Kesehatan
Penyakit Scabies dan Leptospirosis Mengintai Warga di saat Banjir, Ini Gejalanya
Dua penyakit yang sering menyerang masyarakat saat banjir adalah scabies dan leptospirosis. Perhatikan gejalanya.
Ringkasan Berita:
- Masyarakat diminta mewaspadai penyakit saat banjir seperti scabies dan leptospirosis
- Scabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau mikroskopis bernama Sarcoptes scabiei hominis
- Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira
TRIBUN-MEDAN.COM,- Dokter spesialis anak RS Melinda, dr Tety Yuniaty SpA (K) pernah menyampaikan bahwa di saat banjir, ada beberapa penyakit yang bisa menyerang masyarakat.
Beberapa penyakit saat banjir yang bisa menyerang masyarakat yakni scabies dan leptospirosis.
Scabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau mikroskopis bernama Sarcoptes scabiei hominis.
Baca juga: Waspadai Penyakit saat Banjir, Ada yang Menular Lewat Air dan Hewan Pembawa Bakteri
Tungau ini menggali ke dalam lapisan atas kulit untuk bertelur dan hidup, yang menyebabkan rasa gatal hebat, terutama pada malam hari.
Gejala utama skabies meliputi gatal intens, ruam merah yang tampak seperti jerawat atau benjolan kecil, serta garis-garis halus di bawah kulit akibat terowongan yang dibuat oleh tungau tersebut.
Penyakit ini mudah menular melalui kontak kulit langsung dengan orang yang terinfeksi atau melalui kontak dengan barang seperti pakaian, bedcover, atau handuk yang telah terkontaminasi.
Baca juga: 26 Kawasan di Sumut Terdampak Siklon Senyar, BMKG: Masih Berpotensi Hujan Lebat
Skabies biasanya muncul di area kulit yang berlipat seperti sela-sela jari, pergelangan tangan, ketiak, pinggang, dan area genital.
Penanganan skabies melibatkan penggunaan obat topikal khusus untuk membunuh tungau serta kebersihan lingkungan dan pribadi untuk mencegah penularan lebih lanjut.
Jika tidak diobati, skabies dapat menyebabkan infeksi kulit sekunder akibat garukan dan iritasi hebat.
Sedangkan leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira.
Bakteri ini biasanya hidup di ginjal hewan seperti tikus, anjing, sapi, dan babi, dan dikeluarkan melalui urine hewan yang terinfeksi.
Baca juga: Siklon Tropis 97S dan 98S, Akankah Berdampak Bagi Sumatera Utara? Begini Penjelasan BMKG
Manusia dapat tertular leptospirosis melalui kontak langsung dengan air, tanah, atau media lain yang terkontaminasi urine hewan tersebut, terutama jika masuk melalui luka pada kulit atau selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut.
Gejala leptospirosis bisa bermacam-macam, mulai dari yang ringan seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga gejala yang lebih berat seperti kerusakan ginjal, penyakit kuning (jaundice), gagal fungsi organ, dan meningitis.
Karena gejalanya sering mirip flu, penyakit ini kadang sulit dikenali pada tahap awal. Jika tidak ditangani dengan tepat, leptospirosis bisa berakibat fatal.
Baca juga: Peringatan Dini BMKG Tapsel dan Tapteng Masih Hujan, Air di Jembatan Trikora Batangtoru Terus Meluap
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ilustrasi-keluarga-anti-virus.jpg)