Banjir dan Longsor di Sumut

4 Hari Terendam Banjir, Warga Terjun Medan Marelan Tanpa Listrik dan Sinyal Provider Hilang

Air banjir yang tak kunjung surut selama empat hari terakhir membuat permukiman warga di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan terisolasi.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Dedy Kurniawan
BANJIR DI MARELAN - Warga di Kelurahan Terjun Marelan merasakan gelap gulita selama 4 hari bencana banjir sejak Rabu hingga Sabtu (29/11/2025). (Tribun-Medan.com/Dedy Kurniawan) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sabtu, 29 November 2025, pukul 19.45 WIB genangan air tak kunjung surut.

Air banjir yang tak kunjung surut selama empat hari terakhir membuat permukiman warga di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, berubah menjadi lorong-lorong yang terisolasi.

Listrik padam total sejak hari pertama banjir Rabu tengah malam, sementara jaringan telkomsel ikut tumbang, membuat warga benar-benar terputus dari dunia luar.

Di lorong-lorong yang biasanya ramai suara anak bermain, kini hanya terdengar riak air menyapu dinding rumah.

Mereka sesekali kembali ke rumah mengambil barang yang bisa dipakai, melindungi dari dingin. 

Malam menjadi gelap gulita. Tanpa listrik, tanpa sinyal, warga melewati hari demi hari hanya mengandalkan senter seadanya dan lilin yang makin menipis. Kedai-kedai kehabisan stok pangan, lilin. 

“Sudah empat hari kami seperti ini. HP mati, sinyal hilang. Kami bahkan tak tahu sampai kapan. Kami gak tahu di luar Marelan, saudara di luar gak tahu,” Icha (43), warga setempat yang rumahnya sempat tenggelam seleher orang dewasa. 

Ia bercerita, suaminya terpaksa mendayung sterofoam agar bisa mencari air bersih dan makanan. Sesekali membawa pakaian basah untuk dikeringkan, dipakai esok hari. 

Banjir besar yang datang mendadak pada Rabu malam disebut berasal dari intensitas hujan ekstrem sejak awal pekan. Dan meluapnya Sungai Bedera, Sungai Deli, dan banjir kiriman dari Titi papan. 

Air naik cepat dalam hitungan jam, memaksa warga menyelamatkan diri hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Hingga hari keempat, sebagian besar rumah masih terendam, berselimut gelita pekat. 

Tidak hanya logistik yang menipis, ketiadaan listrik membuat kulkas dan pompa air tidak berfungsi. Sementara kebutuhan obat-obatan untuk lansia dan anak-anak turut menjadi keluhan utama.

"Kalau ada listrik setidaknya bisa lebih hangat, dan beraktivitas. Masalah keamanan juga kami khawatir. Ada maling dan pencurian, hingga penjarahan rumah warga yang mengungsi," kata Madan. 

Jaringan telekomunikasi Telkomsel yang disebut padam sejak hari kedua semakin memperparah situasi, warga tak bisa menghubungi keluarga maupun layanan darurat.

“Kalau ada orang sakit, kami harus ke ujung jalan besar dulu, itu pun kalau masih bisa lewat. Sinyal hilang total. Kami benar-benar merasa sendirian,” ucap Roni (28), yang setiap malam berjaga demi mengantisipasi pencurian di tengah situasi gelap total.

Beberapa warga mengaku melihat relawan mulai masuk ke wilayah terdekat, namun akses menuju inti permukiman masih sulit ditembus.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved