Sketsa
Bapak Itu yang Dipuji, Kita yang Dijajah Lagi
UCOK Morning tertawa-tawa, wajahnya memerah. Lalu, ia mengangguk-angguk sembari mengusap dagunya yang tak berjanggut.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Sketsa
Bapak Itu yang Dipuji, Kita yang Dijajah Lagi
UCOK Morning tertawa-tawa, wajahnya memerah. Lalu, ia mengangguk-angguk sembari mengusap dagunya yang tak berjanggut.
“Makjang, seddep kali umbangan kau, ya, Man. Banyak, lah, caer ini,” ucap Jontra Polta pada Leman Dogol. “Tapi jangan, lah, sampek kelewatan kali. Nampak nanti uloknya.”
“Mana ada! Bukan umbang ni, Mak. Awak bicara sejujur-jujurnya. Dari lubuk hati awak yang paling dalam.”
“Alah!”
“Betul ni, Mak. Macam baru bekawan sehari dua hari aja kita. Awak orangnya, kalok memang jelek bilang jelek. Kalok pantas dipuji, ya, awak puji. Gak masuk kamus awak jilat-menjilat.”
Ucok Morning masih tertawa-tawa. Setelah terbatuk-batuk sebentar, disodorkannya sebungkus rokok [isinya tidak lagi penuh karena sudah beberapa batang ia isap] kepada Leman Dogol.
“Ini dulu, lah, ya, Man. Yang lain-lainnya menyusul.”
“Bah! Caer jugak, Ketua? Paten kali, ah!” celetuk Idam Marley dari balik steling. Idam sedang meracik sanger dingin pesanan dua pengunjung yang singgah untuk bersantap malam. Mereka membawa nasi bungkus sendiri.
Di bulan puasa, Kedai Tok Awang hanya buka setelah petang hingga menjelang sahur.
“Macam mana lagi, Dam. Bukan tak paham awak sedang diumbangnya. Cumak memang soor jugak dengarnya. Kalok soal umbang-mengumbang, puji-memuji, skill muncung Si Leman tak perlu diragukan lagi.”
“Kalok gitu cak, lah, sesekali kau umbang Bapak itu, Man,” seru Jontra Polta. “Bisa lebih caer lagi kau kurasa.”
“Bapak mana?”
“Bapak yang suka pidato-pidato.”
“Ah, ada-ada aja Mamak ini.”
“Serius aku! Kalok gak percaya kau tanyaklah Donald Trump.”
“Bah!”
“Caer triliun-triliunan dia! Mantap kali!”
“Apa rupanya dibilangkan Si Trump, Jon?” tanya Ucok Morning.
“Persisnya gak ingat kali aku, Ketua. Tapi kalok tak silap, memang kenak umbang kali bapak itu. Dibilangnya, hmmm..., di antara pemimpin-pemimpin dunia, bapak itu termasuk yang paling dihormati.”
“Anjay! Seddep skale...”
“Ada lagi ni yang lebih seddep!” sahut Idam Marley. Sanger sudah rampung. Sudah diantarkan. Idam membuka ponselnya. “Trump bilang, “A man that I really like a lot, he is definitely tough, I don't wanna fight him.”
“Yang artinya?” celetuk Ucok Morning.
Idam Marley tertawa. “Sorry, sorry, Ketua. Awak lupa ketua anti asing. Trump bilang, dia sukak sama bapak itu. Dia bilang, bapak itu besar badannya, dan kerna itu gak berani dia kalok betumbuk sama bapak itu.”
“Trus, langsung caer dia?”
Giliran Jontra Polta yang tertawa. “Sebenarnya gak gitu jugak. Maksudku, kalok dari berita-berita yang kubaca, gak langsung caer barang tu kek Si Leman ngumbang Ketua Ucok tadi. Kalok tak silap udah duluan pun cair tu. Setoran untuk perdamaian-perdamaian. Apa namanya, Dam? Lupa pulak aku.”
“Board of Peace.”
“Nah, itu dia!”
“Eh, teringatnya ini yang katanya untuk bantu damekan Israel dan Palestina, ya, Man?” tanya Ucok Morning pula. “Tapi ada yang bilang itu bukan setoran? Tanpa nyetor pun Indonesia tetap diajak Trump untuk gabung.”
“Ketua percaya?”
“Percaya tak percaya, sebenarnya.”
“Berarti percaya, lah, Ketua, kalok dibilang ada sembilan belas ribu sapi dipotong tiap hari untuk Em Be Ge.”
Ucok Morning tergelak lagi. “Kalok ini ombolnya memang kelewatan kali,” ucapnya di sela tawa. “Awak dulu pernah jadi tukang potong orang. Eh, potong hewan. Sapi, lembu, kerbo. Jadi kalok, lah, dibilang ada sembilan belas ribu sehari yang dipotong, kutanyak, di mana tu eksekusinya? Tau kelen, rumah potong nggak banyak. Di Medan aja dulu waktu awak masih aktif cumak ada sebijik. Gak tau sekarang entah udah betambah atau masih segitu. Dulu, sehari cumak bisa potong dua puluh sampek tiga puluh ekor aja.”
“Bukan dipotong di rumah potong mungkin, Ketua,” kata Leman.
“Jadi di mana?”
“Di Es Pe Pe Ge.”
“Ada pernah kau tengok orang tu motong?”
“Sejauh ini gak pernah nampak.”
“Trus, kalok, lah, dibilang sembilan belas ribu sapi dipotong tiap hari, dagingnya ke mana?”
“Dimasak, lah, Ketua.”
“Ada?”
“Ada! Anak pamiliku pernah dapat. Direndang dagingnya.”
“Tiap hari?”
“Selang-seling, lah. Sehari lele, sehari tempe.”
Gelak tawa melejit lagi. Setelah Ucok Morning menyinggung perihal paket-paket makanan yang tetap saja disalurkan selama Ramadan, yang diberikan kepada siswa muslim sepulang dari sekolah untuk disantap di waktu berbuka, mereka sepakat untuk tidak memperpanjang pembahasan. Bukan lantaran takut ada yang mencuri-curi dengar lantas melaporkannya sebagai upaya intimidatif atau bahkan tindak subversif, tetapi lebih kepada menjaga kewarasan. Satu kesadaran untuk menghindarkan diri dari ketololan hakiki.
“By the way, ada yang bisa kasih tau awak, kenapa, lah, bapak yang satu itu sukak kali dipuji?” tanya Jontra Polta.
“Dan bawahan-bawahannya, sekarang makin tahu kalok dia memang sukak dipuji,” ujar Idam Marley menimpali. “Makanya orang tu jadi makin sering memuji.”
Leman Dogol mendengus. "Dan akhirnya jadi makin lupa diri. Makin oyong. Makin gak sadar. Cak, lah, kelen pikir. Bisa-bisanya dibilang dia, negara nomor satu yang rakyatnya idop bahagia, adalah negara kita. Dia ngigau atau lagi mimpi, atau cemana? Banyak tu yang bikin kontennya di TikTok. Ada yang sedang makan kesedak. Ada yang lagi jalan tepeleset masuk paret saking tekejotnya. Awak pun ketawak nontonnya. Apa dia nggak pernah tahu kalok ada anak kecil yang bunuh diri cumak gara-gara gak bisa belik buku? Apa dia nggak tahu kalok ada rakyatnya yang pilih cabut dan ganti paspor, jadi warga negara lain? Entah siapa, lah, yang bisikkan ini ke dia. Entah siapa yang mengumbang, dan parahnya, dia percaya.”
“Iya, gak sadar jugak dia kalok udah abis ditokoh-tokohin Donald Trump,” sebut Jontra Polta pula.
“Ditokohin cemana, Jon?” Ucok Morning menimpali.
“Donald Trump tu pebisnis kejam. Entah pun kurasa ada gila-gilanya. Ketua pernah nonton dulu acara dia di tivi? Apa namanya, Dam? Lupa pulak aku.”
“Apprentice.”
“Nah, itu! Dia jadi Si I O di sini. Dia pecat orang gak pakek bekedip mata. Selo aja mukaknya. Padahal yang diputuskan dia itu idop-mati orang.”
“Hubungannya sama bapak itu apa?”
“Trump mo kuasain ekonomi, Ketua. Kuasain politik. Mo bikin Amerika nomor satu lagi. Kalahin Cina. Kalahin Rusia. Untuk itu dia harus pande ceka-ceka, harus pande carik kawan yang bisa dipakek untuk bantu ngelawan Cina dan Rusia. Kita salah satunya yang mo dicekakan dia. Harusnya ini gak gampang. Kita kan udah lama bekawan jugak sama Cina dan Rusia. Tapi rupanya gak perlu kerja keras-keras kali dia. Misinya kelar cumak dengan mengumbang bapak itu.”
“Betul, sekali umbang, langsung kenak jajah kita, Ketua,” sergah Leman Dogol.
“Kenak jajah cemana?”
“Kemarin itu, abis Trump puji-puji bapak itu, ditekenlah perjanjian. Judulnya perjanjian dagang. Isinya, kata bapak itu sama-sama menguntungkan. Padahal kalok dibaca betul-betul, nggak kek gitu. Lebih banyak ruginya dari untungnya.”
“Kau baca rupanya perjanjian itu, Man? Bisa? Di mana bacanya?”
“Bisa, lah. Kan, banyak di internet. Awak bodoh, Ketua, tapi gak bodoh-bodoh kali jugak.”
“Trus, trus.”
“Perjanjian itu gak adil. Lawak-lawak. Ada yang kayak main-main kita pas anak-anak dulu. Ada bos ada anak buah. Kita nurut dia. Kalok bos bekawan sama satu orang, kita jugak harus ikut bekawan. Kalok bos Es Ke Te, kita jugak harus ikut musuhin.”
“Nggak ngerti aku.”
“Kukasih contoh, lah. Kalok Donald Trump, kalok Amerika, misalnya, merajok sama Cina, kita jugak tak boleh bekawan sama Cina. Gak boleh kita jual apa-apa ke sana. Gak boleh belik apa-apa dari sana. Entah-entah pun gak boleh jugak lagi nonton drama Cina.”
“Oalah, sampek gitu kali, ya.”
“Ada lagi sebenarnya yang lebih gawat, Ketua,” ucap Idam Marley menimpali.
“Alamak! Ada lagi? Kau baca jugak, Dam? Apa yang lebih parah?”
“Daftar belanja.”
"Daftar belanja? Kek kita mo belanja ke pajak, gitu?”
“Beda, Ketua. Kalok ke pajak, kan, bebas kita mo belik apa aja. Mo belik pete, mo belik jengkol, bebas. Trus bebas belik di lapak mana aja. Ini nggak. Barang yang kita belik cumak barang punya dia aja. Bukan sekilo dua kilo, tapi miliaran. Duit orang tu, ya. Duit dollar. Tahu kelen apa yang harus kita belik?”
“Apa, Dam? Pesawat?” tanya Jontra Polta.
“Iya, itu satu. Pesawat, lima puluh bijik. Boeing. Masih oke, lah, kalok pesawat. Yang parahnya bukan ini. Yang parah, kita harus belik kedele, belik beras, jagung, jeruk, anggur, trus kapas, gandum dari orang tu. Apalagi... Hmmm... Daging jugak. Daging sapi.”
"Sapi? Oh, mungkin dari sini angka yang sembilan belas ribu tadi, ya.”
“Mungkin jugak, lah, Ketua. Tapi maksudku, kalok kedele, beras, jagung, jugak harus dibelik dari orang tu, cemanalah lagi petani kita. Apa gak makin tecekek. Capek-capek nanam, abis modal, pas mo dijual di pajak udah banyak barang imporan. Rusak, kan?”
“Bukan rusak lagi, Mak Dam," seru Leman Dogol. "Udah rusak parah kali. Memang salah pilih keknya kita ini.”
“Hush! Jaga mulut kau, Man. Lain kali kalok mo ngomong gitu kau tengok-tengok dulu kanan kiri. Hati-hati!”
“Ah! Selo aja, Ketua. Kita-kita, nya, di sini. Gak usah pala takut kali”
Dua pengunjung yang membawa nasi bungkus sendiri tadi memang sudah pergi. Hanya mereka berempat, ditambah Ocik Nensi yang belum lama tiba di kedai membawa bungkusan berisi bubur kacang hijau dan kue-kue takjil yang tak habis disantap dari masjid
“Bukan takut, Man! Kita menjaga aja, jangan sampek kita semua di sini jadi ikut kenak bala. Udah, lah, idop susah, dilapor-laporkan pulak. Masih mending kalok kita kek anak U Ge Em itu.”
“Pak Jokowi?”
“Apa, nya? Kok, jadi Jokowi pulak?”
“U Ge Em, kan, Ketua?”
“Gak Roy Suryo sama Si Rismon kau bilang sekalian. Maksudku mahasiswa U Ge Em. Gak ingat aku namanya. Ketua mahasiswanya kalok nggak salah. Kritik-kritik pemerintah, tau-tau diancam mo dilaporkan ke plisi. Trus ada pulak yang bilang, kritik boleh, asal sopan.”
“Gak sopan dia rupanya?”
“Paling nggak, setahuku, dia nggak maki-maki.”
“Jadi kalok gitu, kok, ketua bilang mending? Terancam gol, lho, dia. Harusnya gak mending, lah, Ketua. Prihatin kita.”
“Maksudku, dia dilaporkan, dia jugak infonya diteror, tapi banyak yang bela. Di medsos sampek ribut. Kalok kita cemana? Kau, lah? Siapa kali rupanya kau, Man? Gak ada embel-embelmu. Hari-hari cumak di kedai Tok Awang ini, nya, kerjamu. Siapa yang mo kau harap bela?”
Leman Dogol mengangguk-angguk. Barangkali hampir sepakat juga, sampai Ocik Nensi melontar celetukan tiba-tiba.
“Maju terus, Man! Apa takut, mati tanam! Percuma, lah, sama Hotman Paris kita bekawan!” (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/SKETSA-Bapak-Itu-yang-Dipuji-Kita-yang-Dijajah-Lagi_.jpg)