Banjir dan Longsor di Sumut

Korban Jiwa Banjir Medan akan Terima Santunan Kemensos, Keluarga Harap Segera

Ia menjelaskan, Pemko Medan sudah mengajukan data korban jiwa sesuai mekanisme yang diatur dalam Surat Edaran Kemensos.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Dedy Kurniawan
MENGUNGSI - Warga Medan Utara yang menjadi korban banjir di Medan saat berada di pengungsian karena rumah mereka tenggelam tanggal 27-30 November 2025. Kecamatan Medan Helvetia menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling berat di mana tumpukan sampah pascabanjir menjadi persoalan terbesar. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Di tengah duka mendalam keluarga korban banjir yang melanda Kota Medan pada 27–30 November 2025, pemerintah memastikan bahwa santunan bagi para korban jiwa segera diproses oleh Kementerian Sosial (Kemensos) RI.

Kepastian itu disampaikan Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Khoiruddin Rangkuti.

Ia menjelaskan, Pemko Medan sudah mengajukan data korban jiwa sesuai mekanisme yang diatur dalam Surat Edaran Kemensos.

“Pemko Medan sudah mengajukan santunan ke Kemensos RI bagi korban jiwa akibat banjir. Setelah diajukan, Kemensos akan memprosesnya,” ujar Khoiruddin, Kamis (4/12/2025)

Menurut data sementara yang dihimpun Dinas Sosial, terdapat 7 warga yang meninggal dunia dalam banjir besar yang memporak-porandakan puluhan ribu rumah tersebut.

Para korban berasal dari berbagai kecamatan yang menjadi titik banjir terparah, termasuk Marelan, Medan Labuhan, dan Medan Helvetia.

“Sesuai surat edaran, Kemensos menunggu data resmi dari daerah untuk diproses. Data itu sudah kita kirimkan,” jelasnya.

85 Ribu Warga Terdampak Banjir

Selain korban jiwa, banjir juga memaksa sekitar 85 ribu warga bertahan di rumah tergenang ataupun mengungsi.

Dinas Sosial menyebutkan seluruh warga terdampak sudah mendapatkan bantuan pangan, mulai dari nasi bungkus, minyak makan, hingga paket sembako.

“Untuk bantuan warga terdampak, kita sudah salurkan hingga ke tiap kecamatan,” kata Khoiruddin.

Duka Keluarga Korban

Di Kelurahan Terjun, Marelan, suasana haru masih terasa di rumah keluarga salah satu korban. Seorang ibu paruh baya terlihat memandangi foto anaknya yang menjadi salah satu dari tujuh korban meninggal.

“Kami tak butuh banyak, hanya berharap proses bantuan cepat selesai,” ujarnya lirih.

Harapan serupa juga datang dari keluarga korban lainnya. Mereka hanya ingin ada sedikit keringanan dari pemerintah untuk meringankan beban setelah kehilangan orang tercinta.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved