Banjir dan Longsor di Sumut

Usai Banjir, Masalah Sampah dan Kesehatan Butuh Perhatian, Warga Medan Utara Masih Lumpuh

Air mulai surut, namun luka yang ditinggalkan banjir masih terasa berat bagi warga di kawasan Terjun, Marelan, Labuhan, hingga Helvetia.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
Tribunnews.com/Dedy Kurniawan
Warga Medan Utara masih berjuang bangkit dari bencana banjir parah sepanjang sejarah dengan tinggi seleher, bahkan di Labuhan hingga hampir 3 meter, November 2025.  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- 4 Hari terendam banjir, sebagian warga di Medan Utara masih mengungsi. Rumah-rumah masih berlumur dan penuh sampah, Senin (1/12/2025). 

Air mulai surut, namun luka yang ditinggalkan banjir masih terasa berat bagi warga di kawasan Terjun, Marelan, Labuhan, hingga Helvetia.

Medan Utara perlahan seolah kembali hidup, tapi di sudut-sudut pemukiman, bau sampah busuk, lalat bercampur lumpur masih menjadi napas harian yang harus ditelan penduduk.

Di terjun, Kompleks Griya Bestari Permai, pengumuman dari musala terdengar.

Agar sampah-sampah disiapkan untuk dijemput petugas kebersihan yang akan datang dengan truk. 

"Sampah-sampah yang di rumah dibawa keluar agar diangkut petugas kebersihan yang akan datang. Mohon partisipasi memberikan Rp 10.000, jika lebih, lebih baik. Mohon partisipasi ke petugasnya," kata seorang tokoh kompleks dengan microphone musala. 

Di Gang-gang kecil, tumpukan kasur basah, pakaian penuh lumpur, dan perabotan hancur menumpuk menunggu diangkut.

Namun hari terus berjalan tanpa kepastian kapan semua itu akan dibersihkan. 

Hingga hari kelima bencana ini di Medan Utara, tak ada pihak pemerintah datang melihat warganya yang terdampak.

Bahkan sekadar menyapa bagaimana keadaan warga yang selama ini membayar pajak. 

Sementara itu, genangan kecil yang tersisa berubah menjadi sarang nyamuk, warga waspada, namun apa daya jika obat pembasmi pun belum merata.

Anak-anak mulai batuk. Ada yang demam sejak dua hari lalu. Tubuh-tubuh penuh luka pecahan kayu, kaca, paku. 

Di Terjun, seorang ibu terduduk di depan rumahnya, menatap tungku masak yang tak lagi bisa digunakan.

Tilam yang basah dan lumpur dijemur di tembok-tembok. 

"Air surut, tapi penyakit sepertinya mulai naik. Anak-anak di pengungsian butuh obat, apalagi bayi-bayi," keluhnya pelan sambil memeluk anaknya yang baru kembali dari posko. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved