Medan Terkini

Kisah Nuruliyah, Jemaah Calon Haji Asal Medan yang Kumpulkan Recehan Kedai Kecil selama 13 Tahun

Bertahun-tahun lamanya, Nuruliyah (68) menyimpan uang receh dari hasil jualan di kedai kecil miliknya.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
CERITA HAJI - Nuruliyah, calon jemaah haji Kloter 07 Embarkasi Medan, saat berada di Asrama Haji Medan, Selasa (28/4/2026). Setelah menunggu sejak 2013, warga Medan itu tahun ini akhirnya berangkat ke Tanah Suci bersama suami. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bertahun-tahun lamanya, Nuruliyah (68) menyimpan uang receh dari hasil jualan di kedai kecil miliknya. Kadang jumlahnya tak seberapa, kadang hanya sisa dari kebutuhan harian.

Namun uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit itu kini berubah menjadi tiket perjalanan menuju Tanah Suci.

Di Asrama Haji Medan, Nuruliyah tampak tenang menanti keberangkatan bersama sang suami.

Calon jemaah haji asal Medan itu akhirnya mewujudkan impian berhaji setelah perjuangan panjang yang dimulai dari usaha sederhana di rumah.

Bukan pengusaha besar, bukan pula pegawai bergaji tetap. Sehari-hari, Nuruliyah membuka kedai kecil-kecilan dan menerima jahit kodian. Dari penghasilan itulah ia mulai menabung.

“Ya, kira-kira 10 tahun nabung dulu baru bisa mendaftar. Baru nabung lagi 13 tahun baru bisa berangkat tahun ini,” ujarnya.

Ia tak pernah menunggu punya uang banyak untuk mulai menyimpan. Jika ada hasil jualan, sebagian disisihkan. Jika ada upah menjahit, masuk tabungan. Sedikit demi sedikit, tanpa terasa, jumlahnya terus bertambah.

“Kadang ada sedikit, disimpan sedikit. Lama-lama terkumpul. Gak tahu saya, tiba-tiba udah ada,” katanya sambil tersenyum.

Tak sedikit tetangga yang ikut merasa haru dan heran dengan kegigihan ibu 5 anak tersebut.

Dari mulai menyekolahkan anak-anak. Hingga berhasil menghantarkannya menunaikan rukun islam kelima tersebut.

Suaminya pun ikut berjuang dengan pekerjaan serabutan. Kadang menarik becak, kadang mengambil pekerjaan lain yang tersedia. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan, tetapi tak pernah kekurangan harapan.

“Bapak juga angkut kardus dan bahan rongsokan dari satu toko ke toko lain,” jelasnya dengan nada sedikit bergetar.

Nuruliyah menjawab sederhana dengan pertanyaan tetangga, bagaimana dirinya bisa mewujudkan itu semua.

“Semua atas izin Allah juga,” ucapnya singkat.

Bagi Nuruliyah, rezeki bukan soal besar kecilnya penghasilan, tetapi soal keberkahan dan kesungguhan menyisihkan apa yang ada.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved