TRIBUN WIKI

Profil Said Aqil Siroj, Eks Ketum PBNU yang Sekarang Jadi Komisaris Utama PT KAI, Hartanya Rp 45 M

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj adalah mantan Ketua Umum PBNU yang sekarang menjabat Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia.

Tayang:
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Instagram @saidaqilsiroj53
KOMUT KAI- Said Aqil Siroj, mantan Ketua Umum PBNU kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT KAI. 

Ringkasan Berita:

 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Sosok dan profil Said Aqil Siroj mencuri perhatian warganet.

Ia adalah mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) dua periode, yakni 2010–2015 dan 2015–2020.

Setelah tak aktif di PBNU, Said Aqil Siroj sempat dipercaya menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat Presiden (Wantimpres) Indonesia.

Baca juga: Profil Rafid Ihsan Lubis, Pemilik Yayasan Daycare Aresha Seorang Hakim, Harta Kekayaan Rp 301 Juta

Kini, ia justru menyandang posisi Komisaris Utama atau Komut PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Setelah kecelakaan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter di Bekasi, Said Aqil Siroj muncul.

Ia datang menjenguk korban kecelakaan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi, Jawa Barat pada Selasa (28/4/2026).

Dari sana, diketahui bahwa Said Aqil Siroj ini menjabat sebagai Komisaris Utama PT KAI.

Baca juga: Profil Natasya Ulibasa Palasa, Putri Indonesia Sumatera Utara Berpengalaman di UNICEF

Lantas, seperti apa profil dan perjalanan kariernya?

Mantan Ketua Umum PBNU/Anggota BPIP Prof KH Said Aqil Sirojd
Mantan Ketua Umum PBNU/Anggota BPIP Prof KH Said Aqil Sirojd (BPIP)

Profil Said Aqil Siroj

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, yang juga kerap ditulis Said Aqil Siroj, merupakan salah satu tokoh ulama Indonesia yang memiliki pengaruh besar di tanah air.

Lahir di Desa Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, pada 3 Juli 1953, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang kuat.

Baca juga: Profil Nazlatan Ukhra Kasuba, Anak Koruptor Disorot Usai Kritik Gubernur Malut Sherly Tjoanda

Ayahnya, KH. Aqil Siradj, adalah pendiri Pondok Pesantren Kempek, sehingga sejak kecil Said Aqil telah akrab dengan tradisi keilmuan Islam yang kental.

Latar belakang ini membentuk karakter dan pandangan keagamaannya yang khas, mengakar pada tradisi, namun tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari pesantren, termasuk Kempek Cirebon, Lirboyo Kediri, hingga Krapyak Yogyakarta.

Baca juga: Profil Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, Mantan Rektor Unimed Meninggal Dunia pada Usia 64 Tahun

Dari sana, ia kemudian melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah, termasuk di Mekkah.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved