Membaca Polarisasi Suara Pemilih, Menakar Khidmah dan Menolak Politisasi Muktamar NU 2026

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan bulan Agustus mendatang, suhu geopolitik internal jam’iyah mulai menghangat

Tayang:
Editor: iin sholihin
TRIBUN MEDAN
Dosen UIN Sumatera Utara/ Katib PWNU Sumatera Utara Dr H Abrar M Dawud Faza MA 

Keterbelahan karakteristik geografis ini secara langsung memengaruhi bagaimana faksi-faksi pendukung para kandidat menyusun strategi pemenangan mereka. Pertarungan antara tokoh-tokoh nasional dari wilayah Indonesia Timur dan Barat dapat memicu polarisasi dukungan yang sangat kentara di antara kedua poros ini.

Di tengah polarisasi geopolitik yang digerakkan oleh elit struktural, muncul gerakan penyeimbang dari poros kultural. Gerakan ini direpresentasikan oleh kiai-kiai muda dan para Gus di wilayah episentrum hijau Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pertemuan-pertemuan strategis seperti silaturahmi komunitas Asparagus (Aspirasi Para Gus) di Pondok Tinggi Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, serta forum-forum di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, menunjukkan adanya keresahan sekaligus harapan yang mendalam dari rahim asli lahirnya NU: pondok pesantren.

Poros kultural ini mulai menyodorkan nama-nama alternatif seperti KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dari Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dari Tebuireng, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dari Magelang, dan KH Said Aqil Siradj (Kyai Said) dari Banten.

Dorongan terhadap figur-figur pesantren murni ini bukanlah tanpa alasan, adanya semacam kerinduan kolektif dari akar rumput akan kembalinya PBNU pada khittah kepemimpinan yang berjarak sama dengan semua kekuatan politik, serta fokus pada penguatan ekonomi pesantren dan perlindungan terhadap moralitas publik.

Bahaya Laten Politisasi : Aspirasi Pesantren dan Akar Rumput

Tantangan paling krusial dan paling berat dalam setiap penyelenggaraan Muktamar NU adalah bagaimana mengisolasi forum suci ini dari intervensi politik praktis luar.

Di mana-mana menggema peringatan agar momentum lima tahunan ini jangan pernah dijadikan sebagai “batu loncatan politik” menuju Pemilu dan Pilpres 2029 merupakan sebuah kebenaran aksiomatis yang wajib diamini oleh seluruh warga Nahdliyin.

Pengalaman sejarah berulang kali membuktikan bahwa ketika energi NU terkuras untuk melayani syahwat politik kekuasaan jangka pendek, tugas-tugas utama organisasi dalam bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat kerap kali terbengkalai.

Sinyalemen mengenai bahaya politisasi ini terasa sangat nyata jika dikaitkan dengan matriks geopolitik suara. Faksi-faksi politik nasional luar sangat paham bahwa menguasai PWNU Barat yang cair atau mengunci PWNU Timur yang solid adalah jalan pintas untuk memobilisasi massa riil menjelang 2029.

Karena itu seruan dari pesantren dan akar rumput agar semua kandidat menjaga tata krama pesantren, menolak intrik politik, dan menghindari kampanye hitam harus dijadikan pedoman utama. 

Kompetisi memperebutkan posisi Ketua Umum harus dikembalikan pada relnya yang asli: sebuah perlombaan dalam kebaikan (fastabiqul khairat) untuk menawarkan visi khidmah terbaik bagi umat, bukan arena transaksi jual-beli suara antar-wilayah yang merusak moralitas jam'iyah.

Muktamar yang bersih dari intrik politik akan melahirkan kepemimpinan yang memiliki legitimasi moral yang tinggi. Sebaliknya, jika proses suksesi ini dinodai oleh intervensi eksternal, politik uang, dan eksploitasi sentiment-sentimen kedaerahan, PBNU pasca-Muktamar 2026 bisa kehilangan otoritas spiritualnya di hadapan Nahdliyyin. Maka ketika otoritas spiritual itu runtuh, NU tidak lagi didengar fatwanya dan kehilangan perannya sebagai jangkar moral bangsa di tengah situasi moralitas sosial yang kian mengalami degradasi. Wallahu a’lam. (*)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved