesanannya, langsung menimpali. “Agak-agak laen kutengok ketawak kau, Man,” katanya.

“Ah, laen cemana, Pak Kep?”

Laen, lah. Kayak-kayak ketawak orang ngeyek gitu.”

Kek ngejek, Pak Kep?” sahut Idam Marley pula dari balik steling.

“Ah, mana ada. Serius aku ni, Mak Dam. Memang lucu kali kurasa.”

Seddep, tapi lucu, ya? Teros, di mana seddepnya di mana lucunya?”

“Pokoknya paten kali, lah.”

“Pak Prabowo?”

“Bukan! Donald Trump! Ya, iya, lah. Pak Prabowo. Dari awal, kan, dia yang kusebut. Cemananya? Nggak fokus mamak.”

Idam Marley tertawa. Pun Lek Tuman. Ucok Morning dan Jek Buntal yang sedang bermain catur juga ikut tertawa.

“Soal apa rupanya, Man?” tanya Ucok. “EmBeGe lagi? Memang udah lucu kian kalok itu. Nggak pala lagi kita ketawak.”

“Ah, EmBeGe, udah malas jugak awak bahasnya. Bolak-balik bekasus. Bolak-balik ada yang keracunan. Kalok tak silap, udah lebih 21 ribu yang kenak sekarang, eh, dibilang Bapak tu pulak, kaloknya soal keracunan, makan di restoran mahal pun bisa keracunan. Kutanyak, lah, sama kelen. Ada 21 ibu orang keracunan di McD?”

Jek Buntal terbahak panjang. "Entah cemana-mana memang, ya. Kemaren dibandingkan dia pulak EmBeGe sama McD," ucapnya setelah tawa reda.

"Itulah makanya, malas awak."

Ucok Morning melangkahkan buah caturnya. Benteng bergerak mengancam ratu. "Belum kau jawab tadi pertanyaanku, Man."

“Oh iya. Sorry, sorry. Hmmm... Ada ketua dengar cakap Bapak tu soal petani?”

“Petani? Kenapa?”

“Bapak tu bilang, dia mau petani di Indonesia kek petani di Jerman.”

Cemana rupanya petani di Jerman?”

“Pagi kerja di ladang, sorenya, ato malamnya, rame-rame naek mobil ke kota, masuk diskotek. Disko-disko.”

Tawa Ucok Morning meledak. Pun Lek Tuman, Jek Buntal, dan Idam Marley. Riki Rikardo yang baru saja datang mengantarkan seplastik buah pace pesanan Tok Awang, tak mau ketinggalan.

“Alamakjang! Disko! Ah... Ah... Ah... Ah... Stayin alive, stayin alive!” seru Ucok. Ia bernyanyi, kemudian berdiri dan melakukan gerakan-gerakan Tony Monero, karakter flamboyan yang diperankan John Travolta dalam ‘Saturday Night Fever’.

“Yeah! Jontra Polta!”

“Marulam Disko! Mana dia? Mana dia?” sambut Lek Tuman pula. “Tak nampak pulak batang idungnya hari ini.”

Untuk kira-kira dua-tiga menit Kedai Tok Awang riuh oleh tepuk-tepuk tangan dan tawa yang bersahutan-sahutan.

“Tapi teringatnya, kok bisa, lah, Bapak itu sampek tepikir bandingkan petani Indonesia sama petani Jerman, ya. Tinggi kali imajinasinya. Dari mana, lah, referensinya,” kata Idam Marley, masih sembari tertawa-tawa.

Riki Rikardo menyeletuk. “Dari lagu Slank kurasa, Mak."

“Hah? Lagu Slank? Yang mana?”

Alah... Masak Mamak gak tahu. Terkenal lho ini dulu. Zaman-zaman Mamak. Sang kancil curi laser disc-nya Pak Tani, Pak Tani lupa pasang alarm..."

Riki Rikardo membuka YouTube di ponselnya lalu memutar lagu ‘Pak Tani’, satu di antara nomor dalam ‘Minoritas’, album ketujuh Slank.

 

Pak tani bajak sawah pake traktor/kerja rutin ngontrol ladang numpak harley/ngitung laba panen pake komputer/kirim order beras pake helikopter

 

“Paten khayalan Slank ini,” ucap Leman Dogol. “Tapi tetap masih kalah paten sama khayalan belio. Seliar-liarnya khayalan Slank, gak sampek membayangkan petani masuk diskotek dan bedisko-disko kayak Jontra Polta."

“Khayalan tingkat tinggi, ya,” sahut Jek Buntal.

“Tinggi kali pun! Cak kelen pikir secara logika. Cemana, lah, orang tu sempat mo bedisko-disko. Perkara belik bibit sama pupuk aja masih ngutang. Belom lagi dikejar-kejar tukang kredit. Udah gitu, tanahnya pun bukan jugak punya orang tu sendiri. Kalok gak nyewa, ya, jadi buruh."

"Eh, bentar-bentar, Dam,” Lek Tuman tiba-tiba mengangkat tangan. “Kutanyak dulu sikit. Kau nggak sedang kenapa-napa, kan? Baek-baek aja?"

Baek, lah, Pak Kep. Kenapa rupanya."

“Nggak, maksudku, kok, agak laen kau kutengok hari ini. Serius kali.”

Palak awak sebenarnya, Pak Kep.”

“Kenapa?”

“Ada Pak Kep baca berita dari NTT?”

“Berita apa lagi?"

Anak umur sepuluh taon, tulisnya surat untuk mamaknya.”

“Biasa kali itu.”

“Setelah tulis surat dia gantung diri.”

"Bah! Kok bisa? Apa pasalnya?"

“Nggak bisa beli buku tulis sama pulpen. Pas dia minta duit sama mamaknya, dibilang mamaknya kalok sedang nggak ada duit.”

“Berapa banyak rupanya buku sama pulpen yang mau dibelik dia?”

Sebijik.”

Sebijik?”

"Iya, buku sebijik. Pulpen sebijik.”

“Ya! Nggak sampek pun sepuluh ribu perak itu."

“Memang gak sampek, lah.”

“Padahal seporsi EmBeGe lima belas ribu, ya,” celetuk Riki Rikardo.

“Terus, hubungannya sama Bapak itu dan petani Jerman tadi apa, Man?” tanya Ucok Morning pula.

“Mamak anak itu, Ketua, janda empat anak ditinggal mati suami. Sehari-hari kerjanya bertani.”

Seketika, keheningan merebak. Lek Tuman mengambil map berisi berkas-berkas warga dari tasnya, meletakkannya di atas meja. Jek Buntal dan Ucok Morning mengalihkan lagi perhatian mereka ke papan catur. Riki Rikardo menatap layar ponselnya, yang entah sedang mengalirkan apa. Idam Marley kembali ke balik steling, meracik tubruk untuk dirinya sendiri.

“Tapi kupikir-pikir memang makin lucu-lucu presiden kita ini, ya,” ujar Leman Dogol.

Lek Tuman melirik Leman. “Masih ada lagi yang lebih lucu?”

“Pak Kep baca berita tentang genting.”

“Genting? Kondisi genting maksud kau?”

“Bukan. Genting. Atap.”

“Oh, genteng. Kenapa?”

“Bapak itu mo bikin gentingisasi.”

"Apa pulak itu?"

“Gerakan mengganti atap-atap seng di rumah-rumah warga dengan atap genting.”

“Berapa rumah?”

"Semua rumah."

“Semua? Dari Sabang sampek Marauke?"

“Iya.”

“Ah, yang tidak-tidak saja memang presiden kau ini! Lama-lama bisa gilak kita semua,” ujar Jek Buntal dengan nada bicara tinggi.

Sementara Riki Rikardo telah bergeser sedikit ke sudut kedai, mengambil gitar dan memulai memetik senar-senarnya. Sedikit sumbang tapi masih kedengaran enak di telinga.

“Dibawa ketawak aja, lah. Sayang kali kalok kita benar-benar ikut jadi gilak,” katanya, lalu mulai bernyanyi.

 

Hei... Hidup cuma numpang ketawa

Kutertawa maka ku apa...

 

(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved