Berita Medan

Saat Tubuh Harus Berjuang, Tari Artika Pilih Menata Hidup Lewat Usaha Rumahan

Sedikit demi sedikit, ia mencoba menata ulang hidupnya melalui usaha rumahan yang kini menjadi ruang bertahan sekaligus tempatnya memulihkan semangat.

Tayang:
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
Tari Artika Tarigan 

Saat pulang dari rumah sakit, anaknya yang saat itu masih berusia tiga tahun berlari menyambut sambil memeluknya erat.

“Dia bilang ‘Ammi’ sambil lari peluk aku. Saat itu aku kayak kena sambar petir. Aku mikir, kalau aku nyerah, anak ini bakal kehilangan dunianya,” katanya.

Sejak saat itu, anak menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan menjalani pengobatan dan menghadapi kondisi tubuhnya yang berubah.

“Kalau aku lemah, dia gimana? Ayahnya jauh, jadi aku harus terus belajar kuat dan bertahan,” ujarnya.

Perjalanan Tata ternyata belum selesai. Setelah perlahan mencoba menerima kenyataan hidup dengan autoimun anemia aplastik, cobaan lain kembali datang.

Pada November 2025, ia kembali didiagnosis menderita lupus. Kondisinya semakin berat karena disertai pengeroposan tulang hingga membuatnya sempat kesulitan berjalan.

“Pas aku udah mulai menerima keadaan, aku harus kena kenyataan lagi kalau positif lupus. Ditambah lagi aku mengalami keropos tulang dan obat-obatnya enggak semua di-cover BPJS,” katanya.

Vonis lupus membuat Tata kembali jatuh secara mental. Bahkan menurutnya, fase itu terasa lebih berat dibanding saat pertama kali divonis autoimun anemia aplastik.

“Karena waktu itu kondisi kaki susah jalan. Jadi rasanya balik lagi ke awal pertama divonis, bahkan lebih enggak menerima,” ujarnya.

Selain menghadapi kondisi tubuh yang terus naik turun, Tata juga harus berhadapan dengan proses administrasi pengobatan yang melelahkan.

“Tantangannya ya administrasi BPJS yang harus ke sana ke sini dulu, terus harus ninggalin anak dengan tangisannya,” katanya.

Di tengah kondisi kesehatan yang tidak stabil, Tata berusaha mencari cara agar tetap produktif. Ia tidak ingin terus larut dalam kesedihan atau merasa kehilangan arah hidup.

Dari hobi memasak yang selama ini ia sukai, Tata mulai mencoba berjualan dari rumah. Awalnya ia hanya iseng mencoba, tetapi ternyata dagangannya mendapat respons baik dari pelanggan.

“Awalnya cuma mikir biar ada pemasukan. Karena dari dulu punya uang sendiri, jadi pas enggak kerja dan cuma menerima uang dari suami rasanya hampa,” katanya sambil tertawa kecil.

“Terus iseng coba jualan, eh ternyata malah laris. Jadi makin semangat,” lanjutnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved